BAHAN SERMON JAMITA MINGGU ; 1 Musa 21: 8 - 21


BAHAN SERMON JAMITA MINGGU

Minggu III Dung Trinitatis, 21 Juni 2026

Saluhut Do Diramoti Debata

Pemeliharaan Allah Yang Universal

1 Musa 21: 8 - 21

 

1.   Pendahuluan

Penggenapan janji Allah merupakan ketetapan yang telah masuk dalam rencana-Nya untuk melanjutkan silsilah yang akhirnya melahirkan seorang anak yakni buah dari perjanjian Allah kepada Abraham, Ishak dan Yakub. Buah janji tersebut adalah Yesus Kristus yang kemudian lahir dari rahim Maria istri Yusuf yang merupakan keturunan dari silsilah akar bangsa Israel. Ternyata kelahiran Ishak pun merupakan tema terpenting dalam kitab Kejadian. Karena tanpa kelahiran Ishak, maka Israel tidak ada, karena Israel akan lahir dan berkembang hingga menjadi sebuah bangsa, dan ini juga berawal dari kelahiran Ishak sebagai penerus silsilah untuk janji Allah kepada Abraham.

 

Namun kenyataanya sebelum kelahiran Ishak, Abraham telah memiliki anak dari Hagar pembantunya yang bernama Ismael. Hal inilah yang kemudian menjadi masalah ketika Ishak sudah lahir dan semakin besar dan ia disapih. Sara melihat kehadiran Ismael sebagai ancaman terhadap status Ishak sebagai ahli waris yang sah dari Abraham. Oleh karena itu, Sara meminta Abraham mengusir Hagar dan  Ismael.  Meski  situasi  dalam  nas  ini  tampak  tragis,  namun melalui kisah pengusiran Hagar dan Ismael justru menunjukkan kesetiaan Allah dalam memelihara, melindungi, dan memberikan masa depan kepada Hagar dan Ismael di padang gurun. Bukan hanya Ishak sebagai anak yang dijanjikan itu dipelihara oleh Allah. Namun Ismael dan Hagar juga mendapatkan pemeliharaan Allah. Jadi semua mereka tetap dalam pemeliharaan Allah. Dengan demikian, menjadi jelas pula bahwa gagasan universalisme pemeliharaan Allah terlihat jelas dalam nas ini.


2.   Keterangan Nas

Tuhan   menepati   janji-Nya.   Setelah   bayi   tersebut   lahir,   maka Abraham memberi nama baginya Ishak. Nama ini bukan karangan dari Abraham maupun Sara, melainkan sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Ishak berasal dari bahasa Ibrani Izak atau Yitskhag” yang berarti orang tertawa. Arti dari nama tersebut merupakan gambaran   dari   gelak   tawa   Abraham   dan   Sara   ketika   Allah menjanjikan kepada mereka kelahiran Ishak sebelumnya. Kelahiran Ishak disambut dengan meriah dan penuh sukacita, setelah Abraham dan Sara menanti selama puluhan Tahun. Bertambah besarlah anak itu,  kemudian  Abraham  mengadakan  perjamuan  besar  pada  hari Ishak disapih (Ayat 8). Disapih (Ibrani: למג - Gamal) berarti ia sudah mulai mencerna makanan bayi, tidak lagi menyusu pada ibunya. Alkitab tidak menyebutkan secara eksplisit umur pasti  Ishak saat disapih. Namun, para penafsir Alkitab dan tradisi umumnya memperkirakan Ishak disapih pada usia sekitar 2 - 5 tahun, dengan kemungkinan besar sekitar 3 tahun, mengingat kebiasaan pada waktu itu.   Dan   demikian   juga   para   peneliti   Alkitab   bahasa   Ibrani berpendapat  bahwa  Ismael  waktu  itu  berumur  16  tahun.  Karena dalam Kej.17:24-25, Ketika Ismael berumur 13 tahun; Ishak lahir kurang  lebih  setahun  kemudian  setelah  Abraham  berumur  100

Tahun.

 

Peristiwa itu merupakan saat yang harus dirayakan dengan sukacita dan bergembira ria. Namun, tidak lama kemudian muncul persoalan. Sara melihat anak yang dilahirkan Hagar sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Kemudian Sara lansung bereaksi meminta Abraham untuk mengusir Hagar perempuan Mesir itu dan anaknya Ismael. Reaksi Sara demikian mungkin karna melihat Ishak dipermainkan oleh  Ismael.  Kata  main (Ibrani:  (קחצמ)   metsacheq)  berarti tertawa,  bermain,  atau  mempermainkan.  Kalau  memang  Ismael hanya sekedar bermain, tertawa atau menggoda Ishak, tidak mungkin Sara  mengeluarkan  reaksi  yang  begitu  keras!  Namun  yang  pasti alasan  pengusiran  itu  adalah  karna  Sara  tidak  mau  Ismael  (anak hambanya Hagar) juga menjadi ahli waris bersama dengan anaknya Ishak (Ayat10).


Mendengar permintaan Sara, hal itu sangat menyebalkan bagi Abraham. Bisa dipahami kegundahan hati Abraham saat mendengar keinginan  Sara  mengusir  Hagar  dan  juga  Ismael.  Selain  karena Ismael adalah anak kandungnya sendiri yang sudah menemani Abraham sekian tahun lamanya. Kegundahan hati Abraham jelas terkait pula dengan nasib anak ini selanjutnya. Betapa tidak, Ismael dan ibunya harus keluar dari rumah Abraham, ayahnya yang selama ini memenuhi kebutuhan hidup dan memberikan perlindungan bagi mereka.  Ismael  segera  akan  menjadi  anak  yang bertumbuh  tanpa kehadiran seorang ayah. Dan bukan hanya itu. Tempat yang akan ditujupun sama sekali tak jelas. Namun Allah berfirman kepada Abraham supaya mendengar apa yang dikatakan Sara Istrinya itu. Tuhan  juga  berjanji  akan  membuat  Ismael  menjadi  bangsa  yang besar (ayat 12-13). Merestui usulan Sara untuk mengusir Hagar dan Ismael bukanlah sebuah bentuk ketidakpeduliaan Allah pada Hagar dan Ismael, tetapi agar janji Tuhan dapat tergenapi secara sempurna. Dan keesokan harinya Abraham menyuruh Hagar dan anakna pergi dengan memberi roti dan sekantong air. Mengusir Hagar dan Ismael mungkin terlihat kejam dari sudut pandang kita, tetapi Alkitab mencatat keprihatinan Abraham dan perintah Tuhan. Abraham menunjukkan belas kasihan kepada anaknya, tetapi ia juga menunjukkan ketaatan ketika Tuhan menghendaki sesuatu yang berbeda dengan apa yang diinginkan Abraham secara pribadi. Abraham memang terkenal dengan ketaatannya. Abraham taat ketika Allah memanggilnya. Ketaatannya kepada Allah saat ia harus mempersembahkan Ishak anaknya kepada Allah. Ketaatan Abraham menjadikan dirinya sebagai pribadi yang teruji dengan imannya yang benar-benar teguh kepada Allah.

 

Hagar dan Ismael akhirnya pergi dan mengembara. Mengembara (Ibrani:  ta'ah),  secara  harafiah  dapat  dipahami  sebagai  perjalanan yang tanpa arah, penuh dengan kebimbangan, penuh tantangan dan ketidakpastian. Kondisi padang gurun Bersyeba juga jelas memperlihatkan dahsyatnya ancaman kehidupan yang akan dilalui. Selain kekeringan dan ketiadaan tempat menetap, padang gurun juga menyimpan  ancaman  binatang  buas  yang  sewaktu-waktu  dapat


membinasakan. Karena itu, bekal sang ibu dengan putranya berupa roti dan sekantong air, jelaslah tidak akan berarti apa-apa di depan hamparan padang gurun Bersyeba. Tak heran jika ancaman kematian pun  segera  jadi  kenyataan.  Karena  tidak  lama  kemudian  bekal mereka habis di padang gurun. Karena tidak tahu harus berbuat apa dan juga tidak tahan melihat anaknya mati, Hagar pun meletakkan Ismael di bawah semak-semak, lalu meninggalkannya. Lalu menangislah ia dengan suara nyaring. Dapat dibayangkan keputusasaan yang dirasakan Hagar.

Allah tidak pernah melupakan janji-Nya. Sepertinya Hagar sendirilah yang telah melupakan janji Allah itu, yang didengarnya sewaktu dia melarikan diri dari nyonyanya (Kej. 16:10). Nama "Ismael", yang berarti Allah mendengar, semestinya menjadi prasasti bagi Hagar. Padang gurun adalah hamparan kosong dan kering tanpa tanda kehidupan. Seruan dan tangisan sekeras apapun hanyalah sebuah kesia-siaan,   sebab   tak   akan   terdengar   oleh   siapapun.   Namun demikian, Tuhan ternyata mendengar. Ketika Hagar dan Ismael merasa tangisan mereka tak akan berarti apa-apa, selain menjadi tangis akhir di ambang kematian, alkitab ternyata memberi kesaksian yang berbeda. Tuhan ternyata mendengarkan. Tangisan sang anak, sampai ke telinga Tuhan. Hal ini ternyata sejalan pula dengan arti nama Ismael, yakni Allah mendengarkan.

 

Melalui    malaikat-Nya,    Tuhan    memperdengarkan    suara-Nya:

Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, (ayat

17).  Sepintas,  sepertinya  Tuhan  tak  peduli  pada  keadaan  malang yang menimpa Hagar. Apakah Tuhan tidak tahu apa  yang Hagar alami? Tentu saja Tuhan tahu, bahkan sejak awal Tuhan juga yang

menyuruh Abraham agar mengikuti perkataan Sara untuk mengusir Hagar  dan  Ismael.  Orang  beriman  tentu  harus  meyakini  bahwa apapun yang dialaminya, ada Tuhan yang sedang terlibat untuk rencana baik di masa depan. Pengusiran ke padang gurun adalah bagian dari rancangan Tuhan yang baik bagi Hagar dan Ismael.

Allah pun segera bertindak menyelamatkan mereka, yakni dengan menyediakan  sumur  bagi  Hagar  dan  Ismael.  Adanya  sumur  di padang gurun, jelas merupakan hal yang luar biasa. Itu sebabnya


Tuhan meminta Abraham agar tidak perlu ragu menyuruh Hagar dan Ismael untuk pergi demi menggenapi janji Tuhan, sebab di padang gurun sekalipun, Tuhan pasti memelihara. Kelanjutan kehidupan Ismael dapat menegaskan kelanjutan pemeliharaan Allah. Ismael bertumbuh   dan   menjadi   seorang   pemanah.   Ibunya   mengambil seorang Istri baginya dari tanah Mesir. Ia kemudian hidup hingga usia  137  tahun  dan  dikaruniai  12  anak  yang  menjadi  raja  bagi masing-masing sukunya.

 

3.   Refleksi

Allah akan selalu menepati janji-Nya. Kesulitan hidup kadang membuat kita merasa dilupakan Allah. Kisah Hagar dan Ismael semestinya mengingatkan kita juga untuk tetap percaya bahwa Allah tidak tidur. Kesulitan hidup diizinkan terjadi dalam hidup kita agar kita dapat terus sungguh merasakan pemeliharaan Allah. Di tengah padang gurun kehidupan, wajar jika kita menangis seperti Hagar. Namun, mari kita ingat Allah yang sangat mengasihi kita. Jangan kita dikuasai rasa takut! Dengarkanlah suara-Nya, taklukkanlah padang  gurun  itu,  dan  berjalanlah  temukanlah  sumur  yang sudah Tuhan siapkan dan hiduplah di dalam-Nya. Dia akan memelihara kita. Abraham, Sara dan Ishak dipelihara-Nya. Demikian juga Hagar dan Ismael dipeliharaNya. Tuhan telah berjanji akan memelihara semua keturunan Abraham, termasuk kita. Meskipun berbeda suku, bangsa dan Agama. Inilah bukti Pemeliharaan Allah yang universal.

 

Dalam rangka menjaga kerukunan antar umat beragama, kita orang Kristiani yang mengklaim diri sebagai keturunan Ishak jangan terlalu merasa superior dan tidak perlu memandang rendah saudara- saudari kita yang mengklaim sebagai keturunan Ismael sebagai keturunan budak yang diusir dari rumah Abraham, karena mereka pun diberkati oleh Allah. Kita ini sama-sama keturunan Abraham, kalau kita bisa hidup saling menghargai, kita akan mampu bekerjasama di daerah di mana kita berada.

Posting Komentar untuk "BAHAN SERMON JAMITA MINGGU ; 1 Musa 21: 8 - 21"