SERMON EPISTEL JAMITA PARTANGIANGAN; Mateus 6: 25 - 34

 

SERMON EPISTEL JAMITA PARTANGIANGAN

Minggu III Dung Trinitatis

 Mateus 6: 25 - 34

 

1.   Pendahuluan

Injil Matius menuliskan dengan ringkas tentang kehidupan, pengajaran dan pelayanan Yesus dengan teratur sehingga mudah dimengerti. Teologi Matius menekankan bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat Perjanjian Lama. Dia mengajarkan bahwa hubungan dengan Allah lebih penting dari pada sekadar mengikuti hukum.

 

Matius di dalam Injilnya, mencatat khotbah Tuhan Yesus di atas bukit, mulai dari pasal 5-7. Kerajaan Allah adalah inti dari khotbah Tuhan Yesus yang disampaikan di atas bukit. Kotbah di Bukit dapat juga disebut sebagai inti atau dasar pengajaran Tuhan Yesus. Semua pengajaran, nasihat dan jawaban yang diberikan atas pertanyaan orang-orang secara pribadi maupun kelompok orang, bersesuaian dengan  pengajaran-Nya  melalui  Khotbah  di Bukit.  Orang Kristen tidak asing dengan pengajaran dalam Khotbah di Bukit, tetapi belum semua orang Kristen menjadikan ajaran dalam Kotbah di Bukit sebagai dasar pijakan dalam hidup dan tindakan sehari-hari.

 

Secara khusus kita akan melihat Kotbah di Bukit pada Matius 6 yang menegaskan bahwa ibadah sejati berpusat pada hubungan batiniah yang tulus dengan Allah, bukan pada ritual lahiriah atau jaminan material. Matius 6 ini terdiri dari 34 ayat dan lima perikop yang berjudul Hal Memberi Sedekah, Hal Berdoa, Hal Berpuasa, Hal Mengumpulkan Harta, dan Hal Kekhawatiran. Dan kita akan membahas judul yang terakhir yaitu Hal kekhawatiran. Yesus menyoroti  bahaya  penyembahan  harta  (Mamon)  yang  bersaing dengan pengabdian kepada Allah. Ia memerintahkan pengikut-Nya untuk mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, dan tidak khawatir akan kebutuhan jasmani, karena Bapa di surga memelihara mereka.


2.   Keterangan Nas

Salah satu materi pengajaran dalam kotbah di bukit adalah tentang hal kekhawatiran dalam Matius 6:25-34. Bagian ini masih berkaitan erat dengan bagian sebelumnya (6:19-24). Keduanya sama-sama membicarakan tentang materi. Kata sambung karena itu” di awal ayat 25 menyiratkan bahwa 6:25-34 merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya. Sebelumnya Yesus telah mengajarkan tentang hal mengumpulkan harta di sorga. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran di pikiran orang-orang yang mendengarnya; tidak mengumpulkan harta di bumi melainkan di sorga. Sehingga mereka berpikir apa yang akan mereka makan, minum dan pakai.

 

Yesus mengetahui apa yang ada di dalam hati dan pikiran orang- orang itu bahwa mereka sedang dilanda oleh kekhawatiran karena pengajaran tersebut. Karena itulah, Ia mulai memberikan pengajaran baru tentang hal kekhawatiran, agar tidak ada kesalahpahaman dalam memahami tentang ajaran yang telah disampaikan-Nya sebelumnya kepada mereka. Ajaran itu, tidak sedang memberikan larangan untuk tidak mencari kebutuhan hidup, melainkan jangan sekali-kali mereka khawatir  akan  kebutuhan  yang  akan  mereka  makan,  minum  dan pakai. Jadi, konteks tentang hal kekhawatiran merupakan sambungan pengajaran dari Tuhan Yesus sebelumnya tentang hal mengumpulkan harta di sorga, sehingga kalimat awalnya di mulai dengan istilah

‘karena itu.’

 

Manusia diminta untuk tidak khawatir akan hidupnya, akan kebutuhannya (makanan, pakaian). Sebab Allah sanggup memelihara seluruh ciptaaan. Yesus mengajak kita melihat burung di udara dan bunga di padang. Mereka tidak menabur, menuai, atau memintal, tetapi Allah memelihara mereka. Bahkan  keindahan bunga melampaui kemegahan Salomo. Tampak bahwa Allah tidak hanya peduli pada manusia, tetapi pada seluruh ciptaan. Ia adalah Bapa yang penuh kasih kepada dunia ini.

 

Tuhanlah sumber hidup dan pemeliharaan kita. Hidup kita berharga dalam pandangan Tuhan, maka Dia pasti akan memberikan apa yang kita   perlukan   selama   waktu   hidup   kita   di   dunia   ini.   Yesus


menekankan bahwa ‘hidup orang percaya itu lebih penting daripada makanan  dan  ‘tubuh  orang  percaya itu  lebih  penting  daripada sekedar pakaian. Apabila Tuhan sudah melakukan perbuatan besar dalam hal memberi kehidupan’ kepada kita, pastilah hal yang lebih kecil  baru akan  mengikutinya,  yakni  memelihara kehidupan  yang penting itu dengan makanan dan kecukupan lainnya. Dan sama, apabila Tuhan sudah melakukan perbuatan besar dan penting dalam hal memberi suatu ‘tubuh’ kepada kita, pastilah hal yang lebih kecil akan Tuhan siapkan, yakni melengkapi tubuh dengan pakaian dan segala kecukupannya. Sebab ‘kehidupan dan tubuh’ adalah hal yang lebih besar dan penting daripada makanan dan pakaian.

 

Bahkan Tuhan Yesus membandingkan kita dengan burung di langit. Selama periode hidup mereka Tuhan tidak pernah lupa memberikan bagian makanan mereka. Mereka bahkan tidak menabur dan tidak mengumpulkan, tetapi Tuhan mencukupkan. Jika burung-burung itu berharga di mata Tuhan, bukankah kita lebih lagi? Jika Tuhan mengetahui dan mencukupkan kebutuhan hewan-hewan yang sering luput  dari  perhatian  kita,  bagaimana  mungkin  Dia  tidak memerhatikan kebutuhan kita?

 

Kekhawatiran  manusia  tidak  berguna  dan  sia-sia,  karena  tidak mampu menambah umur atau memperpanjang hidup sedikit pun. Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?. Yesus menggunakan pertanyaan ini untuk mengajarkan bahwa usaha manusia paling keras sekalipun melalui kekhawatiran tidak dapat mengubah hal mendasar seperti memperpanjang umur, melainkan meragukan pemeliharaan Allah yang setia. Dengan kata lain Yesus ingin mengatakan, siapakah yang karena kekhawatirannya bisa membuat hidupnya tambah Panjang?  Kata jalan hidup”  (hÄ“likia) bisa merujuk pada tinggi badan. Maksudnya, kekuatiran tidak akan membuat tubuh bertambah tinggi satu hasta (hampir ½ meter). Kekhawatiran tidak akan memperpanjang kehidupan. Kekuatiran justru akan berdampak buruk bagi tubuh dan hidup.


Yesus  sampai  pada  inti  pengajaran-Nya  ketika  Ia  bertanya,  "hai orang  yang kurang  percaya?" (Ayat  30).  Kecemasan  dan kekhawatiran adalah kebalikan dari iman dan kepercayaan. Kekhawatiran  dalam  hidup  ini  mendominasi  pikiran  orang-orang yang belum diselamatkan, tetapi Yesus meyakinkan para pengikut- Nya  bahwa  Bapa  surgawi  mereka  sudah  mengetahui  apa  yang mereka  butuhkan. Dapatlah  dimaklumi  kalau bangsa-bangsa  yang tidak mengenal Allah hidup dalam kekhawatiran, sebab mereka tidak mengenal apalagi memiliki Bapa di Sorga.’ Makanya mereka terus khawatir mencari makan dan pakaian untuk bertahan hidup. Tetapi anak-anak Tuhan tidak demikian. Kita bekerja demi kerajaan Allah dan Allah yang terus pelihara kita.

 

Oleh sebab itulah dikatakan: Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Inilah  puncak  yang menjadi  keingginan Yesus  bagi  mereka  yang telah percaya kepada Allah, untuk selalu memprioritaskan terlebih dahulu mencari kerajaan Allah. Dalam ayat ini, Yesus tidak sedang berjanji bahwa setiap orang yang telah percaya akan menjadi kaya raya, melainkan hanya janji pemeliharaan Allah yang mencukupkan segala kebutuhan yang diperlukan oleh anak-anak-Nya. Jikalau makanan dan pakaian tidak lagi menjadi fokus kehidupan kita, kita pasti akan dimampukan untuk memiliki fokus yang benar, yaitu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya.

 

Oleh sebab itu janganlah khawatir, apalagi tentang hari besok. Menguatirkan hari besok adalah sebuah kebodohan. Pada saat kita khawatir tentang hari besok, kita sebenarnya sedang menambah persoalan. Kesusahan besok telah ditambahkan pada kesusahan hari ini. Semakin banyak hari di depan yang kita khawatirkan sekarang, semakin banyak pula kesusahan kita sekarang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Seringkali persoalan yang kita khawatirkan tidak terjadi, padahal kekuatiran itu sudah menambah persoalan bagi kita. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.


3.   Refleksi

a. Pemeliharaan  Allah  adalah  tindakan  aktif  Allah  yang  terus- menerus dalam melestarikan, merawat, dan membimbing seluruh ciptaan-Nya, khususnya hidup manusia. Manusia dipanggil untuk merespons  pemeliharaan  Allah  dengan  iman.  Buang kekhawatiran, orang yang selalu khawatir terhadap kebutuhannya setiap hari adalah hanyalah orang-orang yang tidak mengenal Allah.  Kekhawatiran  tidak  membangun  hidup  untuk  semakin dekat dengan Tuhan, tetapi justru merusak dan membuat hati menjauh dan meragukan kuasa Allah. Yesus ingin hidup orang yang telah menaruh harapan kepada Allah, percaya bahwa Allah sanggup memelihara hidupmu, asal kita mengutamakan Kerajaan- Nya.

b. Pemeliharaan Allah itu universal. Allah terbukti telah memelihara seluruh  ciptaannya,  baik  burung  di  udara,  bunga  di  padang, maupun manusia. Karena itu kita tidak perlu hidup dalam kecemasan dan kekuatiran yang berpusat pada materi. Kita membutuhkan alam semesta sebagai penyedia kebutuhan kita, maka kita bertanggung jawab untuk merawat alam dengan baik demi masa depan kita juga. Sebab apabila kita merusak alam, itu sama saja kita membunuh generasi masa depan. Namun alam semesta bukan pemelihara hidup kita, sebab Tuhanlah pemelihara sejati kita.




Posting Komentar untuk "SERMON EPISTEL JAMITA PARTANGIANGAN; Mateus 6: 25 - 34"