Jamita Partangiangan : IMAMAT 20 : 1 – 7

BAHAN KHOTBAH EPISTEL
MINGGU QUASIMODOGENITI
MINGGU, 12 APRIL 2026
IMAMAT 20 : 1 – 7
HIDUP DALAM KEKUDUSAN

Pengantar

Kitab Imamat merupakan kitab yang memiliki fungsi untuk menjadi landasan hidup dan juga pedoman mendasar bagi umat Israel setelah bangsa itu mengalami pembebasan dari tanah perbudakan, yaitu tanah Mesir. Kitab ini berpusat pada ajaran mengenai kekudusan yang merupakan sifat esensial dari Allah sendiri dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Tema kekudusan merupakan bagian penting dari kitab ini yang mencakup pasal 17-27. Tema Kekudusan ini bukan hanya membahas mengenai cara-cara dalam melaksanakan ibadah ataupun ritual, tetapi juga terutama pada panduan praktis dalam menjalani kehidupan yang kudus. Pada kitab Imamat pasal ke-20 secara sangat spesifik membahas mengenai penegasan sanksi terhadap umat Tuhan yang melanggar hukum yang telah ditetapkan oleh Tuhan. Pada bagian sebelumnya, yaitu pasal ke-18 dan ke-19, telah didaftarkan serangkaian larangan dan kekejian seksual serta hukum atas pelanggaran tersebut. Maka pada pasal ke-20 Allah menegaskan bahwa orang yang melanggar ketetapanNya perlu dibersihkan untuk menjaga kekudusan bangsa Israel sebagai umat Perjanjian yang Kudus. 

Isi


1.        Penyembahan kepada berhala membuat Allah murka (Ay. 1-3)

Ayat pertama dibuka dengan ungkapan “TUHAN berfirman kepada Musa”, hal ini menunjukkan kepada kita pemahaman bahwa perintah dan ketetapan yang diberikan pada bagian selanjutnya berasal dari TUHAN dan disampaikan kepada Musa sebagai perantara antara Allah dengan bangsa Israel. Bangsa Israel setelah mengalami pembebasan dari tanah perbudakan di Mesir, mereka hidup berdampingan dengan orang yang tidak mengenal Allah dan bahkan yang melakukan tindak kekejian dihadapan Allah, salah satunya adalah penyembahan kepada berhala. Ayat kedua berisi perintah Allah kepada Musa untuk menyampaikan kepada bangsa Israel bahwa jangan ada seorangpun, dari antara orang Israel atau orang asing yang tinggal di tengah-tengah orang Israel, yang menyerahkan anak-anaknya kepada Molokh karena ia akan dihukum mati oleh rakyat dengan cara dilempari dengan batu. Bangsa Israel yang hidup dalam persekutuan (secara sosial) juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga kekudusan secara bersama (kolektif) dan mengenakan sanksi kepada orang yang melanggar peraturan ini secara bersama-sama juga. Molokh digambarkan berupa sebuah patung besar yang terbuat dari tembaga kuningan dan berbentuk manusia dengan kepala lembu dengan tangan menengadah. Praktik penyembahannya berupa memanaskan patung tembaga tersebut dengan api lalu mempersembahkan anak bayi dengan meletakannya di atas tangannya. Hal ini dipercayai agar keluarga serta keturunan orang yang mempersembahkan anak pertamanya akan mendapat kesejahteraan. Praktik ini merupakan sebuah kekejian bagi Tuhan karena praktik penyembahan Molokh melanggar hukum Tuhan mengenai jangan menyembah ilah lain (Kel. 20:4-6).

       Praktik penyembahan kepada Molokh bukan menjadi hal yang asing bagi bangsa Israel pada konteks Imamat 20 ini. Bangsa Israel yang hidup berdampingan akan mudah tersesat oleh ajaran yang menjauhkan mereka daripada Allah. Pada ayat ketiga disebutkan bahwa Allah menentang orang yang melakukan penyembahan yang keji itu karena mereka hendak menajiskan tempat kudusNya dan melanggar kekudusan namaNya yang kudus. Kudus berasal dari Bahasa Ibrani Qadosh yang berarti terpisah atau dikhususkan - kata ini dipakai untuk menunjukkan bahwa seseorang dikhususkan untuk pekerjaan Allah yang mulia. Kata ini juga dikenakan kepada Allah untuk menunjukkan bahwa Allah memiliki tingkatan yang lebih tinggi daripada segalanya, termasuk ilah-ilah lain. Maka tindakan penyembahan Molokh ini mencemari kekudusan Allah dan akan membangkitkan murka Allah atas mereka. Kekudusan Allah ditujukan untuk menyatakan kuasa kasihNya kepada dunia yang cemar dan bangsa Israel sejatinya tidak boleh untuk mencemari dan bahkan menajiskan Allah yang Kudus.

 

2.        Allah menghukum orang yang menyembah berhala (Ay. 4-5)

       Bangsa Israel pada konteks Kitab Imamat merupakan sebuah bangsa yang menganut sistem Teokrasi – bangsa yang menganut hukum Allah dalam sistem kehidupan suatu bangsa. Allah menetapkan suatu aturan bukan tanpa maksud, melainkan agar kebenaran dan keadilan berdiri tegak atas bangsa Israel. Maka murka Allah akan bangkit jika suatu aturan yang ditetapkan Allah dilanggar oleh bangsa tersebut. Pada ayat keempat dijelaskan bahwa Allah akan mengintervensi bangsa Israel jika bangsa itu tidak menjaga dan melaksanakan ketetapan yang telah Allah berikan bagi mereka. Bangsa Israel yang lalai untuk menjaga diri mereka dari praktik penyembahan kepada Molokh dikatakan dengan “menutup mata” yang berarti dengan sengaja membiarkan praktik itu terjadi di tengah-tengah mereka. Tindakan pembiaran terhadap suatu pelanggaran dapat berkonotasi bahwa mereka setuju atau menganggap hal itu bukan sebuah kesalahan. Pada ayat kelima dikatakan bahwa Allah sendiri yang akan menentang orang yang melakukan pelanggaran tersebut beserta dengan kaumnya dan bahkan melenyapkan mereka dari tengah-tengah bangsa. Dikatakan juga bahwa semua orang yang mengikuti penyembahan terhadap Molokh disebut juga dengan berzinah. Maka suatu tindakan penyembahan berhala memiliki konsekuensi yang mendalam dan meluas, yaitu hingga kepada keluarga dan kaumnya. Peringatan ini merujuk pada Keluaran 20:5 “… membalaskan kesalahan bapanya kepada anak-anaknya …”. Pada ayat tersebut juga dikatakan bahwa Allah adalah Allah yang pencemburu, yang bukan berarti iri atau dengki, melainkan mengarah pada kekecewaan atas kepemilikan yang berkhianat. Berzinah juga memiliki makna berkhianat atau tidak setia. Dengan demikian secara teologis bangsa yang menyembah Molokh (penyembahan berhala) melakukan pengkhianatan spiritual dengan Allah.


3.        Umat Allah harus menguduskan diri (Ay. 6-7)

         Ayat keenam menerangkan bahwa orang yang berpaling kepada arwah dan roh-roh peramal serta berzinah dengan bertanya kepada mereka akan ditentang oleh Allah dan Allah sendiri akan melenyapkan mereka dari tengah-tengah bangsa. Pada ayat ini dapat dipahami juga sebagai praktik okultisme, yaitu praktik berhala berupa kepercayaan kepada roh-roh di dunia. Allah menginginkan bahwa umat Tuhan tidak berpaling daripada Tuhan. Allah yang telah mereka persaksikan melalui peristiwa pembebasan dari tanah Mesir berharap agar bangsa Israel tetap setia kepada Allah. Bangsa Israel dalam PL digambarkan sebagai “mempelai wanita” dan Allah sebagai “mempelai pria” (bnd. Yer. 2:1-3; 3:6-12; Yeh 16) yang berarti menggambarkan sebuah relasi kudus dan kasih yang sempurna dari Allah kepada bangsa itu. Maka ketika bangsa itu mulai berusaha melakukan perbuatan okultisme dengan bertanya kepada roh-roh dapat diartikan juga mereka berzinah kepada roh-roh tersebut dan mengkhianati relasi kudus dengan Allah. Sejatinya kekudusan merupakan anugerah dari Allah kepada umatNya yang setia dan percaya kepadaNya. Kelemahan manusia membuat dirinya mudah untuk jatuh ke dalam dosa dan mencemari kekudusan yang dari pada Allah. Demikian ayat ketujuh berisi perintah Allah bagi bangsa Israel agar mereka menguduskan diri mereka sebab Ia adalah Allah yang kudus. Menguduskan diri berarti tindakan aktif agar mereka menjauhkan diri mereka dari tindakan yang keji dan merusak kekudusan mereka. Umat Allah haruslah mencerminkan sifat Allah, yaitu kudus. Maka pada ayat selanjutnya ditegaskan agar tindakan aktif umat Israel ialah berpegang pada ketetapan Allah dan melakukannya sehingga Allah sendiri yang akan menguduskan mereka (Im. 20:8).

Refleksi

Pada zaman saat ini tantangan dan pergumulan hidup semakin luar biasa. Banyak hal yang dapat menjauhkan diri kita dari Allah, baik dari hal kecil hingga hal besar. Cara hidup masa kini juga menantang kita untuk kritis dalam menjaga kekudusan di hadapan Allah, sebab dosa pada saat ini dapat “berkamuflase” dalam kehidupan sehari-hari kita. Misalnya dalam pekerjaan, keluarga, kesibukan lain dapat membuat kita melupakan Allah. Bahkan hawa nafsu, kerakusan, kemalasan, iri hati, kesombongan, dll dapat menjadi berhala yang mengekang kehidupan kita dan menjauhkan kita dari Tuhan. Allah menginginkan agar kita menjaga kekudusan dengan berpegang kepada ketetapan Tuhan melalui Firman dan bersandar hanya kepada Allah. Memprioritaskan Allah berarti kita bukan menempatkan Allah pada urutan kepentingan dalam hidup kita, melainkan benar-benar menempatkan Allah sebagai satu-satunya jalan di dalam hidup kita. Bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang sering kali jatuh ke dalam dosa, tetapi melalui kisah bangsa Israel kita dapat mengenal kasih Allah yang luar biasa. Maka menjaga kekudusan bukan agar kita memperoleh keselamatan, melainkan hal itu sebagai buah dari tanggung jawab kita menerima keselamatan yang dianugerahkan Tuhan bagi kita. Dengan demikian sebagai umat Kristen kita hidup berkenan dihadapan Allah dan bahkan kita diundang untuk memancarkan terang di tengah dunia yang gelap serta menjadi berkat bagi sesama kita. Allah menyertai dan memampukan kita untuk menjaga kekudusan hidup kita dari beragam tantangan dalam kehidupan kita. Amin.

Ditulis Oleh : Pdt. Harianto U. Harianja, S.H., M. Min

          

Posting Komentar untuk "Jamita Partangiangan : IMAMAT 20 : 1 – 7"