Sikap Etika Kristen Terhadap Adat-Kebudayaan

       


    Firman Tuhan berkata segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu didalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap Syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita Kol 3:17, kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat 22:37). Tujuan Allah menyelamatkan kita adalah agar kita dapat memuliakan atau mengasihi Allah dengan segenap hidup. Berarti hidup berkenan kepada Allah didalam seluruh aspek kehidupan kita, termasuk dalam Adat Kebudayaan kita (Band Yoh 15:21). Apakah semua adat Kebudayaan itu baik atau tidak baik? Ada berbagai jawaban dan sikap terhadap adat-kebudayaan. Bagaimanakah sikap orang Kristen terhadap adat-kebudayaan? Tentu tidak dapat dipisahkan dengan bagaimanakah sikap etika kristen atau Firman Tuhan terhadap adat-Kebudayaan. Inilah yang akan kita bahas, agar kita mempunyai sikap yang benar, sehingga kita dapat memuliakan Allah dengan hidup dan menjadi garam dan terang di dalam kehidupan sehari-hari. 

    a. Perngertian Adat-Kebudayaan

        Kata “adat” dari bahasa arab “ada” artinya “datang kembali” atau “adat  kebiasan”. Kata kebiasaan dari kata sanksekerta “abhaysa”. Jadi adat adalah norma yang sudah terjadi berulang-ulang  yang menjadi ikatan atau aturan yang tidak dapat dipisahkan oleh suatu kelompok masyarakat atau pribadi. Namun bagi suku batak “adat” tidak sama dengan kebudayaan dan adat kebiasaan, bagi suku batak adat adalah hukum yang mengatur hubungan, status, hak, tanggung jawab, sistem nilai dan norma dari kelakuan terhadap satu dengan yang lain (kerabat), yang didasarkan pada sistem kekerabatan “dalihan na tolu”. Adat berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan mulai dari kandungan, kelahiran sampai pada kematian. Maka adat bagi suku batak adalah merupakan sumber etika hidup. Sifat adat adalah mengikat, selain adat adalah “sisolisoli”, adat pemahaman yang disimpulkan dengan ungkapan; “pantun hangoluan tois hamatean”. Ketaatan terhadap adat membawa keberuntungan dan ketidaktaatan akan mengakibatkan ketidak beruntungan. Bagi yang mengabaikan tuntutan adat akan langsung mendapat hukuman dengan julukan “naso maradat”, dan itu dianggap suatu penghinaan yang lebih besar daripada julukan “naso maragama” .

b. Manusia Adat-Kebudayaan

    Dari pengertian adat-kebudayaan dan sebagai ciptaan manusia, maka adat  kebudayaan tidak dapat dipisahkan dengan manusia. Adat kebudayaan tidak hanya menyatakan identitas tetapi adat-kebudayaan itu adalah “kita”. Kalau kita belajar tentang adat-kebudayaan satu suku kita belajar orangnya dan sebaliknya. Demikian juga bagi suku batak, adat tidak hanya merupakan identitas tetapi “orang batak menyatu dengan adatnya”  

c. Hubungan Adat-Kebudayaan dengan kepercayaan atau agama

    Keyakinan adalah merupakan inti atau hakekat dari adat-kebudayaan dan adat- kebudayaan adalah bentuk ungkapan manusia yang didalamnya keyakinan atau agama diungkapkan dan keduanya saling mempengaruhi itulah yang mengakibatkan bahwa adat-kebudayaan yang kita warisi dari nenek moyang mempunyai hubungan dengan kepercayaan nenek moyang. Adat kepercayaan suku batak dulu bahwa adat diberikan oleh mula jadi nabolon kepada manusia dan menanamkan adat kedalam hati mereka yang disimpulkan dalam tiga kata “tongka; unang; dan Naso jadi”. Itulah sebabnya data terus dipelihara turun tenurun, seperti umpama: “ompu raja dijolo martungkot sialagundi”, adat nadipungka ni omputa najolo siihuthonon ni na umpudi”. Dan ada juga keyakinan jika ditaati atau tidak mempunyai konsekwensi yang bersifat ilahi. 

d. Dasar Teologi Adat-Kebudayaan

 Allah memberikan mandat budaya kepada manusia (kej 1:18; Kej 2:15).  Manusia harus mengembalikan “cara=budaya” untuk melaksanakan; menaati perintah Allah untuk mengusahakan, menguasai, memelihara Alam ciptaan Alla. Manusia mengembalikan adat kebudayaan dalam rangka menaati perintah  Allah, berarti harus dalam rangka memuliakan Allah 

  Allah berkomunikasi dengan manusia melalui “bahasa” yang dimengerti  manusia, sehingga manusia dapat meresponi Allah, berarti melalui adat kebudayaan, karena adat-kebudayaan tidak dapat dipisahkan dengan bahasa.

  Kita memuliakan Allah dengan “lidah” berarti dengan “bahasa”, berarti  dengan adat-kebudayaan kita. Kita juga harus mengasihi Allah dengan segenap hidup berarti juga dengan “adat kebudayaan kita” 

e. Sikap Etika Kristen Terhadap Adat-Kebudayaan
Sikap orang Kristen terhadap adat-kebudayaan
1. Sikap antagonis (menentang) Tidak mengakui adanya hubungan iman kristen dengan adat-kebudayaan. Orang percaya sudah dipanggil dari kegelapan dan masuk kedalam terang kristus (kol 1: 13), maka semua yang termasuk dalam kegelapan harus ditinggalkan termasuk adat-kebudayaan.
2. Sikap akomodasi (menghargai) Nilai-nilai adat-kebudayaan dipahami tidak bertentangan dengan iman kristen. Maka nilai-nilai dalam adat-kebudayaan diakomoder dan digunakan untuk menjelaskan iman kristen
3. Sikap dominasi (menguasai)
Hubungan iman kristen dengan adat-kebudayaan diposisikan sebagai dua nilai yang saling melengkapi namun iman kristen (Kristus) berada diatas adat-kebudayaan. Sikap etika kristen (firman Tuhan) terhadap adat-kebudayaan untuk mengerti bagaimana sikap etika Kristen (kita) terhadap adat-kebudayaan, kita perlu memahami tujuan Allah menyelamatkan manusia didalam dan melalui karya Tuhan Yesus Kristus; agar kita dapat memuliakan Tuhan dengan segenap hati. Untuk itu manusia harus mengalami “pembaharuan hidup”. Kristus datang tidak  membawa adat-kebudayaan yang baru tetapi untuk memperbaharui adat-kebudayaan, melalui manusia yang sudah mengalami pembaharuan. Karena adat-kebudayaan adalah ciptaan manusia. Maka sikap etika kristen (kita) terhadap adat-kebudayaan adalah sikap transformatif (memperbarui) didalam pengertian.
 Mengingat adat-kebudayaan adalah ciptaan manusia yang berdosa, tentu ada unsur positif dan negatif. Maka kristus menguduskan dan meneguhkan unsur positif dari adat-kebudayaan agar dapat dipergunakan untuk melayani Allah dan sesama manusia.
 Memperbaharui unsur negatif dari adat-kebudayaan didalam pengertian
1. Mengubah arah (redirected), bukan kepada Allah yang lain lagi melainkan kepada Allah
2. Mengubah isi (regenerated), semua isi adat-kebudayaan yang mengandung kepercayaan yang lama \ dirubah dan diberi isi yang baru yang sesuai dengan firman Tuhan.
3. Menolak (rejected), dimana adat-kebudayaan yang tidak dapat ditoleransi dari iman kristen harus ditolak atau ditinggalkan  Etika kristen adalah suatu barang ilmu Teologi yang memberikan refleksi dan  jawaban pertanyaan apan yang harus saya lakukan sebagai saya seorang yang percaya di dalam Yesus Kristus dan sebagai saya seorang anggota gereja-Nya. Kristus harus “at home” didalam adat-kebudayaan artinya adat-kebudayaan harus sesuai dengan kehendak Allah atau Kristus. Berarti kita memuliakan Allah dengan adat-kebudayaan kita. Dengan demikian kita menajadi garam dan terang dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya dalam menghidupi adat-kebudayaan kita.

Kesimpulan
Agar kita dapat mengubah adat-kebudayaan kita yang tidak dapat berkenan kepada Allah kita harus mengingat
1. Adat kebudayaan adalah ciptaan manusia.  Yang berdosa, sudah pasti tidak sempurna dan ada unsur unsur yang bertentangan dengan Firman Tuhan.
2. Kita harus mengalami “pembaharuan hidup”karena dengan pembaharuan hidup kita dapat membaharui adat-kebudayaan kita. 
    Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya. Bangsa ini memuliakan aku dengan bibirnya padahal hatinya jauh daripadaku. Percuma mereka beribadah kepadaku. Sedangkan ajaran yang mereka ajarkan adalah perintah manusia. Mat 15:8-9. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya 2 Tim 3:5. 

Posting Komentar untuk "Sikap Etika Kristen Terhadap Adat-Kebudayaan"