BAHAN JAMITA MINGGU PALMARUM
"Yesus Kristus Adalah Tuhan"
Filipi 2:5-11
I. Pendahuluan
Minggu Palmarum membawa kita pada sebuah momen yang penuh kontras. Di satu sisi, ada sorak-sorai kerumunan orang yang menyambut Yesus masuk ke Yerusalem dengan melambai-lambaikan daun palem dan menghamparkan pakaian mereka di jalan. Mereka berteriak "Hosana!" yang berarti "Selamatkanlah kami!" Namun di sisi lain, Yesus yang masuk itu bukanlah raja yang datang dengan kereta perang dan bala tentara. Ia datang menunggang seekor keledai muda lambang kerendahan hati, bukan kekuasaan militer. Inilah paradoks terbesar yang pernah ada: Raja segala raja memilih jalan yang paling rendah untuk menyatakan kemuliaan-Nya yang paling tinggi. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi membuka tabir teologia yang dalam tentang siapa sesungguhnya Yesus yang masuk ke Yerusalem itu. Perikop Filipi 2:5-11 yang kita renungkan hari ini sering disebut para ahli sebagai hymne Kristus sebuah nyanyian pujian kuno yang kemungkinan besar sudah dinyanyikan oleh jemaat mula-mula dalam ibadah mereka. Di balik bait-bait yang indah itu tersimpan kebenaran yang mengguncang sekaligus menenangkan: Yesus Kristus adalah Tuhan bukan karena Ia merebut kemuliaan itu, melainkan karena Ia justru melepaskannya.
II. Pembahasan
Paulus membuka dengan pernyataan yang sangat berani: Kristus Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan." Kata "rupa" di sini dalam bahasa Yunani adalah morphe bukan sekadar penampilan luar, melainkan hakikat yang paling dalam, esensi sejati dari sesuatu. Artinya, Paulus sedang berkata bahwa sebelum Ia menjadi manusia, Yesus sudah ada dalam hakikat yang sepenuhnya ilahi, setara dengan Allah dalam segala kemuliaan, kekuasaan, dan keagungan-Nya yang kekal. Namun yang membuat hati kita berhenti sejenak adalah apa yang Ia pilih untuk lakukan dengan kemuliaan itu. Ia tidak menggenggamnya erat-erat. Ia tidak mempertahankannya sebagai sesuatu yang tidak boleh dilepaskan. Dalam bahasa Yunani, kata yang digunakan Paulus adalah harpagmon sesuatu yang dirampas dan dipertahankan mati-matian. Yesus tidak memperlakukan kesetaraan-Nya dengan Allah seperti itu. Ia melepaskannya bukan karena dipaksa, bukan karena dirampas dari-Nya, melainkan karena Ia sendiri yang memilih demikian. Inilah kasih yang paling murni: kasih yang tidak menggenggam, kasih yang memberi diri sepenuhnya.
Paulus lalu menggunakan kata yang sangat kuat: ekenosen Ia mengosongkan diri-Nya. Dari sinilah lahir istilah teologia kenosis, yang berbicara tentang pengosongan diri Kristus ketika Ia mengambil rupa seorang hamba. Namun kita perlu memahami dengan benar apa yang dimaksud "mengosongkan diri" di sini. Yesus tidak berhenti menjadi Allah ketika Ia menjadi manusia. Ia tidak menanggalkan keilahian-Nya seperti menanggalkan jubah. Yang Ia lepaskan adalah hak-hak istimewa yang melekat pada keilahian-Nya kemudahan, kemuliaan yang tampak, kehormatan yang layak Ia terima. Ia menukarnya dengan keterbatasan manusia, dengan kelemahan tubuh, dengan lapar dan haus dan lelah, dengan penghinaan dan penolakan. Dan Paulus berkata, Ia tidak hanya menjadi manusia biasa Ia mengambil rupa seorang hamba. Dalam dunia Romawi, seorang hamba (doulos) adalah manusia yang paling tidak memiliki hak apa pun. Tidak ada yang lebih rendah dari itu dalam hierarki sosial zaman itu. Yesus, yang di surga dilayani oleh seluruh bala tentara surgawi, memilih untuk hadir di bumi sebagai pelayan. Ia yang mencuci kaki murid-murid-Nya malam sebelum penyaliban itu adalah wujud nyata dari apa yang Paulus tuliskan di sini. Pengosongan diri-Nya bukan sekadar doktrin abstrak ia nyata, ia teraba, ia terlihat dalam setiap tindakan Yesus selama pelayanan-Nya di bumi.
Paulus kemudian membawa kita pada titik terendah dari perjalanan pengosongan diri Kristus: "taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." Tidak ada yang lebih hina dari kematian di kayu salib dalam konteks budaya Yahudi dan Romawi pada waktu itu. Bagi orang Yahudi, orang yang mati tergantung di kayu adalah orang yang terkutuk (Ulangan 21:23). Bagi orang Romawi, salib adalah hukuman paling rendah dan paling memalukan, yang hanya diperuntukkan bagi penjahat kelas bawah dan budak. Tidak ada warga negara Romawi yang dihukum salib. Salib adalah simbol aib total. Namun justru di situlah Yesus memilih untuk mati. Bukan karena Ia tidak punya pilihan lain Getsemani sudah membuktikan bahwa Ia bergumul dengan pilihan itu. Tetapi karena ketaatan-Nya kepada Bapa membawa-Nya tepat ke sana. Taat sampai mati ketaatan yang tidak berhenti di tengah jalan ketika mulai terasa terlalu berat, ketaatan yang tidak bernegosiasi ketika harganya terlalu tinggi, ketaatan yang sempurna dan tuntas. Inilah yang membedakan Yesus dari semua tokoh agama manapun dalam sejarah manusia: Ia bukan sekadar mengajarkan jalan kebenaran Ia menjadi jalan itu, bahkan dengan nyawa-Nya sendiri.
Setelah menggambarkan kedalaman pengosongan dan kerendahan diri Kristus, Paulus tiba-tiba membalik arah dengan sebuah kata kecil yang penuh kekuatan: "Itulah sebabnya..."atau dalam beberapa terjemahan, "Karena itu..." Ada hubungan sebab-akibat yang sangat penting di sini. Karena Yesus merendahkan diri-Nya sedemikian rupa, karena Ia memilih jalan taat yang paling dalam, karena itulah Allah sangat meninggikan Dia. Peninggian itu bukan hadiah yang terpisah dari penderitaan peninggian itu adalah respons Allah terhadap ketaatan yang sempurna. Allah mengaruniakan kepada-Nya "nama di atas segala nama" dan dalam konteks Perjanjian Lama yang Paulus sangat pahami, nama yang paling tinggi adalah nama YHWH, nama Allah sendiri yang dinyatakan kepada Musa di semak yang menyala. Paulus sedang mengatakan sesuatu yang luar biasa: Yesus yang disalib dan bangkit itu kini menyandang nama dan otoritas yang sama dengan Allah Bapa. Ia bukan hanya seorang nabi besar, bukan hanya guru yang bijaksana, bukan hanya teladan moral yang sempurna. Ia adalah Tuhan dalam pengertian yang paling penuh dan paling mutlak.
Paulus menutup himne ini dengan visi kosmik yang menakjubkan. Suatu hari nanti entah itu di bumi, di bawah bumi, atau di langit setiap lutut akan bertelut dan setiap lidah akan mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan. Ini bukan sekadar keinginan atau harapan Paulus ini adalah kepastian yang dijamin oleh Allah sendiri. Seluruh ciptaan pada akhirnya akan mengakui apa yang sudah menjadi kenyataan sejak kebangkitan: bahwa Ia yang merendahkan diri itulah yang paling tinggi, bahwa Ia yang dihina itulah yang paling mulia, bahwa Ia yang mati itulah yang paling hidup. Pengakuan "Yesus Kristus adalah Tuhan" dalam bahasa Yunani Kyrios Iesous Christos adalah pengakuan iman tertua dalam sejarah Gereja. Di tengah kekaisaran Romawi yang memaksa setiap orang mengakui "Kaisar adalah Tuhan," jemaat mula-mula dengan berani menjawab: "Bukan kaisar, tetapi Yesus Kristuslah yang adalah Tuhan." Pengakuan itu bukan sekadar pernyataan teologia itu adalah pernyataan kesetiaan, pernyataan hidup, yang bagi banyak orang harus dibayar dengan nyawa mereka sendiri.
Paulus mengawali perikop ini dengan sebuah undangan yang sering kita lewatkan begitu saja: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." Seluruh himne tentang pengosongan diri dan kerendahan hati Kristus itu bukan hanya untuk dikagumi dari jauh ia adalah pola hidup yang dipanggil untuk kita teladani. Kita dipanggil untuk menaruh pikiran Kristus cara pandang Kristus, nilai-nilai Kristus, orientasi hati Kristus dalam seluruh kehidupan kita bersama sebagai komunitas orang percaya. Ini berarti Minggu Palmarum bukan hanya perayaan historis tentang Yesus yang masuk ke Yerusalem dua ribu tahun lalu. Ini adalah cermin yang ditaruh di depan wajah kita. Apakah kita, seperti Kristus, bersedia melepaskan hak-hak istimewa kita demi kepentingan sesama? Apakah kita bersedia memilih jalan yang rendah, jalan yang tidak populer, jalan yang mengorbankan kenyamanan diri kita sendiri? Apakah pengakuan kita bahwa "Yesus adalah Tuhan" hanya berhenti di bibir kita pada hari Minggu, ataukah ia mengalir dan mengubah cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita setiap hari?
III.Refleksi Khotbah
Minggu Palmarum mengajak kita untuk melihat Yesus yang sesungguhnya bukan Yesus yang kita ciptakan sesuai keinginan kita, bukan Yesus yang hanya datang untuk memenuhi harapan-harapan duniawi kita, melainkan Yesus yang adalah Tuhan, yang memilih jalan salib bukan karena Ia tidak berkuasa, tetapi justru karena kasih-Nya lebih besar dari kuasa-Nya. Kerumunan yang menyambut Yesus pada hari itu berteriak "Hosana!" selamatkanlah kami. Dan Yesus menjawab teriakan itu bukan dengan pedang, melainkan dengan salib. Bukan dengan kemenangan militer, melainkan dengan pengorbanan yang sempurna.Hari ini, kita yang juga berteriak "Hosana" diundang untuk mengenal lebih dalam siapa yang kita sambut. Ia adalah Tuhan yang merendahkan diri-Nya demi kita. Ia adalah Raja yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Dan justru karena itu, setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku termasuk lutut dan lidah kita hari ini bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah Bapa.

Posting Komentar untuk "Bahan Jamita Minggu Palmarum:Filipi 2:5-11 "Yesus Kristus Adalah Tuhan""