Reformasi Ajaran Keselamatan

a.       Mengapa Reformasi itu perlu?

b.       Poin-Poin Penting Perjuangan Reformasi

Pembentukan ajaran keselamatan pada abad pertengahan berangkat dari keputusan Dekrit Orange 529. Inti dari keputusan dekrit itu adalah keselamatan dimungkinkan dengan kerja sama antara rahmat/anugerah dengan kodrat/kehendak bebas. Dan yang memprakarsai kerja sama itu adalah rahmat/anugerah. Orang dapat mengupayakan keselamatannya dengan bantuan rahmat Allah. Inilah ajaran keselamatan yang berkembang pada abad pertengahan (529-1517).

Mengapa reformasi itu perlu?                                            

Dalam bukunya yang berjudul “Berbagai Aliran di dalam dan di sekitar Gereja”, Jan S. Aritonang menyatakan reformasi itu perlu dilatarbelakangi beberapa faktor:

-        Kerohanian

-        Sosial politik

-        Kebudayaan

-        Ekonomi

Namun pada dasarnya, yang melatarbelakangi terjadinya reformasi adalah:

-        Pergumulan Martin Luther

-        Pergumulan Gereja Katolik Roma

Cerita Pergumulan Martin Luther

Luther masuk biara pada tahun 1905, kemudian 2 tahun berikutnya (1507), ia sudah ditahbiskan menjadi imam. Lalu pada tahun 1510 Luther diangkat menjadi Guru Besar/Dosen di Universitas Wittenberg. Selama di dalam biara, dialah yang paling ketat melakukan aturan-aturan biara, bahkan melewati apa yang telah diaturkan di dalam biara itu. Mengapa demikian?Ada apa dengan Luther? Ternyata Martin Luther memiliki pergumulan. Pergumulannya adalah: “Apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh keselamatan?”. Ternyata Luther khawatir dan bertanya-tanya mengenai keselamatan. Untuk itu, Luther mengupayakan menjawab pergumulannya itu dengan melaksanakan aturan-aturan biara dengan tujuan supaya dia memperoleh keselamatan. Namun semakin dia melakukan hal itu, jiwanya semakin tidak tenang, semakin cemas, ragu-ragu, khawatir, dan dia semakin merasa bahwa dia tidak akan diselamatkan.

Suatu ketika, Luther membuka Alkitab, dan yang terbuka adalah Roma 1:16-17 “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalam-Nya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman seperti ada tertulis: orang benar akan hidup oleh iman.” Ternyata setelah membuka ayat itu, ia terpesona. Akhirnya ayat inilah yang merubah secara total kehidupannya dan meyakinkan dirinya akan keselamatan. Pada ayat 16, Luther menemukan satu kata yang mengubah segala-galanya: “Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya”. Dia terkejut, bahwa bukan usaha manusia yang menyelamatkan, bukan Indulgensia, atau amal jasa manusia. Namun yang menyelamtakan manusia adalah Injil.

 

Siapa atau apakah Injil? Injil itu adalah Yesus Kristus (1 Kor. 15:2-11). Yesus Kristus telah disalibkan, mati, dikuburkan, bangkit, dan menampakkan diri-Nya, dan naik ke Sorga bagi kita. Dan ia akan datang untuk kedua kalinya bagi kita. Semua yang dilakukan Yesus adalah bagi kita, bukan untuk diri-Nya. Jadi, Injil adalah Yesus Kristus yang telah melakukan segala-galanya bagi kita.

Pada ayat 17 dikatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Iman itu adalah subjek/bertindak. Itu berarti, bukan orang benar yang menghasilkan iman, tetapi imanlah yang menghasilkan orang benar. Jadi, iman yang membuat kita benar/orang benar akan hidup oleh iman. Dari sini, Luther merumuskan ajaran pembenaran oleh iman. Oleh penemuan itu, Luther menjadi berubah secara total. Namun bukan dirinya saja yang berubah, juga materi pengajarannya berubah secara total. Jadi, ia mengajarkan surat-surat Paulus, dan Perjanjian Lama dibacanya dari kaca mata Kristosentris.

Ternyata, oleh pengajaran Luther, mahasiswa-mahasiswa juga berubah. Akhirnya mahasiswa-mahasiswanya bertanya kepada Luther: “Mahaguru, kapankah engkau membicarakan ini di gereja, tidak sebatas ruangan ini saja, tapi menembus Universitas ini dan menjadi kebenaran gereja?”. Setiap kali mahasiswanya menanyakan itu, Luther tidak bisa menjawabnya. Ia hanya mengatakan bahwa Tuhan yang mengetahui hal itu.

Disamping itu, GKR juga mengalami pergumulan, yakni krisis ekonomi pada saat itu dan juga politik. Dulunya, Paus memiliki dua kuasa, yaitu sebagai pemimpin gereja sekaligus memimpin negara. Sehingga dapat dikatakan di tangan kanan Paus adalah Kitab Suci dan ditangan kirinya adalah pedang. Ternyata Raja-raja pada masa kepemimpinan Paus Leo X melihat bahwa hal ini harus diakhiri. Biarlah Paus hanya berkuasa di gereja dan pemerintah (Raja) berkuasa atas negara.

Di samping itu, terjadi krisis ekonomi pada gereja, karena pembangunan Gereja Santo Petrus di Roma. Hal itu membutuhakan dana yang sangat besar. Lalu Johan Tetzel mengajukan diri untuk mengatasi krisis yang terjadi, ia memberi solusi untuk mengatasi masalah itu dan Paus memberikan kekuasaan kepadanya untuk mengatasi masalah itu. Namun ternyata Tetzel mengambil solusi untuk menyelesaikan masalah itu dengan cara penjualan surat Indulgensia, dengan tujuan bisnis. Maka hal itu menjadi bahan omongan dimana orang yang tidak setuju. Namun Tetzel sudah menyusun rencana untuk menyukseskan proyeknya. Dia sudah memilih imam-imam untuk melakukan penghapusan dosa.

Orang yang membeli surat Indulgensia harus datang kepada imam. Biasanya kalau orang datang melakukan pengakuan atau penghapusan doasa kepada Imam, maka solusi yang akan dikatakan imam adalah “pergilah...... lakukanlah penghapusan dosamu”. Namun, untuk mensukseskan proyek itu, maka jika membawa surat indulgensia menjumpai imam, absolusi yang dikatakan adalah “marilah..... dosa-dosamu akan diampuni, dan bukan jiwamu saja diampuni, tetapi juga jiwa-jiwa keluargamu yang ada di api penyucian akan terangkat ke sorga dan juga akan langsung ke sorga”.

Ternyata surat itu sangat laris, dan antrian terjadi untuk menjumpai imam. Akhirnya ada orang yang tidak sabar dan mencari imam lain. Akhirnya ada orang yang menjumpai Luther. Melihat surat itu, Luther melihat kemelaratan dan keadaan itu membuat amarahnya menyala dan mendorongnya bicara kebenaran itu.

Lalu ia menulis 95 dalilnya dalam bahasa Latin. Mengapa bahasa Latin? Ternyata dalilnya itu hanya dimengerti oleh kaum-kaum imam/Klerus, karena hanya para klerus-klerus sajalah yang mengetahui bahasa Latin. Ia tidak ingin rakyat mengetahui dalil yang ditulisnya supaya tidak terjadi keributan. Lalu Luther menempelkan dalilnya tanggal 31 Oktober. Mengapa pada tanggal 31 Oktober? Karena pada tanggal 1 November 1517 ada penyembahan relikwi besar-besaran di Wittenberg. Maka orang banyak dariseluruh dunia akan datang ke Wittenberg. Maka Luther berinisiatif menempelkan dalilnya itu tanggal 31 Oktober 1517. Ia menempelkan dalil itu pada sore hari di pintu gerbang Chapel Universitas Wittenberg. Ternyata mahasiswa-mahasiswanya mengikutinya dari belakang dan melihat Luther menempelkan 95 dalilnya itu. Maka setelah Luther menempelkan dalilnya itu dan pulang, para mahasiswanya mengambil dalil itu dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Jerman dan menggandakan/memperbanyak dalil-dalil itu sebanyak-banyaknya. Maka segeralah berkobar-kobar angin reformasi itu di sekitar Eropa.

Ada sebuah buku yang mengutip pernyataan Luther yang mengatakan “sesungguhnya yang mengalakan api reformasi itu adalah mahasiswa-mahasiswaku. Aku hanya duduk di atas kuda reformasi, lalu para mahasiswaku menendang pantat kuda reformasi itu sekuat-kuatnya dan kuda itupun berlari sekencang-kencangnya membawa reformasi itu”. Ide dari saya(Martin Luther), namun yang menyalakan adalah mereka (mahasiswaku (Mahasiswa Martin Luther).

Mengapa Reformasi itu perlu?

Kata reformasi terdiri dari dua kata, “Re” artinya kembali, dan “Form” artinya bentuk. Jadi, reformasi adalah kembali ke bentuk semula. Mengapa harus kembali ke bentuk semula? Ternyata terjadi kerusakan selama abad pertengahan. Apa rupanya bentuk gereja yang sebelumnya?. Pada abad ke 2 dibuatlah kanon, kanon berarti tolak ukur. Jadi, yang menjadi tolak ukur gereja adalah kanon/Alkitab. Ternyata selama abad pertengahan, gereja tidak beranjak dari kanon/Alkitab, tapi yang menjadi tolak ukur gereja pada abad pertengahan adalah keputusan Dekrit Orange 529.

Poin-poin penting Reformasi

Luther menekankan “Back to the Bible”, yakni Sola Scriptura. Dalam Sola Scriptura terdapat Trisola.

Sola Christi è Hanya Kristus

Sola Fide è Hanya oleh Iman

Sola Gratia è Hanya oleh Anugerah

Sakramen menjadi dua:

·        Gereja

·        Jabatan Gereja 

c.      Dasar dan Tujuan Reformasi menurut Luther, Calvin, Zwingly.

d.     Ciri Doktrin Pembenaran Lutheranisme, Calvinisme, Anabaptisme 

c. Dasar dan tujuan Reformasi menurut Luther, Calvin, Zwingly

Dasar berarti mempertanyakan sarana yang digunakan karena tidak mungkin mereka melakukan gerakan reformasinya kalau tidak ada sarananya.

Ø  Martin Luther

Luther adalah seorang dosen. Jadi, sarananya adalah para mahasiswanya. Reformasi Luther diawalinya oleh para mahasiswanya saat ia mengajar. Karena Luther adalah dosen, maka tuujuan reformasinya adalah pembaharuan doktrin/ajaran gereja pada saat itu.

Ø  Johanes Calvin

Calvin adalah seorang hukum, dia adalah ahli hukum. Kemudian Calvin bergabung dengan gerakan Humanisme (manusia dan masyarakat). Jadi, tujuan reformasinya adalah pembaharuan kehidupan manusia dan masyarakat. Karena pada masa itu, Calvin melihat bahwa kehidupan manusia telah menyimpang dan tidak bermoral. Untuk itu Calvin memikirkan harus ditegakkan hukum lalu Calvin menyusun hukum siasat gereja. Untuk itu Calvin sangat menekankan hukum gereja. 

Ø  Zwingly

Zwingly adalah seorang pastor. Kemudian dia bergabung dengan gerakan Humanisme. Disitulah persamaan antara Zwingly dan Calvin. Untuk itu tujuan reformasinya adalah pembaharuan hidup manusia dan masyarakat. Zwingly memulai reformasinya dari khotbah-khotbahnya karena dia adalah seorang pastor. Pembaharuan kedua oleh Zwingly adalah pembaharuan peribadatan GKR. Segala unsur-unsur GKR disingkirkan dari peribadatan Zwingly, termasuk liturginya, ornamen-ornamen Gereja, dll. Karena menurut Zwingly dari pembaharuan peribadatan akan terjadi pembaharuan hidup.

a.     Ciri Doktrin pembenaran Lutheranisme, Calvinisme, dan Anabaptisme

Ketiga aliran itu sama-sama menekankan ajaran pembenaran. Namun pengajarannya tidaklah sama. Faktanya adalah gereja-gereja yang menganut paham-paham itu berbeda-beda

·       Martin Luther/Lutheranisme

Menurut Luther, ketika kita dibenarkan (pembenaran), maka pada saat itu juga kita sudah dikuduskan (pengudusan). Dasar pembenaran adalah penebusan Kristus. Penebusan menghasilkan pembenaran. Ketika kita dibenarkan, maka pada saat yang bersamaan kita sudah dikuduskan. Ciri pembenaran itu disebut dengan pembenaran Forensik (bersamaan). Buah penebusan hanya satu, yaitu pembenaran yang di dalamnya  ada pengudusan.                       

·       Calvinisme

Menurut Calvin, penebusan menghasilkan 2 hal, yaitu:

1.      Pembenaran oleh Yesus Kristus

Pembenaran ini wajib dibuktikan.

2.      Pengudusan oleh Roh Kudus.

·       Anabaptis

Anabaptis menekankan “baptis” sebagai suatu peristiwa/momen dimana orang dibenarkan oleh Yesus Kristus. Baptis adalah tanda pembenaran, tanda iman. Melalui baptisan orang/manusia disahkan menjadi anggota gereja dan warga Kerajaan Allah. Oleh karena itu tanda orang menjadi warga kerajaan Allah adalah pengudusan/hidup baru/ kesalehan, dan hanya orang yang taat dalam kesalehan yang akan selamat.

Ajaran ini ada kemiripan dengan ajaran semi-pelagius dan keputusan dekrit orange 529. Semua penganut Anabaptis (Pentakosta dan Kharismatik) memandang bahwa keselamatan adalah perjuangan atau usaha manusia dalam kesalehannya. Orang yang sudah dibenarkan belum selamat, tetapi dia harus menuju pada kesalehan/hidup baru.

Ajaran mana yang benar dan harus diyakini?Paulus mengatakan: asal saja kau berpegang teguh pada pendirianmu. Maka kau akan dihakimi berdasarkan pendirianmu.


Posting Komentar untuk " Reformasi Ajaran Keselamatan"