Eskhatologia.
Eskatologi
Presentis, Futuris, Presentis-Futurisb.
Eskatologi
Transedental dan Imanen Historisc.
Kebangkitan
Daging, Penghakiman Akhir, dan Langit-Bumi yang Baru
1.1. Pengertian Eskhatologi
Secara terminologis, istilah eskhatologi dibangun dari dua kata Yunani : “eschatos” yang artinya yang penghabisan / hal-hal yang terakhir
(Kis. 2:17), dan “logos” yang artinya
ilmu, ajaran atau Firman. Secara teologis, istilah eskhatos dipakai untuk menjelaskan doktrin eskhatologi, yakni
mengungkapkan hal-hal yang akan terjadi pada masa yang akan datang yang
meliputi: kedatangan Yesus Kristus (1 Kor. 15: 52; Ibr. 1: 2), serta
mengungkapkan ajaran tentang kebangkitan orang mati dan penghakiman yang akan
datang (Yoh. 6: 39-40; 1 Ptr. 1: 5), juga menerangkan karakter ilahi Kristus
yang Maha Kekal (Why. 1: 17).[1]Menurut
R. Soedarmo, Eskhatologi adalah ajaran tentang apa yang tertulis dalam Alkitab
tentang akhir zaman. Kristus yang ada di sorga akan datang kembali dan akan
mengadili segala manusia. Untuk itu segala manusia akan dibangkitkan dari mati.
Pengadilan itu akan menentukan siapa yang menerima kebahagiaan kekal dan
hukuman kekal. Kemudian datanglah langit baru dan bumi baru (Mat. 25: 32, 33;
Why. 21). Waktu kedatangan hari terakhir tidak bisa di perhitungkan; akan
datang seperti pencuri pada waktu malam (2 Ptr. 3:10; Why. 3:3; 16:5; dll),
maka “Berjaga-jagalah”.[2]
Pengertian diatas diperjelas bahwa secara
tradisional, eskhatologi berarti
hal-hal yang akan datang yang terkait dengan peristiwa kebangkitan dan
penghakiman yang dilakukan oleh Kristus pada masa yang akan datang dan
merupakan akhir dari zaman dunia. Demikian juga dari sudut missiologi, bahwa
istilah eskhatologi merujuk pada
peristiwa yang terjadi pada akhir zaman, secara khusus menyangkut kesuksesan
dalam misi pertumbuhan Gereja yang ditandai dengan pengangkatan Gereja Tuhan di
akhir zaman. Kejadian tersebut merupakan implementasi dari rencana agung Allah
melalui janji-Nya kepada Abraham (Kej. 12: 1-3) untuk mengirim Anak-Nya, Yesus
Kristus (Gal. 4: 4) guna menggembalakan bangsa-bangsa supaya mereka menyembah
Allah di Yerusalem ketika Yesus datang kembali (Zak. 8: 20-22). Jadi
berdasarkan penjelasan ini, dapat di defenisikan bahwa eskhatologi ialah ilmu atau doktrin yang mempelajari hal-hal yang
akan terjadi pada saat kedatangan Kristus yang kedua pada masa yang akan
datang, sesuai dengan kesaksian Alkitab. Peristiwa-peristiwa penting yang akan
terjadi tersebut meliputi kebangkitan orang percaya, penghakiman dan kemudian
diakhiri dengan langit yang baru dan bumi yang baru.[3]
Van
Niftrik-Boland menjelaskan bahwa dalam pemahaman
tentang kedatangan Kristus, Perjanjian Baru berbicara dengan sederhana, tanpa
menggambarkannya secara meluas tetapi juga dengan tegas. Kita tidak mengetahuai
hari dan ketikanya (Mat. 24: 36). Tidak dapat kita menghitung-hitungnya; hari
itu datang sekonyong-konyong, seperti seorang pencuri pada malam hari (1 Tes.
5: 2). Akan tetapi hari itu pastilah akan datang. Demikianlah hari kedatangan
Kristus akan merupakan berakhirnya segala hari, berakhirnya zaman akhir dunia
ini. Maka akan dinyatakan adanya semacam zaman lain, semacam zaman yang tak
dapat kita banyangkan atau kita tangkap dengan pengertian kita tentang waktu
dan zaman. Sebab zaman itu adalah zaman Alkitab, artinya zaman keabadian.[4]
Selanjutnya, Harun
Hadiwijono menjelaskan kedatangan Kristus yang kedua dengan mengacu pada
teks 1 Tes. 4: 16 dan Why. 3:10. Hadiwijono percaya bahwa Yesus akan datang
kedua kali, tetapi hanya sebatas menampakkan kemuliaan-Nya, bukan untuk
memerintah dalam kerajaan Seribu Tahun di bumi. Nubuat-nubuat mengenai
kedatangan Tuhan Yesus Krisus yang kedua tidak boleh diartikan secara harafiah.
Semua uraian mengenai hal itu hanya menunjukkan, bahwa kedatangan Kristus yang
kedua adalah suatu kedatangan yang dengan menampakkan kemuliaan. Wahyu 20
bukanlah menguraikan apa yang akan terjadi kelak pada akhir zaman, melainkan
menguraikan hal-hal yang sudah terjadi sekarang ini, zaman sekarang inilah
zaman Tuhan Yesus memerintah selama seribu tahun lamanya.[5]
Meskipun terdapat beberapa pandangan, argumentasi,
dan keyakinan yang berbeda dalam memahami dan merumuskan ajaran tentang
kedatangan Kristus yang kedua, namun kesimpulan yang dapat dirangkum dari
pembahasan diatas ialah bahwa eskhatologis mengungkap konsep mengenai
kedatangan Kristus yang kedua yang meliputi peristiwa bahwa Kristus hadir
diangkasa tanpa menginjakkan kaki-Nya di bumi untuk mengangkat orang percaya
melalui peristiwa kehadiran Kristus di angkasa untuk mengangkat Gereja-Nya dan
kedatangan Kristus kedua kali kedunia untuk menghakimi dan memerintah dalam
Kerajaan-Nya serta membawa hidup yang kekal.
1.2. Latar Belakang Permasalahan Eskhatologi
Polemik doktrinal yang cukup meruncing dalam lingkup
teologi terjadi di seputar perdebatan tentang doktrinal eskhatologi. Jika dicermati, masing-masing pandangan berusaha
memaparkan konsep eskhatologinya berdasarkan pendekatan teologi dan hermeneutik
yang diyakini. Jika diselidiki lebih lanjut, perbedaan doktrin eskhatologi tersebut tampaknya berpusat
pada masalah tentang “kedatangan Kristus yang kedua”. Istilah yang sudah lazim
terdengar dalam eskhatologi, khususnya ajaran tentang kedatangan Kristus yang
kedua, ialah parousia. Secara
teologis, kedatangan Yesus Kristus yang kedua meliputi peristiwa kehadiran Kristus
untuk mengangkat orang percaya, dan kedatangan Kristus ke bumi untuk memerintah
dalam Kerajaan-Nya.[6]
Ilmu Perjanjian Baru mulai melihat secara baru bahwa
pekabaran Yesus dan jemaat mula-mula adalah bersifat eskhatologis. Teristimewa J. Weiss menyingkapkan sifat yang
hakiki ini. Yesus, katanya, menantikan perubahan zaman yang akan berlangsung
dengan segera sebagai hasil kegiatan Allah yang baru. Kerajaan Allah bukanlah
suatu keadaan sempurna, yang lama kelamaan dicapai melalui perkembangan dunia
yang berlangsung terus. Kerajaan Allah itu akan datang dengan tiba-tiba dari
seberang melalui suatu bencana semesta alam yang mengerikan. Weiss juga menunjukkan pengaruh
apokalyptik Yahudi atas isi pekabaran Perjanjian Baru itu dan pengistilahan
eskhatologinya (“Kerajaan Allah”, “Anak Manusia”, “Kebangkitan”, “Hukuman”,
dsb). Ilmu Perjanjian Baru membulatkan upayanya terus untuk menganalisa dan
memahami arti dan wujud pekabaran Perjanjian Baru tentang kejadian-kejadian
yang berkenaan dengan masa terakhir.[7]
Dalam buku-buku teologi, khususnya buku-buku
dogmatika, eskhatologia sering begitu di persempit ruang cakupannya, sehingga
hanya di hubungkan dengan hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang akan
berlangsung sekitar kedatangan kembali ( = parousia) dari Yesus Kristus. Hal
ini terang sekali kita lihat dalam rumusan yang diberikan oleh Soedarmo – dalam bukunya “Ikhtisar Dogmatika” – tentang
eskhatologia. Ia katakan : “Eskhatologi adalah bagian dogmatika, yang
membicarakan pernyataan Kitab Suci tentang hal-hal yang terjadi sesudah orang
meninggal dan hal-hal yang akan terjadi pada zaman terakhir. Sesuai dengan
rumusan ini, maka unsur-unsur eskhatologia dalam dogmatikanya – maut,
kedatangan Kristus yang kedua kali, kebangkitan orang mati, langit baru dan
bumi baru – ia bahas secara “murni futuris”, tanpa menghubungkannya dengan masa
kini, apalagi dengan masalampau. Sebagai dasar pembahasannya ia hanya memilih
bagian-bagian kitab suci yang menunjuk ke masa depan, tetapi ke masa-kini dan
ke masa lampau, tidak ia pilih ( = pakai).[8]
Dalam buku “Dogmatika Masa Kini”karangan Van Niftrik-Boland, di situ kita
membaca: Dalam Pengakuan Iman Rasuli “eskhatologia” sebenarnya tidak terdapat
dalam pasal-pasal terakhir, tetapi dalam bagian kedua: dalam pasal yang
berbunyi “bahwa Yesus Kristus akan datang menghakimi orang yang hidup dan yang
mati”. Pusat ajaran tentang kejadian-kejadian pada hari-hari yang terakhir
ialah Yesus Kristus. Bagian ketiga
dari pengakuan iman rasuli menjelaskan arti bagian kedua. Bagian ketiga
menyatakan bahwa Roh Kudus membuat kita mendapat bagian dalam keselamatan yang
di sediakan bagi kita oleh Kristus dan
di dalam Kristus, yaitu keselamatan yang adalah suatu realitas dalam
hidup kita kini dan di sini. Tentang apa yang dikatakan Van Niftrik-Boland
maksudkan dengan keselamatan sebagai suatu realitas hidup kita kini dan di sini
dalam hubungannya dengan hidup yang kekal, mereka jelaskan seperti berikut:
Dalam Yoh 3:16, 36 dan 5:24 tidak dimaksudkan bahwa kita akan memperoleh hidup
yang kekal, tetapi bahwa kita sedang mempunyai hidup yang kekal. Dalam berbagai
bagian Alkitab nyata bahwa hidup yang kekal itu pertama-tama berarti: suatu
hidup yang tulen, yang sungguh, yang sejati (1 Tim. 6:19). Oleh percaya kepada Yesus Kristus, maka
sekarang ini juga kita mempunyai “hidup secara kekekalan”. Dalam Injil-injil
lain dan dalam surat-surat Rasul Paulus agaknya lebih di titik beratkan soal
masa depan (Mrk. 10:30; Mat. 25: 46; Rm. 6:22; Tit. 1:2).[9]
Sayang sekali, bahwa mereka – Niftrik-Boland – tidak konsekwen menterapkan pandangan ini dalam
uraian mereka tentang pengharapan masa depan. Apa yang mereka katakan tentang
hal ini kadang-kadang sangat bersifat “futuristis” dan hampir di lepaskan
seluruhnya dari hubungannya dengan karya keselamatan Allah pada masa lampau dan
masa kini. Hal ini nyata dari kutipan yang berikut, yang mereka berikan sebagai
konklusi dari uraian mereka tentang pengharapan masa depan: “bila kita hendak
melukiskannya secara positif, maka Keselamatan itu dapat disimpulkan: Tuhan
akan ada di sana, dan kita akan tinggal bersama-sama dengan Dia”. Memang
kematian dan kebangkitan Kristus mulailah Kerajaan Allah di dalam dunia. Tetapi
kerajaan itu belum penuh. Pembebasan terakhir masih kita nantikan. Karena itu
sesudah kenaikan Kristus ke sorga ( = masuk-Nya dalam kemuliaan), Tuhan Allah,
sebagai Allah Roh, melanjutkan karya-Nya menuju kepada tujuan yang akhir, yaitu
penggenapan Kerajaan Allah. Hal inilah yang kurang mendapat perhatian dan
tekanan dalam dogmatika Van
Niftrik-Boland. Pekerjaan Roh Kudus dalam karya mereka terlampau banyak
mereka lihat sebagai pekerjaan yang berlangsung dalam gereja, tetapi kurang
sebagai tindakan Allah di dalam dunia: pada satu pihak untuk menyelamatkan
(membebaskan) umat manusia dari segala macam kuasa dan pada pihak lain untuk
merealisasikan kerajaan-Nya.[10]
Beberapa teolog lain telah menganggap eskhatologi
sebagai doktrin yang berdiri sendiri. Bahkan ada pula teolog yang beranggapan
bahwa eskhatologi merupakan doktrin yang terpenting – eskhatologi meringkaskan
semua doktrin yang lain dan menggenapi. Akhirnya ada pula teolog yang
berpandangan bahwa eskhatologi merupakan teologi yang lengkap atau lebih tepat,
bahwa teologi yang lengkap adalah eskhatologi. Terdapat berbagai alasan mengapa
eskhatologi kini memperoleh perhatian yang begitu besar. Salah satunya adalah
perkembangan teknologi yang begitu pesat sehingga mengakibatkan terjadinya
perubahan dalam kebudayaan kita pada umumnya. Keadaan ini telah memunculkan
suatu ilmu yang baru, yaitu “futurisme”, atau pandangan yang mencari makna hidup
ini di masa depan, bukan di masa silam atau di masa kini. Di samping itu masih
ada bentuk eskhatomania lainnya,
sangat berbeda dalam orientasi dan isinya. Pendekatan yang digunakan menjadikan
eskhatologi itu teologi yang lengkap. Iman Kristen di pahami sebagai begitu
eskhatologis sehingga “eskhatologis” dikaitkan sebagai kata sifat kepada setiap
pengertian teologis. Eskatologi di lihat berada dibalik setiap hal yang disebut
dalam Perjanjian Baru. Bagaimanapun, dalam pandangan orang-orang yang mengikuti
pendekatan ini, pokok inti dari eskhatologi bukanlah masa depan tetapi gagasan
bahwa suatu zaman yang baru telah di mulai.[11]
Permasalah diatas semakin di pertajam dengan
munculnya sejumlah pandangan kaum liberal. Pertama,
pendekatan liberal dengan konsep
“Eskhatologi Modern”. Pandangan ini menolak ajaran tentang kedatangan Kristus
yang kedua kali. Menurut mereka, sebenarnya maksud dan pengajaran dari
kedatangan kedua itu adalah pernyataan kemenangan Allah atas segala kejahatan
di dunia. Kedua, Albert Schweitzer dengan eskhatologi Neomodern”. Menurut Schweitzer, Yesus mengkhotbahkan bahwa
kerajaan yang akan datang harus dimengerti dan diterima secara etis, bukannya
secara supranatural, sebagai sesuatu yang sudah diakui, bukannya di harapkan. Ketiga, C. H. Dodd dengan “Eskhatologi Kekinian”. Menurut Dodd, Isi
pengajaran Yesus bukanlah sesuatu atau kerajaan yang akan datang. Dengan adanya
kedatangan Yesus yang pertama, sesungguhnya kerajaan Allah sudah tiba dan
digenapi. Keempat, Rudolf Bultmann dengan Eskhatologi
“Eksistensi”. Bultmann berkesimpulan bahwa Kerajaan Allah menunjuk kuasa
anugerah dan pengampunan-Nya ketika manusia percaya dan menyerahkan diri kepada
Allah. Bultmann menolak adanya penebusan dan penyempurnaan dunia. Kelima, Jurgen Multman dengan “Eskhatologi Politik”. Moltmann berpendapat
bahwa kita tidak boleh secara pasif memegang kebenaran tentang datangnya hari
yang akan datang, sebab masa yang akan datang begantung pada usaha kita.
Pandangan-pandangan ini tentunya merupakan isu-isu
eskhatologis. Ajaran tersebut telah menguasai dan mempengaruhi pemahaman
serta keyakinan sebagian besar umat Tuhan di dunia saat ini.[12]
1.3. Ide-ide Alkitabiah Tentang Masa
Eskhatologis-Kritologis
1.3.1. Menurut Kitab Daniel
Konsep eskhatologis dalam kitab Daniel dilukiskan
dengan Kerajaan Allah yang di perkenalkan dalam pasal dua sebagai Kerajaan yang
tak pernah binasa (Dan. 2:24). Kendati pun dalam beberapa pengertian Allah
sudah memerintah Kerajaan yang kekal (Dan. 4:3, 34-35) sedangkan kerajaan
bangsa-bangsa di lihat sebagai kerajaan yang bersifat sementara dan menjalankan
kekuasaan yang terbatas. Kenyataan yang saling berhubungan untuk konteks ini
adalah: memperlihatkan perbedaan kerajaan manusia dengan kerajaan Allah akan
datang dan kekal selama-lamanya. Selain itu, kitab Daniel juga melukiskan
penglihatan-penglihatan tentang kebangkitan dan keruntuhan beberapa kerajaan
dan memberi harapan tentang kemenangan umat Allah pada akhir zaman. Dalam Kitab
Daniel ditemukan juga nubuatan-nubuatan mengenai kebangkitan orang mati yang
paling jelas dalam Perjanjian Lama: “Banyak
diantara mereka yang sudah mati akan hidup lagi, sebagian akan menikmati hidup
yang kekal dan sebagian lagi akan mengalami kehinaan yang kekal juga” (Dan.
12:2).[13]
1.3.2.
Menurut
Surat-surat Paulus
Menurut karya tulis Rasul Paulus yang tertuang dalam
surat-surat yang telah ia kirim ke berbagai jemaat, ia juga memiliki pandangan
bahwa kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai peristiwa yang sudah dekat.
Seperti dalam 1 Tesalonika 4:13 “kita
yang hidup yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-sekali tidak akan
mendahului Mereka yang telah meninggal”. Dalam perikop lain juga banyak
menunjukkan peristiwa ini sudah dekat, misalnya dalam 1 Korintus 7: 26
berbicara mengenai waktu darurat sekarang dan dalam 1 Korintus 7:9 berbicara
tentang waktu yang telah singkat, selain itu dalam 1 Tesalonika 5:4 dikatakan
bahwa Ia akan datang seperti pencuri. Maka dapat dipastikan bahwa Paulus
menerima pandangan tentang kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai peristiwa
yang sudah dekat. Paulus juga mengungkapkan beberapa peristiwa yang muncul yang
akan mendahului kedatangan Kristus yang kedua kali. Hal ini tertuang dalam 1
Tesalonika 4:13, tanda-tanda yang disebutkan yakni: kedatangan Yesus Kristus
yang kedua kali akan di dahului suara keras, seruan penghulu malaikat dan bunyi
sangkakala, setelah itu, orang-orang percaya akan diangkat bersama-sama untuk
menyongsong Tuhan di angkasa. Selain itu, Paulus juga mengajarkan bahwa sebelum
kedatangan Yesus yang kedua kali akan ada penyangkalan-penyangkalan yang akan
menyangkal adanya keyakinan bahwa hari Tuhan akan tiba (2 Tes. 2:2), akan
muncul anti Kristus (2 Tes. 2:9) dan pemberontak yang luar biasa dan murtad (2
Tes. 2:3).[14]
1.3.3.
Menurut
Surat-surat Petrus
Penulisan surat 1 Petrus sangat dipengaruhi oleh
masalah seputar eskhatologi, yang menjadi gagasan utamanya yaitu “kesudahan
segala sesuatu yang sudah dekat” (1 Petrus 4:7). Namun dapat dikatakan bahwa
Allah memelihara umat-Nya menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan
pada akhir zaman (1 Petrus 1:5), ini merupakan suatu pernyataan yang tidak
mengandung gagasan bahwa kedatangan Kristus sudah dekat. Surat 2 Petrus
mengutamakan penghakiman yang akan datang dan keadaan akhir dari parousia. Petrus memberikan kepastian
kepada para pembaca suratnya bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri, dan
ia juga menyatakan pada hari Tuhan langit dan bumi akan lenyap (2 Ptr. 3:10).
Dan pada saat ini akan dimulai Kerajaan Kristus yang kekal (2 Ptr. 1-11). Dan
urutan kedatangan Kristus menurut surat 2 Petrus adalah adanya guru-guru palsu
(2 Ptr. 2:1-3), Allah akan menyelamatkan orang-orang yang saleh dari pencobaan
dan penyiksaan orang jahat pada hari penghakiman (2 Ptr. 2:9-10), tampillah
orang-orang pengejek yang hidup menurut hawa nafsunya (2 Ptr. 3:3-4), dan di
hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti
satu hari (2 Ptr. 2:8), kedatangan Kristus dengan tiba-tiba (2 Ptr. 3:10).[15]
1.3.4.
Menurut
Injil Sinoptik
Yesus menyatakan bahwa pada saat ia datang kembali
ia akan membangkitkan orang-orang yang mati, mengadakan pengadilan terakhir
bagi setiap manusia yang menerima dan menolak karya penyelamatan-Nya, Ia akan
mendirikan Kerajaan kekal bagi kemuliaan orang-orang yang akan menjadi
milik-Nya dan menghukum orang-orang yang menolak-Nya. Dalam catatan mengenai
khotbah akhir zaman yang Yesus ajarkan selama hidup-Nya, ada beberapa peristiwa
yang akan terjadi sebelum hari itu datang, yaitu akan ada peperangan, gempa
bumi, kelaparan, penganiayaan (Mrk. 13:7-9, Mat. 24:69; Luk. 21:10-12),
kemudian muncul nabi-nabi palsu yang akan menyesatkan banyak orang (Mat. 24: 5,
24; Mrk. 13: 6, 22; Luk. 21:10-12). Selain itu, ada juga tanda-tanda khusus
yang terjadi di langit seperti matahari dan bulan akan menjadi gelap dan
terjadi goncangan-goncangan yang besar di langit yang akan terjadi tepat
sebelum kedatangan Yesus yang kedua kali (Mat. 24:29-30) dan Injil harus
diberitakan ke seluruh pelosok dunia (Mrk. 13:10, Mat. 24:14).[16]
1.3.5.
Menurut
Kitab Wahyu
Ajaran yang lebih bersifat moderat mengenai masa
yang akan datang melihat bahwa dalam bagian pertama kitab ini (Why. 1 – 6)
terdapat penerapan yang bersifat sejarah; ketujuh jemaat itu menggambarkan
keseluruhan jemaat Kristen dan materai-materai itu menggambarkan macam-macam kekuatan
dalam sejarah yang terjadi pada masa sebelum akhir zaman. Menurut pandangan ini
hanya Wahyu 7 – 22 yang berhubungan dengan masa yang akan datang yang
mengakhiri sejarah manusia. Kitab wahyu inilah yang paling memusatkan tentang
kedatangan Kristus yang kedua kali sebagai puncak zaman ini. Tidak pernah ada
keraguan bahwa kedatangan Kristus itu menandakan suatu kemenangan. Anak Domba
memegang kekuasan seluruhnya dan kedatangan itu digambarkan sebagai perwujudan
yang terakhir dari kemenangan-Nya. Kitab ini memakai peristiwa kedatangan itu
sebagai kunci untuk sejarah Kristen.[17]
1.4. Dasar-Dasar Eskatologis
Dalam Perjanjian
Baru pengertian eskhatologi yang bersifat menuju ke masa depan (futuris) di bedakan daripada yang menyangkut masa sekarang (presentis). Lukas menyajikan eskhatologi yang
sebagian besar bersifat futuris. Roh, gereja dan misi tampak sebagai semacam
pengganti untuk eskhaton yang telah dengan lama di nantikan. Meskipun demikian,
Lukas menantikan kerajaan Allah dengan segera (Luk 11: 20; 17: 21) di mana ia
bergantung pada sumber tradisi yang lebih tua. Sama halnya dengan Markus dan Matius yang menantikan kerajaan Allah dengan lambat (Mrk. 13; Mat.
6:10; 25:1) maupun dengan segera (Mrk. 1:15; Mat. 4:17; 5:10). Eskhatologi yang
sebagian besar bersifat presentis terdapat dalam Injil Yohanes (Yoh. 3:15; 5:24; 18:36 – tetapi lain halnya dengan
Yoh. 5: 28). Injil Yohanes menonjol konsepsi eksistensial-individual.
Pertentangan diantara aspek “sudah” dan “belum” itu menjadi ciri khas teologi Paulus. Paulus dapat mengatakan bahwa
kematian dan kebangkitan sudah terjadi sekarang (Rm. 6:3; Kol. 2:12) dan
sekaligus baru terjadi pada masa mendatang (1 Kor 15: 15:12). Ciptaan baru
sudah terealisasi sekarang (2 Kor 5: 17) dan sekaligus masih dinantikan (Rm.
8:19). Konsepsi penantian yang dekat (1 Tes. 5:2) dan konsepsi penantian yang
masih jauh (2 Tes 2:3) muncul berdampingan secara tak seimbang antara yang satu
dengan yang lainnya. Eskhatologi yang bersifat futuris-universal di paparkan
dalam Kitab Wahyu. Di sini dibedakan
peristiwa-peristiwa berikut: Kedatangan Tuhan kembali (parousia) (19:11); setan dibelenggu selama seribu tahun,
pembangkitan orang-orang syahid dan pengadilan terakhir (20:11); Kerajaan Allah
yang kekal (21:1 – 22:1). Jejak-jejak dari suatu eskhatologi alam baka yang dimengerti tanpa batas
waktu juga tampak dalam Perjanjian Baru, misalnya Lukas 16:22; 23:43; 2
Korintus 5:8; Filipi1:23.[18]
Kematian
dalam
Perjanjian Baru dimengerti sebagai awal dan akhir kehidupan (Yoh. 11:25),
kerugian (Rm. 5:23) dan keuntungan (Flp 1: 21), hukuman karena dosa (Mat.15:4;
Rm. 1:32; 5:12; 6:21-23; 1 Yoh. 5:16; Yak. 1:15) dan penebusan (Flp. 1:23). Jiwa menurut Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru, bukanlah suatu bagian manusia yang dapat dipisahkan dari
tubuhnya, melainkan manusia itu sendiri. Jiwa bukanlah suatu bagian dari
manusia tetapi keakuannya. Dengan menentang aliran Gnostik (gnosis), Paulus memperjuangkan konsep kebangkitan tubuh, namun Paulus, berbeda
dengan pandangan Yahudi, tidak mengartikannya secara jasmaniah, melainkan
Paulus menggunakan istilah soma
pneumatikon (tubuh fisik manusia) (1 Kor. 15:44).[19]
Dalam Gereja
Purba ketegangan mendasar antara eskhatologi futuris dan eskhatologi
presentis semakin kurang nyata. Sebagai gantinya muncul suatu eskhatologi yang
berpusat pada individu. Dan gagasan itu didukung oleh kepercayaan bahwa jiwa
tidak dapat mati. Agustinus tidak
menerima lagi kepercayaan akan kerajaan seribu tahun (millenium) dalam pengertian materialnya. Namun dalam bentuk
rohaninya ia menerimanya dan menyamakannya dengan kurun waktu yang diberikan
kepada gereja sebelum kedatangan Kristus.
Kebahagiaan abadi di bayangkan Agustinus sebagai “penglihatan dan
penikmatan Allah” (visio ac fruitio dei).
Kebangkitan orang-orang mati dijelaskan Apostolikum
sebagai “kebangkita daging”.
Kebangkitan itu oleh Origenes dimengerti
secara rohani saja. Dalam tulisan Origenes juga sudah muncul gagasan-gagasan
tentang api penyucian sesudah kematian
dan tentang apokatastasis panton (penyelamatan
semua orang pada akhirnya; nereka tidak diartikan secara kekal melainkan
sebagai api penyucian saja). Apostolikum Gereja Purba mengakui topik-topik
eskhatologi yang berikut: kedatangan Kristus kedua kali, penghakiman terakhir,
kebangkitan daging dan hidup yang kekal.[20]
Pada Abad Pertengahan
Kristus pada pokoknya diartikan sebagai hakim, dan ketakutan akan
penghukuman-Nya menjadi bagian utama dari kesalehan. Oleh Konsili Lateran ke-5
pandangan tentang keabadian jiwa menjadi dogma Gereja. Kemudian Reformasi menentang “agama yang menakutkan”
dari abad pertengahan itu dan juga memakai “Injil” sebagai “Hukum Taurat”. Pada
dasarnya Kristus diartikan kembali sebagai penyelamat dan bukan sebagai hakim.
Sebagaimana tampak dalam Konfesi Augsburg
III dan XVII Reformasi menerima
eskhatologi tradisional, sedangkan yang ditolak adalah pandangan gereja Abad
Pertengahan tentang api penyucian maupun penantian kerajaan seribu tahun
(khiliasme) kaum Anababtis dan ajarannya tentang apokatastasis panton. Pandangan Luther
dipengaruhi oleh suatu sikap Eskhatologis yang menunggu kedatangan Kristus
kedua kalinya dengan segera dan dalam segala hal merasa diperhadapkan dengan
“yang terakhir”. Eskhatologi Abad
Ortodoksi tetap berada dalam alur-alur ajaran tentang eskhatologi yang
telah di formulasikan oleh Gereja Purba dan Skolastik. Pada Abad Modern gagasan tentang suatu
penghakiman terakhir kepada semua manusia tidak ditekankan lagi. Cakrawala
suatu penghakiman terakhir yang besar lalu diperkecil menjadi “penghakiman
intern” dalam hati nurani setiap pribadi. Di satu pihak keabadian jiwa
disetujui , tetapi di pihak lain kerajaan Allah diinterpretasikan melulu secara
imanen dan etis. Menurut F.
Schleiermacher ajaran tentang hal-hal terakhir tidak sama bobotnya dengan
topik-topik dogmatika lainnya. Dalam sistem pemikiran materialistis sebagaimana
dikembangkan oleh L. Feuerbach dan K. Marx, eskhatologi tidak hanya
mengalami demitologisasi, bahkan juga eliminasi. Menurut mereka, eskhatologi
membelokkan perhatian manusia dari dunia ini dan mengarahkannya ke ilusi akan
suatu dunia akhirat yang lebih baik.[21]
1.5. Eskhatologi Presentis
Eskhatologi presentis adalah eskhatologi yang
menyangkut masa sekarang. Eskhatologi yang sebagian besar bersifat presentis
terdapat dalam Injil Yohanes (Yoh.
3:15; 5:24; 18:36 – tetapi lain halnya dengan Yoh. 5: 28).[22]
Dalam Injil Yohanes tentunya terdapat keterangan bahwa Yesus menganggap waktu
sekarang ini sebagai waktu yang menentukan. Orang-orang yang telah melihat
kemuliaan-Nya (Yoh. 1:14). Penghukuman tidak hanya merupakan peristiwa yang
terjadi pada masa yang akan datang, tetapi lebih merupakan kenyataan yang
terjadi pada masa sekarang. Barang siapa yang tidak percaya berada dibawah
hukuman (Yoh. 3:18). Penghukuman atas dunia ini berlangsung “sekarang” (Yoh.
12:31). Walaupun aspek-aspek ini tidak dapat disangkal, tetapi tidaklah benar
untuk membatasi eskhatologi dalam Injil Yohanes hanya semata-mata dalam
pengertian sekarang. Ada beberapa perikop (Yoh. 5:28-29; 6:39-40, 44, 54;
12:48) yang memberikan penekanan pada masa yang akan datang yang tidak dapat
disesuaikan dengan tema mengenai eskhatologi yang sudah menjadi keyataan
tersebut.[23]
Ada juga beberapa Injil Sinoptis yang mengklaim
bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Hal ini tampak dalam pengajaran Yesus, di
mana Ia menggambarkan mengenai Kerajaan Allah sebagai suatu fenomena masa kini.
Sebagai contoh, dalam Lukas 11: 14-22, secara khusus ayat 20, terbaca di sana:
“tetapi jika Aku mengusir setan dengan jari Allah, maka Kerajaan Allah telah
datang kepadamu” (Matius 12:28 ditulis: “melalui kuasa Allah”). itu merupakan
klaim Yesus bahwa dengan mengusir setan, maka Kerajaan Allah telah datang (ephthasen). Robert H. Stein sebagaimana
di kutip oleh Stevri menjelaskan
ayat tersebut bahwa: Menurut teks ini, Yesus melihat dalam pelayanan kesembuhan
orang-orang yang dirasuk setan, suatu bukti bahwa Kerajaan Allah telah menjadi
nyata dalam pelayanan-Nya. Itu merupakan kenyataan masa kini. Setan telah di
kalahkan, ia telah jatuh (Luk. 10:18), bahkan ia sekarang telah dibelenggu
(Mrk. 1:27, 39) dan murid-murid (Mrk. 6:7; Luk. 10:9). Dari apa yang sudah dikemukakan di atas, maka
pelayanan Tuhan Yesus merupakan wujud Kerajaan Allah yang tampak sebagai
realitas masa kini. Stein menyimpulkan bahwa: “perkataan-perkataan yang khusus,
mengajarkan bahwa Kerajaan Allah adaah suatu kenyataan masa kini dalam
pelayanan Yesus. Injil dengan jelas mengatakan bahwa Yesus mengajar mengenai
kedatangan-Nya yang sudah lama di tunggu-tunggu dan lama dicari-cari, Kerajaan
Allah telah tiba sekarang.[24]
Selain itu, Rudolf
Bultmann, seorang yang percaya diberi eksistensi eskhatologis, merancang
suatu eskhatologi presentis yang bersifat “eksistensial” yang di dalamnya masa
keselamatan sudah mulai bagi orang-orang yang percaya. Bagi Bultmann berlaku:
“Eskhatologi bukanlah akhir yang mendatang dari sejarah, melainkan sejarah
sedang di telan oleh eskhatologi”. Dia juga mengatakan: “Masa sekarang di beri
sifat yang eskhatologis melalui pertemuan dengan Kristus atau dengan Firman
yang memberitakan-Nya, sebab dalam pertemuan itu dunia dan sejarah mencapai
sasarannya dan seorang yang percaya sebagai mahluk baru telah kehilangan sifat
duniawi”. Cara Perjanjian Baru berbicara tentang parousia, akhir dunia dan kebangkitan di anggap Bultmann sebagai
mitologis. Serupa dengan itu, pandangan bahwa jiwa manusia sesudah kematiannya
naik ke sorga di anggap tidak dapat di terima oleh manusia modern. Kalau hal
itu dibicarakan dengan lebih dahulu membuka “pakaiannya yang mitologis”, maka
yang tinggal hanyalah inti sarinya, yaitu kemenangan atas kematian dan masa
depan Allah sebagai pemenuhan kehidupan manusia. Dalam pengertian ini, Bultmann
mengatakan bahwa kebangkitan sudah terjadi kini dan di sini (hic et nunc). Juga parousia dan penghakiman terakhir dianggap sedang terjadi sekarang
di dalam kesejarahan eksistensi dan bukan baru terjadi pada akhir sejarah.
Istilah “keselamatan kekal” juga tidak di hubungkan dengan berakhirnya dunia
secara universal, melainkan sebagai pengasingan diri masing-masing individu
dari dunia. Segala angan-angan akan sukacita manusia pada masa depan sesudah
kematian hanya dapat dimengerti sebagai cita-cita fantasi. Menurut Bultmann,
melepaskan diri dari angan-angan itu adalah “keterbukaan kepercayaan yang
radikal akan masa depan Allah”.[25]
Setiap orang yang mendengar pekabaran Injil berhadapan
langsung dengan suatu panggilan, yang menuntut keputusan yang tegas darinya.
Bersediakan orang itu agar keselamatan dari Kristus yang ditawarkan melalui
pekabaran Injil, menjadi sumber seantero eksistensinya?. Barangsiapa yang
benar-benar terkena pekabaran itu dan memilih tawarannya denga kepatuhan iman,
dia sudah menjumpai kepribadiannya yang asli. Orang itu hidup dari dan di dalam
Kristus. Dan, karena Kristus adalah “penyudah sejarah” (Rm. 10:4), maka orang
yang hidup “dalam Kristus” sudah menghadapi akhir sejarah dan telah memasuki
eskhaton. Saat eskhatologis sudah sampai dan masa depan itu sudah terwujud
baginya yang telah melenyapkan segala usaha untuk mendapa hidup dan
kemungkinan-kemungkinan insani/jasmani
dan yang eksistensinya di dalam iman berdasarkan pernyataan keselamatan
dari Kristus. Kayu salib Yesus Kristus yang diberitakan kepadanya mengakhiri
jalan keselamatan oleh usaha-usaha manusia sendiri dan membuka satu jalan
keselamatan yang baru.[26]
Hukuman terakhir, kebangkitan orang mati dan
kehidupan yang kekal, menurut Yohanes sudah terwujud dengan kedatangan Yesus.
bagi orang yang bertemu dengan Yesus tibalah saat eskhatologis yang menentukan
sifat kehidupan mereka selanjutnya secara pasti. Kejadian eskhatologis ini merupakan tujuan
seluruh kedatangan Yesus yang diberitakan dalam Injil Yohanes: “Supaya kamu
oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” Yoh. 20:31. Dalam Yesus Kristus,
pada masa penggenapan ini tersedia terang yang benar (1:9; 8:12), air hidup
(4:4), roti hidup (6:35). Kristus datang untuk melimpahkan
pemberian-pemberian-Nya secara berlebihan kepada mahkluk-mahkluk-Nya.[27]
Yohanes juga melaporkan perkataan Yesus yang
menunjukkan bahwa kehidupan kekal dan kebangkitan adalah pengalaman masa kini,
yang dialami bukan peristiwa masa depan, “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia
beroleh hidup yang kekal ....” (Yoh. 3:36); Aku berkata kepadamu: sesungguhnya
saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara
Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya akan hidup (Yoh. 5:25).[28]
Injil Yohanes mengajarkan tentang Kristologi atas.
Yohanes bisa berbicara tentang Firman yang sejak awal berada pada Allah dan
adalah Ilahi, lalu menjadi daging: Anak Manusia (Roti Hidup), turun dari sorga,
dari Allah dan sesungguhnya sudah ada sebelum Yohanes Pembabtis. Kristologi
dari atas menekankan ciri ilahi Kristus.[29]
Metode Kristologi Atas mulai dengan Anak Allah yang ilahi, kemudian bertanya
bagaimana Ia menjadi manusia.[30]
Injil Yohanes memandang karya keselamatan Allah sebagai hal surgawi, namun
nyata suatu dunia diatas keberadaan duni sekarang. Anak Manusia (Yesus) itu
dipandang sebagai Allah yang turun ke dunia menjadi manusia Yoh. 3:13). Yesus
itu datang dari atas/Allah/sorga oleh karena ia tidak berkenan dunia binasa
dalam keberdosaannya sehingga Ia turun ke tengah-tengah kehidupan manusia guna
menunjukkan jalan keluar (keselamatan) kepada manusia (Yoh. 3:16). Apa yang
ditawarkan-Nya kepada manusia adalah “kehidupan kekal”, yaitu kehidupan yang
asalnya dari sorga dan bukan dari dunia. Artinya ada inkarnasi Allah menjadi manusia.
Ia tidak dilahirkan tetapi datang dari Allah (Yoh. 1:1+14). Yesus itu adalah
Allah yang menjadi manusia dan diam diantara kita dan tidak naik kesorga karena
Ia berasal dari sorga. Oleh karena itu eskhatologi itu (peristiwa di seputar
kedatangan Yesus itu: kebangkitan, penghakiman, hidup yang kekal terjadi
sekarang ini, kini dan disini (Yoh. 5:24-25). Karena menurut Yohanes manusia
sudah mati karena keberdosaannya, maka dikaruniai Anak-Nya supaya yang percaya
dan mendengar dibangkitkan (Yoh. 5:24-25).[31]
Sebagai kesimpulan bahwa
eskhatologi Presentis adalah eskhatologi kekinian, kini dan disini, yang di
sajikan oleh Injil Yohanes. Yohanes membayangkan bahwa semua manusia sudah mati
karena dosanya, sebab itu, dunia ada dalam kebinasaan/kegelapan. Tetapi
terdorong oleh kasih-Nya yang besar, Allah mengirimkan Anak-Nya supaya dunia
tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dalam Konsepsi seperti itu,
Yohanes membuka Injilnya dengan Firman yang menjadi Manusia dan diam diantara
kita (Yoh. 1:1+14). Firman yang diam diantara kita inilah
yang disebut eskhatologi presentis. Dengan adanya eskhatologi maka akan terjadi
peristiwa: kebangkitan daging, dan hidup yang kekal (Yoh. 5:24-25). Orang mati
itu adalah orang berdosa, maka orang mati yang yang hidup ini, itulah yang
bangkit (Yoh. 5:25). Tentang penghakiman di jelaskan Yohanes dalam pasal
3:17-19 bahwa orang yang tidak percaya, ia telah berada dibawah hukuman.[32]
1.6. Eskhatologi Futuris
Menurut pandangan Pertama[33],
ajaran Yesus mencerminkan suatu “eskhatologi futuris” atau “eskhatologi
konsisten”. Maksud kata futuris di sini adalah masa depan dari sudut pandang
Yesus dan bukan dari sudut pandang masa kini. Ada banyak orang Kristen
berpegang pada eskhatologi futuris. Mereka mengharapkan kedatangan Kerajaan
Allah dalam bentuk nyata di masa depan. Biasanya mereka mengidentifikasikan
kedatangan kerajaan Allah seperti ini dengan kedatangan Yesus yang kedua
kalinya.[34]
Eskhaologi ini di anut oleh Injil Sinoptik. Lukas
menyajikan eskhatologi yang sebagian besar bersifat futuris. Roh, gereja
dan misi tampak sebagai semacam pengganti untuk eskhaton yang telah dengan lama
di nantikan. Meskipun demikian, Lukas menantikan kerajaan Allah dengan segera
(Luk 11: 20; 17: 21) di mana ia bergantung pada sumber tradisi yang lebih tua.
Sama halnya dengan Markus dan Matius yang menantikan kerajaan Allah
dengan lambat (Mrk. 13; Mat. 6:10; 25:1) maupun dengan segera (Mrk. 1:15; Mat.
4:17; 5:10).[35]
Yang mempopulerkan gagasan bahwa Yesus menganut eskhatologi futuris adalah
Albert Schweitzer, teolog Jerman yang menekankan bahwa segenap pikiran Yesus
terarah kepada kedatangan Kerajaan Allah dengan segera.[36]
Schweitzer percaya bahwa suatu kerajaan sorgawi di masa depan sejak semula
merupakan dasar khotbah Yesus. Yesus mengkhotbahkan suatu kerajaan di masa
depan yang secara radikal adikodrati, yang datang dengan tiba-tiba dan sama
sekali terputus dari masyarakat manusia sebagaimana dialami sekarang ini.[37]
Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, yang
sudah mengalahkan segala kuasa dosa, maut dan iblis, di dalam Kematian-Nya
serta kebangkitan-Nya. Setiap orang Kristen percaya kepada-Nya sebagai Tuhan
yang kini duduk di sebelah kanan Allah. Oleh sebab itu, setiap orang percaya
mempunyai keyakinan, bahwa ia juga berkuasa di masa depan (Futuris). Di dalam
pengakuan iman terdapat suatu kata kerja dalam tasrif Futurum yang menunjuk kepada suatu keadaan atau peristiwa di masa
depan, kepercayaan kepada Kristus yang telah naik ke Surga, yang kini duduk di
sebelah kanan Allah, Bapa yang Maha Kuasa, “dari (tempat) mana ia akan datang
(untuk) menghakimi segala orang yang hidup dan yang mati”. Karena orang Kristen
menyadari bahwa ia hidup di antara dua waktu, yakni ia hidup dengan mengingat
penyataan Allah di masa lampau dan menanti-nantikan penyataan Kerajaan-Nya di
masa depan. Hal ini terdapat dalam Injil Lukas yang menyajikan eskhatologis
yang sebagian besar bersifat Futuris.[38]
Kerajaan Allah adalah realisasi pemerintahan dan
kedaulatan serta penikmatan berkat-berkat Allah yang menyertainya. Memang, ini
merupakan pengajaran Perjanjian Baru yang jelas, di mana kehendak Allah tidak
di realisasikan secara penuh atau sempurna di saat ini. Alkitab berbicara
mengenai seluruh sejarah manusia yang berada di tangan Allah, tetapi mengarah
kepada realisasi akhir Kerajaan Allah dalam satu dunia yang melampaui sejarah,
dalam suatu aturan yang baru yang berbeda keberadaannya. Kerajaan Allah dalam
perspektif Yesus, merupakan suatu pengharapan masa yang akan datang juga. Yesus
menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang akan datang. Matius berbicara mengenai
kedatangan Anak Manusia dalam kerajaan-Nya dengan kemuliaan (Mat. 16:27, 28).
Markus berbicara mengenai Kerajaan Allah yang datang dengan kuasa (Mrk. 9:1).
Kerajaan Allah di masa yang akan datang adalah sangat kontras dengan Kerajaan
Allah masa kini. Kerajaan Allah masa kini masih terdapat kematian, sedangkan
Kerajaan Allah masa yang akan datang, adalah kehidupan kekal. Zaman ini,
orang-orang benar dan orang jahat disatukan dalam satu dunia, sedangkan
Kerajaan Allah masa yang akan datang orang benar dan orang jahat akan di
pisahkan, semua orang jahat akan di hukum dalam hukuman kekal. Karena Kerajaan
zaman sekarang, setan di pandang sebagai allah dari zaman sekarang, namun zaman
yang akan datang, adalah Kerajaan Allah, pemerintahan Allah tentu akan
menghancurkan setan, dan kebenaran akan mengungkapkan segala yang jahat.[39]
Bila kita membaca Injil Sinoptik, tidak mustahil
menentukan garis-garis besar pemberitaan Yesus tentang eskhatologis dan tindakan
Allah pada masa yang akan datang.[40]
Dalam Injil sinoptik ini, Yesus itu dijelaskan sebagai Manusia yang menjadi
Allah dan naik ke sorga dan akan datang dari sana untuk menghakimi orang yang
hidup dan yang mati. Itu sebanya ke tiga Injil sinoptik mengkhotbahkan tentang
akhir zaman dan akhir zaman itu merupakan peristiwa yang terjadi seputar
kedatangan Yesus yang kedua kali (Mat. 24:25; Mark 13; Luk. 21:25-38).[41]
Jadi eskhatologi yang futuris beranggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang
digambarkan merupakan peristiwa-peristiwa yang masih akan datang. Semuanya baru
akan digenapi di akhir zaman.[42]
Sebagai
kesimpulan bahwa eskhatologi futuris adalah eskhatologi yang menyangkut masa
yang akan datang (keakanan) akan ada disana eskhatologi terjadi. Eskhatologi ini
disajikan oleh Injil sinoptik yang menyediakan perikop-perikop tentang akhir
zaman (Mat. 24-25; Mark. 11-13; Luk. 21). Eskahatologi presentis menggambarkan
batas zaman dan disana tampil Yesus di langit, dan ketika itulah masa manusia
yang mati dibangkitkan, yang hidup diubahkan lalu semua di hakimi dan
terjadilah pemisahan antara orang yang menghuni kerajaan sorga dan kerajaan
maut. Yang menghuni kerajaan sorga disebut hidup yang kekal dan kerajaan maut
disebut maut yang kekal.[43]
1.7. Eskhatologi Presentis-Futuris
Eskhatologi prensentis-futuris disajikan oleh
surat-surat Paulus (2 Tim. 4:1; 1 kor. 11:28, 31, dll).[44]
Selaku orang Yahudi, Paulus dibesarkan dalam lingkungan dan alam pemikiran
Yahudi. Sebagai orang Farisi tentulah pengetahuannya di bidang teologi Yahudi
sangat mendalam dan azas-aas pengharapan apokalyptis tidak asing baginya.
Tetapi sesudah pertobatannya, Paulus di didik dalam lingkungan jemaat Hellenis
yang pengaruhnya besar sekali dalam pemberitaannya sebagai rasul. Pemikiran
apokalyptik berkisar pada tindakan Allah di masa mendatang. Dengan sangat
terperinci, apokalytik Yahudi menghitung-hitung tahap demi tahap
kedatangan peristiwa yang dinantikan
serta melukiskan seluk beluk drama kiamat dengan warna yang tua dan muda. Sebaliknya
Hellenisme cenderung pada suatu perasaan yang ingin menikmati kekinian
keselamatan, yang dihayati dalam ibadat misalnya. Paulus mengenal kedua konsep
itu dan memanfaatkannya untuk posisinya sendiri. bila dalam eskhatologinya
Paulus mau menekankan aspek “”kini”, di gunakanlah cara-cara paparan dari alam
pikiran Hellenisme. Umpamanya, interpretasinya tentang arti eskhatologis
pembabtisan (Rm. 6:3) menggunakan bayangan helenis. Kehadiran Yesus Kristus
dalam Jemaat-Nya dijelaskan dengan gelar Kristologi, yang berkembang dalam
jemaat Kristen Yunani, yaitu Tuhan (Kyrios).
Jika Paulus berusaha menggariskan masa depan Allah, dipergunakanlah istilah
apokalyptik, dan ia berbicara mengenai :hari Tuhan” 1 Tes. 5:2; 1 Kor. 1:8;
Flp. 1:6) dan “kebangkitan” (khususnya dalam 1 Kor. 15). Rentetan peristiwa
yang akan terjadi pada parousia
secara jelas digambarkan dengan alat-alat teologis dan apokalyptik (1 te.
4:15-17).[45]
Terhadap kedua konsep tersebut Paulus berjaga-jaga,
agar kekhususan pemberitaan eskhatologis Kristen tidak hilang. Terlebih-lebih
terhadap aliran Gnosis Kristen yang
berkembang dalam lingkaran Hellenisme, warisan Apokalyptik Yahudi di manfaatkan
dengan konsekwen. Paulus melihat bahaya yang serius bahwa masa depan Allah dan
pengharapan Kristen terlebur dalam enthusiasme
Gnosis, yang secara itu-itu saja memeriahkan segala pengalaman rohani yang
tersedia kini dan di sini. Sehingga ditekankan: “Sebab kita diselamatkan dalam
pengharapan” (Rm. 8:24). Cara pemikiran Apokalyptik itu turut membantu agar
pengertian Kristen tentang tindakan Allah dalam sejarah jangan dilepaskan. Tetapi, karena Paulus yakin bahwa
eskhaton sudah mulai oleh sebab Kristus telah mati dan bangkit, maka suatu
konsep futuris belaka tidak cocok
baginya. Yesus hadir di tengah-tengah jemaat dan membimbing dengan kebebasan
dalam kuasa Roh Kudus (2 Kor. 3: 17). Lagi pula Paulus sadar bahwa sistem
apokaliyptis kurang sanggup menjelaskan kepada orang Kristen bahwa mereka sudah
memasuki zaman penggenapan yang mulai berlangsung. Bagaimana bentuk hidup
eskhatologis itu dewasa ini?. Pemberitaan ekhatologis yang tepat, menurut
Paulus haruslah menyifatkan eksistensi orang Kristen yang berada dalam semacam
ketegangan. Pada satu pihak, keselamatan sudah
terwujud (segi “sudah”) dan pada
pihak lain, kedudukan orang Kristen yang sebenarnya sebagai anak-anak Allah belum kelihatan dalam dunia (segi
“belum”). Orang Kristen berada ditengah jalan diantara kedua pola waktu
tersebut. Jadi, Paulus mengelakkan suatu paparan yang berat sebelah sambil
mempergunakan sumbangan teologis baik dari Hellenisme maupun dari apokalyptik
Yahudi secara positif-kritis.[46]
Dengan melandaskan pemikiran atas surat-surat
Paulus, E. Kasemann dapat
memperlihatkan bahwa Paulus mengembangkan eskhatologinya yang futuris dalam
pertentangannya dengan eskhatologi presentis kaum entusias. Bagi Paulus,
manusia bukanlah oknum religius belaka, melainkan dia dianggap terlibat dalam
sejarah keselamatan kosmis. Kehidupan manusia tampak sebagai kancah pergolakan
antara Allah dan kuasa-kuasa dunia ini. Paulus tidak sependapat dengan golongan
entusias yang ingin mendemonstrasikan “kebebasan sorgawi”, sebab Kristus telah
mengalahkan segala penguasa dan kuasa. Paulus mengetahui bahwa pemerintahan
belum tiba, oleh karena itu dia mempertentangkan eskhatologi presentis kaum
entusias dengan pandangan apokaliptis dan persyaratan-persyaratan eskhatologis.
Kasemann pernah mengatakan: “Suatu eskhatologi presentis yang tidak dikitari
oleh yang futuris tidak lain daripada keangkatan tubuh sebagaimana telah tampak
pada entusiasme di sepanjang zaman. Itu merupakan suatu ilusi dan bukan
realitas yang wajar yang melawan angan-angan yang saleh”.[47]
Dalam diskusi dogmatis masa kini pertentangan antara
eskhatologi presentis dan futuris seringkali dinilai membawa perspektif yang salah.
Menurut Perjanjian Baru, eskhaton sudah
ada dan sekaligus baru mendekat.
Eskhatologi Perjanjian Baru tampak mengikuti konsep yang sekaligus prensentis
dan futuris. Menurut Paulus, persekutuan antara umat yang dibabtis dan Tuhan di
sorga adalah sesuatu yang telah terjadi dan juga yang masih akan terjadi.
Orang-orang percaya yang kelak “bersama Kristus” kini sudah pula “di dalam
Kristus” (Gal 3:28; Rm 8:1; 16:11; 2 Kor 5:17; Kol 1:2). Bagi seorang Kristen
diberi janji bahwa dia akan memperoleh pada masa depan apa yang telah
dimilikinya sekarang; dia akan menerima apa yang telah dimilikinya. Ciptaan
baru tidak berada dalam angan-angan; kita haru menantikannya (Rm 8:19, 21-22)
dan sekaligus ciptaan itu telah direalisasikan (2 Kor 5:17). Dalam Injil Yohanes
diberi aksen yang lebih kuat akan eskhatologi yang presentis, namun demikian
ketegangan antara keselamatan yang telah ada (Yoh 3:16; 5:4) dan keselamatan
yang belum ada (Yoh 5:28) tetap tampak. Karena eskhaton dalam Perjanjian Baru
dihubungkan dengan realitas Kristus yang hidup, maka harus diartikan sekaligus
sebagai yang presentis dan futuris. Dengan Kristus yang sama itu orang-orang
percaya akan bersekutu kelak sebagaimana mereka sekarang sudah berada dalam
persekutuan dengan-Nya.[48]
Pandangan ini mengakui dalam arti tertentu umat
Allah yang baru telah datang dalam diri Yesus, tetapi penggenapan yang
sepenuhnya masih akan terjadi dimasa depan. Pengajaran Yesus meliputi suatu
pandangan lengkap tentang jalannya peristiwa-peristiwa di masa depan, termasuk
penghakiman terakhir dan kebangkitan terakhir, sebagai bagian dari
penyempurnaan umat Allah yang baru. Seiring dengan itu, Yesus juga menyampaikan
bahwa umat Allah yang baru telah tiba dalam diri-Nya sendiri, sehingga
orang-orang harus memberi respon mereka masing-masing atas panggilan Allah
kepada mereka kini dan di sini.[49]
Kita harus ingat bahwa eskhatologi tidak hanya berhubungan dengan masa depan
saja. Yesus memang memperkenalkan zaman baru dan kemenangan atas kuasa-kuasa
kejahatan yang sudah tercapai sekalipun pergumulannya masih berlangsung terus
dalam sejarah.[50]
Waktu kita hidup pada zaman akhir ini diberi ciri
dari keselamatan yang telah dikaruniakan kepada kita, tetapi yang belum secara
sempurna menjadi milik kita. Oleh karena itu, sekalipun telah diselamatkan,
namun kita masih harus berusaha memegangnya (Flp. 3:12), berusaha dengan
bersungguh-sungguh di dalam peperangan iman untuk mencapai hidup yang kekal,
yang menjadi tujuan pangggilan kita (1 Tim. 6:12).[51]
Sebagai kesimpulan bahwa
eskhatologi Presentis Futuris adalah eskhatologi yang sudah dimulai dan dan
masih akan di sempurnakan. Eskhatologi ini disajikan oleh Rasul Paulus yang
menekankan bahwa keselamatan oleh iman. Paulus katakan bahwa akan ada
kebangkitan orang mati dan pengubahan orang hidup pada saat kedatangan Kristus
kedua kali (1 Kor. 15:42-45; 1 Tes. 4: 14-17). Paulus juga menceritakan kemah
suci sorgawi dan hidup bersama-sama dengan Yesus Kristus (2 Kor. 5:1, 17; Rom.
8:18). Jadi Paulus memadukan antara Presentis dengan Futuris.[52]
1.8.
Eskhatologi “Transcendental” (=Melampaui waktu)
Transenden adalah yang melebihi alam, lebih tinggi,
diatas alam. Kalau dikatakan Tuhan adalah transenden, itu artiya bahwa Tuhan
ada di atas atau di luar alam.[53]
Bagi Karl
Barth[54],
eskhaton adalah sesuatu yang transenden yang secara vertikal membentur waktu,
tetapi tidak masuk kedalamnya. Kekekalan sama dekat dan jauhnya dengan setiap
waktu. Momen yang kekal berhadapan dengan setiap waktu dan di dalamnya terdapat
maksud transendental dari setiap waktu. Barth tidak menerima suatu eskhatologi
yang menyangkut akhirat. Bagi Barth, eskhaton menjadi kekekalan yang
transendental: hal-hal akhir bagi manusia adalah kekekalan, yang kini membelah
masuk ke dalam waktu. Barth memahami Allah sebagai kekekalan yang transendental,
yang sebagai Allah Tritunggal dari kekal sampai kekal berada dalam percakapan
dengan diri-Nya sendiri.[55]
Masa akhirat yang sejarawi itu juga kurang menarik perhatian P. Althaus[56].
Althaus menulis bahwa sebagaimana setiap waktu sama dekatnya dengan keadaannya
semula pada waktu penciptaan dan kejatuhan, demikian pula setiap waktu sama
dekatnya dengan pemenuhannya. Dan dalam pengertian itu setiap waktu adalah saat
yang terakhir. Tujuan sejarah tidaklah terdapat dalam keadaan terakhir yang
historis. Untuk mengerti masalah eskhatologis, Althaus tidak mau menggambarkan
suatu garis melintang sejak permulaan sejarah sampai akhirnya, melainkan ia
ingin menarik garis tegak lurus diatas garis perkembangan sejarah itu. “Semua
garis tegak lurus yang kita tarik diatas garis sejarah itu, saling bertemu
dengan melampaui waktu dalam suatu titik. Apa yang kita tangkap sebagai suatu
urutan dari kematian manusia, sebagai berakhirnya keturunan-keturunan,
bangsa-bangsa dan kurun-kurun waktu, kalau dipandang dari titik pandangan tersebut,
maka semuanya merupakan peristiwa yang sama dan pengalaman ‘sesaat’ dari
pembubaran sejarah dan masuknya sejarah ke dalam kekekalan”.[57]
Suatu gagasan eskhaton yang melampaui waktu juga
disajikan oleh Paul Tillich[58].
Eskhatologi hendaknya menerangkan “bahwa dalam setiap saat kita berhadapan
dengan yang kekal”. Eskhaton bukanlah angan-angan tentang suatu bencana
apokaliptis di dalam ruang dan waktu yang tak terhingga jauh atau dekatnya.
Eskhaton “berarti hubungan antara yang fana dan yang kekal”, atau “transisi
dari yang fana ke yang kekal”. Eskhatologi mengikuti satu arah gerakan yang
harus dilihat dalam hubungannya dengan ajaran tentang penciptaan. Penciptaan
diartikan sebagai “transisi dari yang kekal ke yang fana”, atau dengan kata
lain sebagai “transisi dari esensi ke eksistensi”. Semua yang fana berasal dari
yang kekal dan kembali padanya, sehingga lingkungannya tertutup. “Esentifikasi”
di jelaskan Tillich sebagai “pengangkatan eksistensi ke dalam hidup yang
kekal”, atau dengan kata lain, yang positif dibebaskan dari hubungannya yang
dwi-arti dengan yang negatif, yang merupakan ciri khas kehidupan di bawah
kondisi-kondisi eksistensi”. Dalam arti itu “pengadilan terakhir” merupakan
transisi yang terus menerus dari yang fana ke yang kekal, dimana yang negatif
di hancurkan. Esentifikasi itu berifat universal dan tidak cocok dengan hukuman
yang kekal. Menurut Tillich, transisi dari yang fana ke yang kekal bukanlah
suatu peristiwa historis, melainkan akhir segala waktu yang terus menerus hadir
dan terjadi dalam setiap saat.[59]
Sebagai
kesimpulan bahwa eskhatologi Transcendental adalah ketika sejarah terbentur
dengan waktu maka hidup manusia berlanjut dengan eskhatologi. Hidup manusia
selalu ada pada situasi transisi dalam hubungan antara sejarah dan eskhatologi.
Jadi ketika sejarah selesai maka di lanjut di eskhatologi.[60]
1.9. Eskhatologi Imanen-Historis
Imanen berasal dari bahasa Latin Immanent yang artinya tetap tinggal di
dalam. Dalam teologi, istilah ini berhubungan dengan Tuhan. Kalau di katakan
bahwa Tuhan dengan hakikatnya ada di dalam alam ini, maka Tuhan dianggap
imanen.[61]
Eskhatologi Imanen
historis di kemukakan oleh Jurgen
Moltmann. Moltmann tidak mau menerima pandangan seolah-olah kita dihadapkan
pada pilihan antara konsep eskhatologis yang futuris dan yang presentis.
Menurutnya, konsep transendental juga tidak membawa perkembangan. Kalau
“hal-hal terakhir” hanya di tunda sampai pada “masa kiamat”, maka hal-hal itu
kehilangan arti bagi segala hari-hari yang lain dalam sejarah. Sebaliknya kalau
hal-hal terakhir dianggap sudah terpenuhi pada masa sekarang, maka terjadi
ancaman yaitu bahaya entuasiasme yang salah, atau dengan kata lain adanya suatu
bahaya “eskhatologi gloriae”. Terhadap ini Moltmann menekankan bahwa Allah
Alkitab bukanlah Allah yang imanen atau yang transenden. Dia tidak berada di
dalam atau diatas manusia, melainkan Dia sebenarnya selalu “di depan” manusia.
Batas-batas yang pernah diterobos oleh Yesus yang bangkit terus menerus di
terobos dalam pengharapan orang-orang percaya. Bagi orang-orang percaya,
kebangkitan Kristus tidak berarti kekekalan sorga, melainkan masa depan dunia
ini. Pengharapan Kristen harus setia terhadap bumi sebagai tempat salib Kristus
didirikan. Pengharapan itu tidak memenuhi pemenuhannya dalam suatu dunia
angan-angan. Iman tidak terdiri dari dunia, melainkan ikut serta di dalam
penanggulangan dunia. Moltmann melihat dengan kritis bahwa Kekristenan dalam
sejarahnya telah menjadi bahan pengganti agama Romawi dulu. Dengan demikian,
eskhatologi kehilangan pengaruhnya yang membangun dan kritis, dan diambil alih
oleh kaum entusias dan golongan-golongan revolusioner. Tatkala kepercayaan Kristen meninggalkan harapannya
akan masa depan dan menyamakan masa depan dengan dunia akhirat atau kekekalan.[62]
Moltmann
mau berkata-kata secara eskhatologis tentang Allah. Yang ia maksudkan dengan
Allah ialah Allah yang selalu “berada di muka manusia, dan yang menariknya ke
masa depan. Jadi bukan Allah yang
“berada pada diri-Nya sendiri”, bukan juga Allah yang transenden, tetapi bagi
Moltmann ialah Allah yang berada di muka manusia, Allah dari Keluaran yang
membebaskan manusia dari kuasa-kuasa di dunia, Allah sejarah, Allah yang
membangkitkan dari kematian, Allah Israel dan para nabi, Allah yang mengajar
manusia untuk berharap.[63]
Dengan tujuan mewujudkan pengharapan Kristen yang semacam itu, Moltmann mengembangkan teologi politik
untuk mengubah dunia ini. Kita tidak boleh secara pasif menunggu datangnya masa
depan, karena masa depan bergantung pada usaha kita. Sekalipun demikian, pada
dasarnya masa depan merupakan karya Allah dan bukan terutama karya manusia.
Untuk mencapai masa depan itu (pengharapan kita) dituntut tindakan konkret dan
bukan penjelasan teologis. Berbeda dengan pendekatan teologi sebelumnya yang
berusaha menangani persoalan kejahatan di dalam dunia ini dengan menawarkan
suatu teodise (usaha membernarkan keadilan Allah), teologi pengharapan Moltmann
tidak bertanya mengapa Allah tidak berbuat sesuatu tentang kejahatan dunia,
melainkan teologi itu bertindak untuk mengubah kejahatan itu. Demikianlah iman
menjadi tindakan yang pada gilirannya akan membantu untuk menghasilkan tujuan
iman tersebut.[64]
Disini juga kita menyebut Wolfhart Pannenberg
sebagai wakil dari teologi heilshistoris. Pannenberg mengatakan bahwa sejarah
adalah horison yang paling luas dari teologi Kristen. Segala pertanyaan dan
jawab teologis hanya mempunyai makna dalam rangka sejarah yang Allah buat
dengan umat manusia dengan seluruh ciptaan, yaitu sejarah yang mengarah ke masa
depan yang masih tersembunyi untuk dunia, tetapi yang telah nyata pada Yesus
Kristus. Pannenberg katakan: Dengan kebangkita Kristus telah berlangsung akhir
sejarah pada-Nya, sekalipun bagi kita masih ada hal-hal yang harus di nantikan.
Kebangkitan Kristus menurut Pannenberg adalah suatu kebenaran mutlak.
Kebangkitan Kristus menurut Pannenberg adalah suatu kebenaran mutlak. Sebab –
katanya – “Pemberitaan firman tidak dapat katakan, bahwa apa yang
diberitakannya itu tidak pasti, jadi supaya kita dapat yakin, kita harus berani
percaya dahulu, tetapi sebaliknya: Pemberitaan Firman harus katakan, bahwa apa
yang diberitakannya pasti, dan karena itu kita dapat mengarahkan segala sesuatu
– percaya, hidup, masa depan kita – ke sana”. Dari apa yang dikatakan ini
nyata, bahwa Pannenberg melihat penyataan Allah berlangsung dalam proses
sejarah.[65]
Sebagai kesimpulan bahwa
eskhatologi Imanen Historis adalah eskhatologi yang memberikan pengharapan baru
bagi dunia melalui terpancangnya salib Kristus di bumi. Salib Kristus itulah
menjadi dasar pengharapan dunia menuju masa depan yang belum sejahtera (Yoh.
3:16).[66]
1.10.
Kebangkitan
Daging
Dalam pembahasan tentang kebangkitan daging, hal-hal
yang perlu untuk diketahui dan dimengerti adalah seputar pertanyaan tentang:
Apakah kebangkitan itu?, Apakah orang mati cacat akan bangkit cacat juga?,
Apakah bayi dibangkitkan bayi juga?, Bagaimana status keluarga, apakah keluarga
masih utuh?. Pertanyaan-pertanyaan ini perlu untuk dijawab sesuai dengan berita
Alkitab supaya tidak menyimpang dari ajaran yang benar. Namun sebelum menjawabnya
dengan mengacu kepada Alkitab, kita perlu membahas secara umum
pemahaman-pemahaman yang dirumuskan oleh para ahli yang dituliskan dalam
buku-buku teologi. Setelah itu, kita akan menjawab pertanyaan-pertanyaan itu
berdasarkan apa kata Alkitab.
J.
Verkuyl dalam bukunya Aku Percaya, menjelaskan tentang
kebangkitan daging. Ia katakan bahwa Alkitab mewartakan bahwa pada hari
kedatangan Yesus untuk kedua kalinya, manusia akan diberi kehidupan badaniah yang baru. Badan Yesus sendiri juga bangkit dari
kubur. Kini Ia ada di sorga, dengan badan-Nya itu pula. Dialah yang menjamin,
bahwa kelak kita semua akan diberi kehidupan badaniah yang baru, tubuh yang
baru. Apabila Yesus datang kembali untuk kedua kalinya, demikian kata Rasul
Paulus dalam 1 Kor. 15, “nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan
dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa, dan kita semua akan diubah
(1 Kor. 15:52). Yesus Kristus pada kedatangan-Nya untuk kedua kalinya akan
memberi kebangkitan daging, akan membangkitkan tubuh kita. Alkitab mengatakan,
bahwa kita akan menjadi segambar dengan Tuhan yang telah bangkit itu. Tubuh
kita akan menyerupai tubuh Yesus, tubuh rohani (1 Kor. 15:44).[67]
Sebab di situ disebutkan, bahwa yang ditabur adalah tubuh alamiah, dan yang
dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Oleh karena itu, maka tubuh alamiah (atau
yang dapat diterjemahkan “tubuh jiwani” = sooma
psykhikon), sama dengan yang disebut tubuh jasmani, yaitu tubuh pemberian
Tuhan Allah yang kita miliki ini. Dan tubuh rohaniah berarti bahwa para orang
beriman akan dianugerahi tubuh yang menyatakan karunia atau daya kekuatan Roh
Kudus.[68]
Hal ini menunjukkan, bahwa pernyataan Alkitab tidak
menceraikan tubuh dan jiwa pada manusia. Manusia adalah kesatuan antara jiwa
dan tubuh itu. Akan tetapi memang lebih banyak kitab suci menyebutkan
kebangkitan orang percaya dari maut.
Mereka akan dibangkitkan dan di adili dan kemudian untuk memasuki hidup yang
kekal dan bahagia. Mereka akan bangkit dengan tubuh yang telah dimuliakan. Isi
“dimuliakan” ialah: tidak fana (tidak binasa), mulia (tidak hina), kuasa (tidak
lemah), rohani (tidak nafsani) (bnd, Fil. 3:21). Apakah tubuh yang sudah
dikebumikan dan hancur lebur itu menjadi tubuh lagi? Pertanyaan ini tidak usah
di bicarakan, karena akan mengukur kemahakuasaan Allah dengan kemampuan
manusia.[69]
Menurut P. Althaus, manusia dipanggil kedalam
kehidupan keluar dari ketidakadaan, dan
Tuhan Allah tidak melepaskan manusia dari tangan-Nya. Allah yang dapat memberi
bentuk kehidupan baru kepada manusia. Bentuk kehidupan baru itu tak lain dari
bentuk jasmani-rohaninya. Kesinambungan antara penciptaan lama dan baru
terjalin dalam hubungan manusia dengan Allah. Allah yang memanggil manusia
kedalam hubungan dengan-Nya yang tak dapat dibatalkan. Manusia adalah manusia
untuk Allah dan di hadapan Allah. sebagaimana kematian menentukan segenap
kehidupan manusia, begitu pula kebangkitan menyangkut manusia secara utuh. Demi
kehendak Allah, manusia adalah pribadi yang tidak dapat binasa dan hidup untuk
Allah dan di hadapan Allah. Karena Allah setia terhadap diri-Nya sendiri dan
karena karya-Nya yang kedua terjalin dengan karyanya yang pertama, maka
kebangkitan bukan penciptaan dari ketidakadaan (creatio ex nihilo) melainkan suatu penciptaan dari ciptaan (creatio ex creatione). Kematian bukanlah
ketiadaan hubungan, melainkan secara baru memperhadapkan manusia dengan Allah
sebagai hakimnya (Rm. 6:23) dan sebagai penolongnya (Flp. 1:23).[70]
1 Tesalonika 4:16 tidak secara konkrit
memberitahukan lokasi keberadaan Yesus ketika kebangkitan dan pengangkatan Gereja
(orang percaya). Namun dalam ayat selanjutnya, diuraikan secara jelas bahwa
perjumpaan Kristus dengan gereja-Nya secara pasti akan terjadi di angkasa.
Keyakinan ini di dasari dengan hadirnya kata “en” yang artinya “dalam”, di 1 Tesalonika 4:17 dengan kata benda
yaitu nephelais yang berarti “awan”. Dengan demikian, konstruksi en nephelais yang berarti “di dalam
awan” sesungguhnya menerangkan lokasi pertemuan Yesus dengan gereja ketika
kebangkitan dan kebangkitan dan pengangkatan gereja terjadi. Anugerah dan
keajaiban lain yang akan terjadi dalam peristiwa kebangkitan ialah bahwa
Kristus akan memberikan tubuh yang baru kepada setiap orang percaya, seperti
tubuh-Nya yang mulia (Flp. 3:20-21; 1 Yoh. 3:2). Pemberian tubuh yang sempurna
kepada orang percaya merupakan tindakan Kristus yang sangat beralasan sebab
jemaat-Nya akan hidup bersama dengan Dia di sorga, yang tentunya sangat
mustahil untuk dihuni dengan tubuh lama yang fana dan penuh dosa. Menurut
Alkitab, semua manusia pada pada saat ini adalah “hina”. Ini diterangkan di
dalam Filifi 3:21 melalui istilah tapeinosis
yang artinya tidak berarti, fana dan hina. Rasul Paulus mengajarkan bahwa
tubuh tersebut penuh dengan dosa (Rm. 7:19-20), sarat dengan hawa nafsu (Ef.
5:18), serta berpotensi untuk melahirkan segala jenis kejahatan kedagingan
dalam setiap kesempatan (Gal. 5:19-21). Sebab itu, tubuh, tubuh yang fana tidak
akan bertahan lama Sebaliknya, dalam kurun waktu yang singkat, tubuh fana
tersebut akan binasa (Mzm. 90:10) dan digantikan dengan tubuh baru yang
memungkinkan hidup bersama Kristus di Sorga (1 Kor. 15:48-54). Sebab itu, di
dalam peristiwa kebangkitan dan pengangkatan orang percaya Kristus akan turun
dari sorga ke angkasa di atas bumi dengan memberikan tanda, yaitu suatu seruan.
Jika ini terjadi, orang percaya yang mati akan terlebih dahulu dibangkitkan,
dan jemaat yang masih hidup akan
diubahkan untuk memperoleh tubuh yang pantas bagi kehidupan di sorga. Sebab
itu, orang yang mati harus dibangkitkan dan diberikan tubuh baru, sedangkan
jemaat yang masih hidup akan diubah dalam sekejap mata.[71]
Paulus menguraikan kebenaran diatas dengan sangat
jelas melalui suratnya kepada jemaat di Filipi. Istilah “mengubah” dalam Filipi
3:21, adalah terjemahan dari kata metaskhematizo.
Istilah ini dibangun dari kata skhema
yang artinya bentuk penampilan alami yang memiliki sifat-sifat insani (Flp.
2:7). Dalam ayat yang sama kata “serupa” diterjemahkan dari istilah symmorphos, yakni istilah yang berasal
dari kata morphe yang berarti bentuk
penampilan ilahi yang memiliki sifat-sifat supernatural (Flp. 2:6) dan biasanya
digunakan untuk Kristus guna menyatakan dan memperlihatkan seluruh kemuliaan
Allah Bapa yang ada dalam diri-Nya. Dengan demikian, kata “mengubah” dan
“serupa” dalam ayat tersebut menjelaskan proses perubahan tubuh manusia yang
memiliki sifat-sifat alami, yaitu dosa, menjadi tubuh mulia yang dipenuhi
dengan karakter ilahi yang tanpa dosa, seperti tubuh Kristus. Kebenaran ini
dibuktikan melalui kata yang digunakan di dalam Filipi 2:21, yakni, soma yang berarti tubuh. Paulus
mengajarkan bahwa soma adalah tubuh
fisik manusia (Rm. 4:19; 1 Kor. 5:3; Gal. 6:17; Kol. 2:11). Yesus pun
mengajarkan bahwa soma adalah tubuh
fisik (Mat. 6:25, Mrk. 14:22; Luk. 17:37). Karena itu, tubuh baru tersebut
tidak maya. Menurut 1 Kor. 15:42-43,
tubuh kemuliaan akan tampil dengan sifat dan kualitas ilahi yang sempurna.
Pertama, tubuh itu “tidak binasa”. Artinya, ia tidak akan mengalami kematian
lagi. Kedua, tubuh kemuliaan itu bersifat “mulia”. Secara mutlak, tubuh baru
itu tanpa dosa dan tidak akan jatuh lagi kedalam berbagai jenis dosa.
Sebagaimana tubuh Kristus, tubuh yang baru itu pun suci. Tubuh kemuliaan juga
tidak takhluk dan tak dapat dibatasi oleh ruang, waktu dan jarak. Sebaliknya,
tubuh ilahi tersebut mampu bergerak dan berpindah tempat secara sempurna dan
mengatasi dan menahklukkan berbagai penghalang sebagaimana kebangkitan tubuh
Kristus yang sanggup memasuki ruangan tertutup tanpa melalui pintu yang terbuka
(Yoh. 20:26).[72]
Kebangkitan daging seperti yang dikatakan oleh
Apostolicum (Pengakuan Iman Rasuli)
ialah suatu hidup yang baru. Yang dimaksudkan dengan disini dengan
“suatu hidup yang baru” ialah suatu hidup dalam penurutan akan Kristus, suatu
hidup yang makin lama makin menyerupai hidup-Nya.[73]
Kebangkitan itu merupakan suatu pembaharuan yang radikal. Tetapi pembaharuan
yang radikal itu bukanlah sesuatu yang sama-sekali tidak mempunyai hubungan
dengan eksistensi kita yang sekarang. Memang ada diskontinuitas, tetapi di
samping itu ada juga kontinuitas. Kita bukan saja mengaku: “Aku bangkit ...
sebagai manusia yang sama-sekali di baharui”, tetapi juga: “Aku bangkit ...
sebagai aku”, artinya: sebagai manusia yang sama. ungkapan kebangkitan daging
mau mengatakan bahwa aku-lah yang bangkit, bahwa yang mati ini mengenakan yang
tidak mati (1 Kor. 15:54). Telah cukup bagi kita pengetahuan dan keyakinan
bahwa Kristus adalah jaminan dari identitas kita (1 Kor. 15:44-49). Dalam
manusia kedua, yaitu Yesus Kristus yang bangkit dari kematian, juga telah
ditentukan sekali dan untuk selama-lamanya bagaimana nanti keadaan kita, yang
adalah milik-Nya oleh iman kita kepada-Nya. Sama seperti Dia (Yesus Kristus),
kita akan menjadi “sorgawi” = tidak-binasa, mulia, kuat. Kita akan memakai
rupa-Nya; itu berarti: bagi kita akan nyata apa artinya dibangkitkan atau
diubah dari “manusia pertama” menjadi “manusia kedua”.[74]
Fakta kebenaran ini hendaknya menjadikan setiap
jemaat semakin berpegang teguh pada
pengharapan dan iman akan Kristus. Pengharapan orang percaya akan masa depan
dan keselamatan kekal telah diterima secara pasti di dalam Kristus Tuhan (Yoh.
1:3; Kol. 1:15-16). Perlu ditekankan bahwa berdasarkan 1 Tesalonika 4:17
pemberian tubuh baru bagi orang percaya akan terjadi. Hal ini terungkap melalui
kata keterangan epeita yang artinya
“kemudian”. Teks ini memberikan bukti yang kuat bahwa pada saat Kristus datang
diangkasa, orang-orang mati di dalam Kristus akan lebih dahulu dibangkitkan
dengan tubuh yang baru dan mulia. Sesudah itu, orang-orang yang masih hidup
akan diubah atau diberikan tubuh yang baru dalam sekejap mata. Selanjutnya,
semua orang percaya yang telah mengenakan tubuh kemuliaan tersebut akan
diangkat bersama-sama dengan orang-orang yang telah dibangkitkan dengan tubuh
baru untuk bertemu dengan Tuhan di angkasa dan dibawa ke sorga dan hidup
bersama dengan Kristus selama-lamanya.[75]
Setelah melihat pemahaman-pemahaman para
teolog-teolog diatas, maka kita kembali pada apa yang kita pertanyakan pada
paragraf pertama, yaitu tentang apa jawaban Alkitab tentang kebangkitan daging.
Pertama, Apakah Kebangkitan itu?,
Dalam Yesaya 26:19 dikatakan: “Ya TUHAN,
orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula.
Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah, bangkitlah dan
bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan
arwah kembali”. Dalam Daniel 12:2 dikatakan: “Dan banya dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu
tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapatt hidup yang kekal, sebagian untuk
mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal”. Di dalam Yehezekiel
dituliskan: “..... Sungguh, Aku membuka kubur-kuburmu
dan membangkitkan kamu, hai umat-Ku ... Aku akan memberikan Roh-Ku ke dalammu,
sehingga kamu hidup kembali ...”. Dalam Yohanes 5: 25, 28-29 dikatakan: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya saatnya
akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak
Allah, dan mereka yang mendengarnya akan hidup”. Janganlah kamu heran akan hal
itu, sebab saatnya akan tiba bahwa semua orang yang ada dalam kuburan akan
mendengar Suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit
untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit
untuk dihukum”. Kemudian dalam 1 Kor. 15:44 dikatakan: “Yang ditabur adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh
rohaniah”.Selanjutnya 1 Petrus 1:3-4 katakan: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang karena
rahmatNya telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus ....
untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa....”.
Selanjutnya pertanyaan kedua: Apakah bayi
dibangkitkan bayi juga?, dalam 1 Kor. 15:42, 52 dikatakan: “Demikian pula halnya dengan kebangkitan orang mati, ditaburkan dalam
kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan. Dalam sekejab mata ....
orang-orang mati akan dibangkitan dalam keadaan yang tidak akan binasa dan kita
semua akan diubah”. Tentang pertanyaan bagaimana status keluarga maka
Matius 22:30-32 katakan: “Karena pada
waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup
seperti malaikat disorga ......” (Bnd. Luk. 20:35).[76]
1.11.
Penghakiman
Akhir
Dalam Pembahasan penghakiman akhir, maka hal yang
perlu kita pahami adalah seputar pertanyaan tentang: Apakah setelah mati
langsung dihakimi?, bagaimanakah penghakiman mula-mula dan akhir?. Pertanyaan
inilah yang sering muncul dalam pemikiran kita yang harus dijawab sesuai kata
Alkitab. Namun sebelum itu, kita harus mempelajarinya terlebih dahulu melalui
penjelasan para teolog yang dipaparkan dalam bukunya. Dan pada paragraf akhir,
kita akan melihat nats Alkitab untuk menjawab persoalan ini.
Dari rangkaian pengadilan yang digelar oleh Kristus
sebagai Hakim yang adil, ada beberapa pendapat dari para ahli teolog. Dalam
buku yang disusun oleh J.L. Ch. Abineno “Sekali Lagi Pengharapan Kristen”, ia
menjelaskan bahwa ada terdapat perbedaan anggapan tentang penghakiman akhir
oleh para teolog. Abineno menyebut beberapa teolog, dimulainya dari: R.Soedarmoyangdalam bukunya “Ikhtisar
Dogmatika” mengatakan bahwa dalam Kitab Suci “terang di firmankan,
bahwa pengadilan Tuhan akan segera terjadi dengan akibat bahwa ada pemisahan
antara orang yang telah dikuduskan oleh Tuhan Yesus dan orang yang menolak akan
Dia. Orang yang mendengarkan Firman-Nya di naikkan ke dalam Sorga. Dalam bagian
lain dari bukunya pendapat ini ia jelaskan seperti berikut:
“Segala orang akan di adili, baik yang hidup pada
waktu itu, maupun yang telah meninggal, yang akan dibangkitkan untuk diadili;
baik orang yang benar maupun orang fasik (Mat. 25:46). Dengan terang-terangan
bagi segala orang sekarang dinyatakan apakah yang akan menjadi bagian orang
percaya dan orang yang tidak percaya kepada Yesus Kristus: yang percaya
mempunyai hidup yang kekal, yang tidak percaya tidak meliha hidup yang kekal (1
Yoh. 3:35; Yoh. 5:24). Selain kepercayaan, juga perbuatan akan di adili (Mat.
12:36; 2 Kor. 5:10).”
Kemudian Abineno
menyebut Van Niftrik-Boland, dalam
bukunya “Dogmatika Masa Kini” membatasi penghakiman akhir pada
orang-orang percaya saja. Atas pertanyaan “adakah kedatangan Kristus tidak
merupakan hal yang menakutkan?. Jika Kritus datang, maka pasti akan diadakan
pengadilan dan penghakiman. Tentang kesaksian kitab suci, bahwa kita akan
dihakimi juga menurut perbuatan-perbuatan kita (2 Kor. 5:10; Mat. 16:27;
25:31-46; Why. 2:13) mereka katakan”percaya dan perbuatan tidak bertentangan”.
Percaya berarti hidup dalam kepercayaan itu. Percaya yang hidup menghasilkan
perbuatan-perbuatan yang baik (Yak. 2:14-26). Malah percaya itu adalah
perbuatan yang menentukan.
Benarkah pendapat Van Niftrik-Boland diatas?
Mestikah kita berdiam diri terhadap penghakiman akhir orang-orang yang tidak
percaya? Tetapi bagaimanakah kesaksian kitab suci seperti yang dikemukakan
Soedarmo tentang hal demikian?. Untuk dapat menjawabnya, maka harus diteliti
lebih mendalam kesaksian Alkitab.
Kata “menghakimi” diambil dari terjemahan kata
ibrani “syafaat” yang berarti menempatkan kembali seseorang di tempatnya semula
= di tempat yang tepat sesuai dengan kehendak Allah. Dalam Perjanjian Lama,
pekerjaan syafaat adalah pekerjaan Allah. Ia adalah “Hakim”: Ia merendahkan
yang satu dan meninggikan yang lain (Mm. 75:8). Dalam Perjanjian Baru pekerjaan
syafaat ( = bahasa Yunaninya “krinein”) ini khususnya adalah pekerjaan Yesus
Kristus. Ia datang dalam suatu dunia yang kacau dan tidak teratur. Orang-orang
lemah ditindas. Orang-orang kecil diperlakukan tidak adil. Yesus datang untuk
membongkar dunia yang rusak dan mengaturnya kembali sesuai dengan kehendak
Bapa-Nya.
Dalam masa selang ini – antara kenaikan Tuhan Yesus
ke sorga dan kedatangan-Nya kembali – pekerjaan penghakiman khususnya adalah
pekerjaan Roh Kudus. Ia adalah kuasa, dynamis yang merobah dan membuat kita
menjadi ciptaan yang baru (2 Kor. 5:17).
Penghakiman menurut kesaksian Kitab Suci – kadang
berlainan – dengan apa yang dituliskan dalam buku-buku teologia. Penghakiman
sudah berlangsung sekarang tetapi belum genap. Dan nanti pada waktu itu “kita
semua” seperti yang di katakan oleh Rasul Paulus “harus menghadap tahkta
pengadilan Kristus” supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya
sesuai dengan apa yang dilakukannnya dalam hidupnya: baik ataupun jahat (2 Kor.
5:10).[77]
Kedatangan Kristus yang kedua kali akan terjadi
dalam kemuliaan (1 Tes. 3: 13; 4:15). Segala rahasia pada waktu itu akan
terbuka. Kedatangan-Nya dalam kemuliaan itu akan disaksikan oleh seluruh dunia
(Mat. 24:27, 30). Sebab kedatangan Kristus yang kedua kali ini untuk menghakimi
orang yang hidup dan yang mati (2 Tim. 4:1; Kis 10:42; 17:31; 2 Kor. :10). Di
situ segala perbuatan rorang akan di ungkapkan sebagaimana keadaannya (1 Kor.
3:13; 4:5; Rm. 8:19). Adapun norma dan ketentuan yang dipakai untuk menghakimi
perbuatan segala orang, yang beriman dan yang tidak ialah: bagaimana sikap
mereka terhadap diri-Nya. Sebab Ia ditetapkan Tuhan Allah menjadi Hakim segala
orang yang hidup dan yang mati (Kis. 10: 42; Why. 6:16).[78]
Selanjutnya, dalam Wahyu 20:11-15 menjelaskan bahwa
penghakiman itu tepat disebut sebagai pengadilan terakhir atau dikenal dengan
pengadilan takhta putih yang akan terjadi sesudah Kerajaan Seribu Tahun
berakhir (Why. 20:12-13). Pengadilan tersebut terjadi di angkasa. Semua orang
binasa menghadap di depan tahkta putih besar (Why. 20:11) yang di pimpin oleh
Kristus sendiri. Wahyu 20:12 menyatakan bahwa mereka adalah orang mati yang
belum diadili, yakni orang-orang yang binasa dari segala zaman yang sesat dan
tidak beriman kepada Yesus. Semua orang yang menolak Yesus dari segala zaman,
akan diadili dan menjatuhkan mereka ke dalam hukuman kekal di lautan api, sebab
telah terbukti bahwa masing-masing nama mereka ternyata tidak tercatat dalam
kitab kehidupan (Why. 20:12).[79]
Dalam perikop ini jelas bahwa perbedaan antara orang-orang percaya dan
orang-orang yang tidak percaya tergantung pada hal nama-nama mereka di tuliskan
atau tidak dalam kitab kehidupan. Hukuman bagi orang-orang yang tidak percaya
di jatuhkan karena nama-nama mereka tidak tercatat dalam kitab kehidupan.
Sedangkan bagi orang yang percaya, keselamatan di jamin karena nama mereka
dimasukkan dalam kitab tersebut, dan upah yang mereka terima di dasari oleh
catatan yang ada dalam kitab itu.[80]
Dalam kitab Wahyu dikatakan Allah adalah hakim,
tetapi Kristus juga melaksanakan fungsi sebagai hakim. Hal ini khususnya
dijelaskan dalam Wahyu 19:11-16 yang menggambarkan Firman Allah sebagai
Prajurit. Kitab Wahyu berakhir dengan janji bahwa Kristus akan segara datang
dan membawa upah-Nya untuk setiap orang menurut perbuatannya (Why. 22:12). Ada
perbedaan akhir yang jelas antara mereka di dalam kota itu dan mereka yang di
luar (Why. 22:14-15). Jadi penglihatan-penglihatan apokaliptik dalam kitab
Wahyu yang menggambarkan serangkaian peristiwa penghakiman, dimaksudkan untuk
menjelaskan diperhebatnya peperangan antara iblis dan Anak Domba. Kuasa Allah
menang atas musuh-musuh, itulah penghakiman yang terakhir dan kemenangan akhir
kerajaan Allah.[81]
Sekarang kita akan melihat beberapa nats Alkitab
yang dapat menjawab seputar pertanyaan dalam paragrapH pertama diatas. Tentang
apakah setelah mati langsung dihakimi? Maka dalam 2 Petrus 2: 9 di katakan : “maka nyata bahwa Tuhan tahu menyelamatkan
orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk di
siksa pada hari penghakiman”.[82]Dan
bagaimanakah penghakiman mula-mula dan akhir?, maka dalam Ibrani 10:27 di
katakan: “Tetapi yang ada ialah
kematian yang mengerikan akan
penghakiman dan api yang dasyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka”. Matius
25:31-46 dikatakan: “Apabila Anak Manusia
datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia
bersemayam diatas tahkta kemuliaanNya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di
hadapanNya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang ........”.
Dan dalam 2 Kor. 5:10: “Sebab kita semua
harus menghadap takhta pengadilan Kristus, Supaya setiap orang memperoleh apa
yang patut diterimanya sesuai, sesuai dengan yang dilakukan dalam hidupnya ini,
baik ataupun jahat.[83]
1.12.
Langit-bumi
Yang Baru
Sesudah semuanya selesai, maka selanjutnya Allah
mencipta langit dan bumi yang baru, dimana orang-orang percaya akan tinggal dan
hidup di dalamnya bersama dengan Allah Tritunggal untuk selama-lamanya
(Why.21-22). Ditempat kekal itulah, umat Allah akan bertemu dengan Allah dan
menikmati kemuliaan-Nya untuk selama-lamanya (Why. 22:4-5).[84]
Menurut kesaksian Alkitab, bumi yang ada sekarang akan dihancurkan dan
dimusnahkan setelah Kerajaan Millenium berakhir. Selanjutnya, Allah akan
mencipta kembali bumi dan langit yang baru, yaitu tempat kekal untuk
orang-orang percaya. Ia juga akan menyediakan lautan api sebagai tempat
penyiksaan abadi bagi semua orang yang menolak Kristus (Why. 14:10-11; 19:20;
20:10-15; 22:1-8).[85]
Sebab
sesungguhnya, Aku menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru, hal-hal yang
dahulu tidak akan diingat lagi, dan tidak akan timbul lagi dalam hati (Yes.
65:17).
Sebab
sama seperti langit yang baru dan bumi yang baru yang akan Kujadikan itu,
tinggal tetap dihadapan-Ku, demikianlah Firman TUHAN, demikianlah keturunanmu
dan namamu akan tinggal tetap (Yes. 66:22).
Tetapi
sesuai denga janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di
mana terdapat kebenaran (II Ptr. 3:13).
Lalu
aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan
bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi (Why. 21:1).
Dari api pengadilan terakhir itu, dimana segala
kejahatan akan dibinasakan, timbullah suatu dunia yang baru. Langit baru dan
bumi baru. Manusia telah diciptakan oleh Tuhan untuk mendiami bumi, dan kelak
kita akan mendiami bumi baru. Dari kemuliaan dunia ini takkan ada sedikitpun yang
hilang. Semua akan datang kembali dengan kemuliaan yang kekal dan dengan bentuk
yang lebih tinggi tarafnya. Tentang langit baru dan bumi baru itu diceritakan
dalam kitab Wahyu 21 secara penglihatan yang simbolis sebagai suatu kota, yakni
Yerusalem baru. Kehidupan dalam dunia baru itu diceritakan sebagai kehidupan dalam suatu negara-kota,
disusun dengan rapi oleh pemerintahan “Allah dan Anak Domba”, yakni Yesus
Kristus. Secara negatif, kehidupan di dunia baru itu diterangkan sebagai suatu
kehidupan yang di dalamnya tidak ada lagi maut, tidak ada lagi perkabungan,
atau ratap tangis, atau dukacita (Why. 21:4). Secara positif, bahwa kelak kita
akan merayakan pesta persekutuan yang kekal dengan Allah dan pesta persekutuan
yang sejati antara sesama manusia. Sebab
di dalam Alkitab disebutkan, bahwa “kemah Allah ada di tengah-tengah manusia
dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka” (Why. 21:3). Sebab seluruh umat
manusia yang baru itu, umat Allah dari segala bangsa, diam di kota kudus Allah.[86]
Di depan orang-orang yang telah ditebus dalam
persekutuan dengan Allah ada kemuliaan agung. Hal ini disajikan secara
simbolik, tetapi kebenarannya tidak dapat disangkal.[87]
Kesempurnaan dunia yang baru itu disebutkan dengan ungkapan, bahwa Tuhan Allah
akan menjadi semua di dalam semua (1 Kor. 15:28). Ungkapan ini menunjukkan,
bahwa Tuhan Allah akan “menjiwai” dunia yang baru itu, hingga kenyataan
berkat-Nya diakui dan dirasakan benar-benar oleh segala umat.[88]
Dalam 2 Ptr. 3:10 di jelaskan bahwa bumi yang lama
akan lenyap atau hilang. Dalam Wahyu 20:11, Yohanes mengatakan bahwa bumi yang
lama akan “menghilang”. Dan dalam Wahyu
21:1 gagasan pemusnahan bumi yang lama adalah menghilang atau berlalu secara
faktual. Hal tersebut relevan dengan kesaksian Perjanjian Lama yang menerangkan
bahwa langit dan bumi di masa depan ialah bumi yang baru secara sempurna (Yes.
65:17; 66:22).[89]
Dengan kata lain, bahwa yang Alkitab maksudkan dengan langi dan bumi ialah
segala sesuatu yang ada. Segala sesuatu akan menjadi lain, akan menjadi baru.[90]
Namun apa yang menjadi kesimpulan dalam hal ini
adalah merupakan suatu kenyataan tentang adanya langit dan bumi baru secara
pasti di masa depan sebagai tempat hunian kekal dan abadi bagi orang-orang
percaya tidak perlu diragukan lagi. Inilah yang menjadi keyakinan dan harapan
utama yang harus disambut dengan hati damai dan penuh sukacita oleh setiap
orang percaya. Ditempat mulia inilah orang-orang percaya akan bertemu dan
bersekutu dengan Allah untuk selama-lamanya. Bahkan akan melihat wajah-Nya
(Why. 22:4-5).[91]
Di dalam dunia yang baru itu, hubungan antara manusia dengan Tuhan Allah akan
dinyatakan seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Allah.[92]
KESIMPULAN
Eskatologi adalah perihal
kedatangan Yesus Kristus. Kalau Yesus Kristus datang, makaakan ada peristiwa
yang terjadi di seputar kedatangan-Nya itu dan peristiwa-peristiwa itulah yang
disebut “Eskatologi.” Eskatologi jika digolongkan dapat dibedakan menjadi dua :
1. Eskatologi
Biblis, maksudnya yang diberitakan Alkitab.
2. Eskatologi
Teologis, maksudnya yang diberitakan teolog-teolog.
1.
Eskatologi
Biblis
Ada 3 yang diutarakan Alkitab
mengenai eskatologi, yaitu :
·
Yang bersifat Presentis
·
Yang bersifat Futuris
·
Yang bersifat Presentis-Futuris\
a.
Eskatologis
Presentis
Presentis
berarti kekinian, “kini dan disini.” Eskatologi Presentis disajikan oleh Injil
Yohanes. Yohanes membayangkan bahwa semua manusia sudah mati karena
dosa-dosanya. Sebab itu dunia ada dalam kebinasaan atau kegelapan. Terdorong
oleh kasih-Nya yang besar, Allah mengirimkan Anak-Nya supaya dunia tidak
binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dalam konsepsiseperti ini, Yohanes
membuka Injilnya dengan “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama
dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia dan
diam diantara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemulian yang
diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan
kebenaran.”
Firman
itu telah datang (menjadi daging) dan diam diantara kita, Firman yang diam
diantara kita inilah yang dimaksud dengan “Eskatologi Presentis.” Dengan
datangnya eskatologi, maka akan terjadi peristiwa-peristiwa eskatologi, antara
lain:
§ Yoh
5 : 24-25, disitu sudah terjadi :
-
Kehidupan kekal
-
Penghakiman
-
Kebangkitan
Kapan
ini terjadi? Ini terjadi ketika kita percaya pada Tuhan Yesus. Itu terjadi kini
dan disini. Ketika kita mendengar dan percaya pada-Nya, maka peristiwa
eskatologi terjadi pada kita.
§ Yohanes
3 : 17-19, mempersaksikan :
Terang
itu sudah datang, tetapi manusia tidak menyukai terang itu. Artinya ada
pemisahan antara terang dan gelap. Yesus datang ke dunia ini sudah terjadi
pemisahan antara orang percaya dan tidak percaya. Artinya, peristiwa eskatologi
itu sudah terjadi.
Kristologi
atas yang dipersaksikann Injil Yohanes tidak menceritakan Yesus naik ke surga,
karena Yesus sendiri adalah berasal dari surga. Jadi, Injil Yohanes
mempersaksikan bahwa Yesus tetap diam diantara kita.
b.
Eskatologis
Futuris
Futuris
berarti keakanan “akan dan disana.” Eskatologi Futuris disajikan oleh Injil
Sinoptik (Matius, Markus, Lukas). Injil Sinoptik menyediakan perikop-perikop
yang menceritakan tentang akhir zaman , misalnya : Matius 24-25, Markus 11-13,
Lukas 21.Awal cerita itu diceritakan dalam Matius 24:3 “... Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah
tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Lalu Yesus menguraikan
tanda-tanda itu menurut urutannya, mulai dari tanda-tanda permulaan sampai
tanda-tanda Anak Manusia di langit dan kesudahan zaman. Dari uraian Yesus itu
tergambar bahwa eskatologi itu ditempatkan pada episode terakhir dari rangkaian
episode peristiwa akhir zaman. Artinya, eskatologilah yang menjadi batas zaman
atau ujung dari sejarah zaman, dan diperbatasan itulah Yesus tampil di langit,
dan ketika itulah terjadi bahwa semua manusia : yang mati dibangkitkan, yang
hidup diubahkan; lalu semua dihakimi, dan terjadi pemisahan antara yang akan
menghuni kerajaan surga disebut hidup yang kekal, sedangkan kerajaan maut
disebut maut yang kekal.
c.
Eskatologi
Presentis-Futuris
Presentis-Futuris
berarti “kekinian dan keakanan.” Eskatologi Presentis-Futuris disajikan oleh
Rasul Paulus. Dalam pengertian sederhananya, eskatologi presentis-futuris
adalah kekinian dan keakanan. Eskatologi yang sudah dimulai dan masih akan
disempurnakan. Rasul Paulus dalam surat-suratnya mengakui bahwa keselamatan oleh
iman, dan itu terjadi pada hidup kekinian. Iman membuat orang bangkit pada
hidup di dalam Yesus Kristus. Paulus juga menekankan tentang eskatologi futuris
yang mengatakan bahwa akan terjadi kebangkitan semua orang mati dan pengubahan
orang hidup pada saat kedatangan Kristus
yang kedua.
Jadi,
dengan demikian Paulus memadukan antara eskatologi prenstis dan futuris dengan
menekankan keselamatan diterima di sini
dan akan disempurnakan atau dinyatakan pada masa yang akan datang. Kebangkitan
secara rohani atau kebangkitan spiritual terjadi di sini, tetapi kebangkitan
daging dan realitas hidup yang kekal akan terjadi dan diterima di surga.
2.
Eskatologi
Teologis
Ada dua
eskatologi teologis yang diutarakan oleh para teolog modern, yaitu Eskatologi Transendental
dan Imanen Historis.
a.
Eskatologi
Transcendental
Transcendent
berarti jauh dari realitas sejarah atau kini. Jauh dalam arti tidak kelihatan
secara fisik. Di sini kehidupan manusia itu bisa berlangsung dalam 2 zona,
yaitu zona sejarah dan zona eskatologi. Arti eskatologi di sini adalah dunia
lain dari sejarah. Sedangkan sejarah adalah dunia nyata di bumi. Hubungan
antara sejarah dan eskatologi satu pihak seperti dua garis lurus yang berturut,
bersambung, yang dibatasi oleh waktu. Ketika sejarah manusia terbentur dengan
waktu atau berakhir dengan waktu, maka kehidupan manusia akan berlanjut pada
eskatologi. Jadi, dipahami ada akhir dari hidup sekarang dan berlanjut ke dunia
lain.
Sisi kedua, antara sejarah dengan
eskatologi seperti 2 garis yang beriringan, tapi tidak bersentuhan. Hidup
manusia selalu ada pada situasi transisi dalam hubungan antara sejarah dan
eskatologi. Jadi seperti dua garis, sejarah berjalan, eskatologi selalu
mengikuti atau mengintip. Orang yang sudah mati akan pindah eskatologi. Sejarah
manusia hanya sampai pada kematian.
b.
Imanen
Historis
Pola
pikirnya bertolak dari Yohanes 3:16, bahwa kedatangan Yesus Kristus adalah
pernyataan eskatologi di tengah-tengah dunia. Jadi eskatologi tidak berada di
luar sejarah, sebagaimana Kristus menyatakan diri di dalam sejarah. Demikian
jugalah eskatologi.
Jadi
kehadiran Yesus Kristus dimaknai sebagai suatu eskatologi. Eskatologi bukan
batas atau waktu terakhir dari zaman, tetapi menjadi dasar atau fondasi zaman.
Eskatologi memberikan pengharapan baru bagi dunia melalui terpancangnya salib
Yesus Kristus di bumi. Salib Kristus itulah menjadi pengharapan dunia menuju
masa depan yang penuh sejahtera. Tuhan datang bukan untuk membinasakan, tetapi
menuntun manusia pada pengharapan yang akan datang oleh karena penebusan
Kristus.
[1] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika: Tinjauan Alkitabiah
Tentang Akhir Zaman, (Yogyakarta: ANDI, 2004), 12. Bnd. G. C.. Van Niftrik
& B. J. Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta:
BPK-GM, 2014), 519.
[2] R. Soedarmo, Kamus Teologi, (Jakarta: BPK-GM, 2015),
25.
[3] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 2.
[4] G. C. Van Niftrik & B. J.
Boland, Dogmatika Masa Kini, (Jakarta:
BPK-GM, 2014), 317.
[5] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, (Jakarta: BPK-GM, 1997),
481, 490, 493.
[6] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 32.
[7] Ulrich Beyer, Garis-Garis Besar Eskhatologi Dalam
Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-GM, 1985), 8.
[8] Sebagai penjelasannya, ada empat
contoh yang diberikan Abineno bahwa berita Alkitab tidak hanya murni futuris: Pertama, Kebangkitan. Menurut 1 Kor
15:12 dyb akan ada kebangkitan di masa depan. Hal ini berdasar atas kebangkitan
Kristus. Tetapi bagi orang percaya kebangkitan bukan saja suatu realitas di
masa lampau dan di masa depan. Ia juga sudah ada sekarang, sebagai pekerjaan
Roh Kudus seperti yang dikatakan oleh Paulus, yaitu bahwa kita sekarang di
bangkitkan bersama-sama dengan Kristus, dan bahwa bukan saja kematian-Nya,
tetapi juga kehidupannya sekarang menyatakan diri di dalam eksistensi orang
percaya (Rm 6:11; 2 Kor. 4:10; Gal 2:20; Ef 2:1-5; Kol 2:2). Kedua, Kedatangan kembali ( = parousia)
dari Yesus Kristus. Menurut Mat 24 dan 25 parousia itu akan terjadi di masa
depan. Tetapi apa yang di katakan dalam pasal-pasal ini tidak boleh di
tafsirkan seolah-olah sesudah kenaikan, Tuhan Yesus sama sekali tidak ada lagi di dunia. Ia
adalah Imanuel. Dalam Roh Ia selalu bersama-sama dengan kita. Ia berkata: “Di
mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Dan “Aku akan menyertai kamu senantiasa
sampai kepada akhir zaman (Mat 28:20). Karena itu, dalam Perjanjian Baru kata
“parousia” bukan saja di pakai untuk kedatangan kembali dari Kristus, tetapi
juga untuk kedatangan dan hidup-Nya “dalam daging” (2 Ptr 1:16). Ketiga, Penghakiman Kristus terhadap
orang-orang yang hidup dan yang mati.
Dalam 2 Tim 4:1 kita membaca, bahwa Kristus akan datang kembali untuk menghakimi
orang-orang yang hidup dan yang mati. Tetapi di samping itu, kita membaca bahwa
penghakiman itu telah mulai dengan kedatngan dan kehidupan Tuhan Yesus di dunia
(Yoh. 9:39; Luk. 2:34) dan di lanjutkan oleh Roh Kudus dalam hati dan hidup
manusia dan di dalam Jemaat (1 Kor 11:28, 31; 2 Kor. 13:5; 1 Tes 2:3-6; 1 Ptr.
4:17). Keempat, Kehidupan yang kekal.
Dalam Perjanjian Baru kita membaca, bahwa orang-orang yang percaya akan
memperoleh hidup yang kekal. Tetapi kalau kita membaca dengan teliti nyata kepada
kita bahwa kehidupan yang kekal itu
bukan saja baru akan kita peroleh
sesudah kita meninggal, tetapi telah di berikan kepada kita dalam hidup kita di
dunia ini. Kehidupan itu berada dalam Kristus (Yoh 1:4). Karena itu, siapa yang
percaya kepada-Nya, ia beroleh hidup yang kekal, sekarang dan dalam hidupnya di
dunia ini. Bukan saja dalam Injil dan surat-surat Yohanes kita dapati kesaksian
ini (Yoh. 3:16,36; 5:24; 6:40, 47; 17:3; 20:31; 1 Yoh 3:14; 5:12) tetapi juga
dalam surat-surat rasul Paulus (Rm 6:4; 8:6, 10; 2 Kor 4:10; Kol 3:3). Lihat.
J. L. Ch. Abineno, Pengharapan Kristen, (Jakarta:
BPK-GM, 1983), 11-13.
[9] J. L. Ch. Abineno, Pengharapan Kristen, 13-14.
[10] J. L. Ch. Abineno, Pengharapan Kristen, 14-15.
[11] Milard J. Erikson, Teologi Dasar Vol 3, 455-458.
[12] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 35-36.
[13] David L. Baker, Mari Mengenal Perjanjian Lama, (Jakarta:
BPK-GM, 2005), 117-118.
[14] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, (Jakarta: BPK-GM, 1999), 145-148.
[15] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, 153-154.
[16] Donald Guthrie, 132-133.
[17] Donald Guthrie, 162-163.
[18] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, (Jakarta: BPK-GM,
2012), 187-188.
[19] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 188.
[20]Ibid. 188-189.
[21] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 189.
[22]Ibid,
187.
[23] Ada dua alasan mengapa pandangan
eskhatologis mengenai masa depan tidak dapat dibuang dari Injil Yohanes: (1)
Yohanes tidak mengubah tradisi Sinoptik yang menyajikan baik eskhatologi
sekarang maupun yang akan datang; (2) Situasi sejarah kehidupan Yohanes membuatnya
tidak mungkin untuk tidak berbicara tentang kehidupan pada masa depan. (Lihat.
Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru
3: Eklesiologi, Eskhatologi, Etika, (Jakarta: BPK-GM, 1999), 140-141.
[24] Stevri I. Lumintang, Theologia
Abu-Abu, (Malang: Gandum Mas, 2004), 470-471.
[25] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 189-190.
[26] Ulrich Beyer, Garis-Garis Besar Eskhatologi Dalam
Perjanjian Baru, 2-3.
[27] Ulrich Beyer, 67-68.
[28] Milard J. Erikson, Teologi Kristen: Vol 3, (Malang: Gandum
Mas, 2013), 470.
[29] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 122-123.
[30] Metode ini sejak abad XX telah
di pakai oleh Karl Barth, Rudolf Bultman dan Emil Bruner. Lihat. Stevri I.
Lumintang, Theologia Abu-Abu, (Malang:
Gandum Mas, 2004), 190. Ada tiga kunci untuk mengerti Kristologi atas, yaitu:
1). Dasar pengertian tentang Kristus bukanlah Yesus Sejarah, melainkan kerygma, proklamasi gereja berkenaan dengan
Kristus. 2). Dalam penyusunan suatu Kristologi, ada dua referensi bagi
tulisan-tulisan Paulus dan Injil keempat. Yang terlebih dahulu berisi
penafsiran teologis yang lebih eksplisit, sedangkan injil-injil secara mendasar
adalah laporan yang memuat fakta tentang perbuatan dan pengajaran Yesus. 4).
Iman kepada Kristus bukanlah di dasarkan kepada bukti rasional atau legitimasi.
3). Iman tersebut tidak di buktikan secara ilmu pengetahuan. Isi iman di
letakkan di luar wilayah akal budi manusia dan penelitian historis dan tidak
dapat di buktikan secara konklusif. Sedangkan penelitian historis berusaha
menyingkirkan hambatan-hambatan kepercayaan yang berbeda, itu tidak dapat
membangun kepercayaan mereka. Lihat. Stevri I. Lumintang, Theologia
Abu-Abu, Malang: Gandum Mas, 2004),
191.
[31] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, 139-140.
[32]Catatan
Akademik Dogmatika II di Kelas III-C oleh Pdt. Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan, 2017.
[33] Pandangan Pertama ini adalah
eskhatologi Futuris yang di populerkan oleh Albert Schweitzer. Pandangan kedua
adalah eskhatologi Prensenti atau eskhatologi yang terwujud yang di populerkan
oleh Proffesor C. H. Dodd yang mengatakan bahwa Yesus berpegang pada apa yang
di namakannya “eskhatologi yang terwujud”. Dan pandangan ketiga adalah
eskhatologi yang mulai terwujud. Lihat. John Drane, Memahami Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 132, 134, 136).
[34] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 132.
[35] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 122.
[36] Ulrich Beyer, Garis-Garis Besar Eskhatologi Dalam
Perjanjian Baru, 1.
[37] Milard J. Erikson, Teologi Dasar Vol 3, 466-467.
[38] G. C. Van Niftrik & B. J.
Boland, Dogmatika Masa Kini, 310.
[39] Stevri I. Lumintang, Theologia Abu-Abu, 471-473.
[40] Ulrich Beyer, 7.
[41] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, 132.
[42] Milard J. Erikson, Teologi Dasar Vol 3, 460-461.
[43]Catatan
Akademik Dogmatika II di Kelas III-C oleh Pdt. Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan, 2017.
[44] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 190.
[45] Ulrich Beyer, 23.
[46] Ulrich Beyer, 23-24.
[47] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 190-191.
[48] Ibid, 191.
[49] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 136-137.
[50] Milard J. Erikson, Teologi Dasar Vol 3, 476.
[51] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 474.
[52]Catatan
Akademik Dogmatika II di Kelas III-C oleh Pdt. Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan, 2017.
[53] R. Soedarmo, Kamus Teologi, 37.
[54] Karl Barth Lahir di Basel,
Swiss. Belajar teologi di Universitas Bern, Berlin, Tubingen dan Marburg.
Menjadi pendeta reformed di Jenewa dan kemudian melayani di jemaat Safenwill
(1911-1921). Diangkat menjadi profesor di Gottingen (1922); Munster (1925) dan
di Bonn (1930). Teologinya pada fase pertama disebut dengan teologi krisis atau
dialektik. Pada masa pemerintahan Adolf Hitler, Bart mendukung aktivitas
“Gereja yang mengaku” antara lain dalam penyusunan Konfesi Barmen 1934. Setelah
dibebastugaskan oleh rexim Nazi, ia kembali ke Basel. Pada waktu itu Barth
menulis karya yang besar, yaitu Dogmatika
Gereja I/1-IV/4, 1932-1967.
[55] J. L. Ch. Abineno, Pengharapan Kristen, 35.
[56] Paul Althaus adalah Guru Besar
di bidang Teologi Sistematik dan Perjanjian Baru (1914 di Gottingen, 1920 di
Rostock, 1925 di Erlangen). Lahir di Obershagen (Jerman). Althhaus ingin
menghubungkan dalam pemikiran warisan teologi Luther dengan masalah-masalah
alam pemikiran modern.
[57] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 191-192.
[58] Paul Tillich lahir di
Starzeddel, Brandenburg (Jerman). Dia belajar di Berlin, Tubingen, Halle dan
meraih gelar doktor di bidang Filsafat dari Universitas Breslau tahun 1911.
Tillich mengembangkan teologi apologetis, dengan menggunakan metode “koorelasi”
yang menghubungkan berita Alkitab dengan situasi aktual. Allah dimengerti
sebagai “yang menyangkut kita secara penuh”.
[59] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 192.
[60]Catatan
Akademik Dogmatika II di Kelas III-C oleh Pdt. Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan, 2017.
[61] R. Soedarmo, Kamus Teologi, 37.
[62] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 192-193.
[63] J. L. Ch. Abineno, Pengharapan Kristen, 35-36.
[64] Milard J. Erikson, Teologi Dasar Vol 3, 472.
[65] J. L. Ch. Abineno, Pengharapan Kristen, 30-32.
[66]Catatan
Akademik Dogmatika II di Kelas III-C oleh Pdt. Pardomuan Munthe, M.Th, STT Abdi Sabda Medan, 2017.
[67] J. Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta: BPK-GM, 1985), 248-249.
[68] Harun Hadiwijono, 495, 497.
[69] R. Soedarmo, Kamus Teologi, (Jakarta: BPK-GM, 2015),
256.
[70] Theol. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, 197.
[71] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 106-108.
[72] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 108-109.
[73] J. L. Ch. Abineno, Pokok-pokok Penting Dari Iman Kristen, (Jakarta:
BPK-GM, 1999), 241-242.
[74] J. L. Ch. Abineno, Sekali Lagi Pengharapan Kristen, (Jakarta:
BPK-GM, 1983), 30-31.
[75] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 111-112.
[76] Lihat juga: Kolose 2:12; 2 Kor.
4:14; Ef. 2:6.
[77] J. L. Ch. Abineno, Sekali Lagi Pengharapan Kristen, 67-78.
[78] Harun Hadiwijono, 479-480.
[79] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika,176, 212.
[80] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, 220.
[81] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, 220, 222.
[82] Lihat juga: 2 Kor. 5:10; 1
Petrus 4:17; Yudas 1:6; Roma 5:16. Bnd. Milard J. Erikson, Teologi Dasar Vol 3, 531-535.
[83] Lihat juga Yoh. 5:29, Yoh.
12:48.
[84] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 213.
[85] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 217.
[86] J. Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta: BPK-GM, 1995), 257-259.
[87] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 3: Eklesiologi,
Eskhatologi, Etika, 243.
[88] Harun Hadiwijono, Iman Kristen, 504.
[89] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 219-220.
[90] J. L. Ch. Abineno, Pokok-pokok Penting Dari Iman Kristen,
252.
[91] Welly Pandensolang, Eskhatologi Biblika, 220, 233.
[92] Harun Hadiwijono, 504.

Posting Komentar untuk "Eskhatologi"