BAHAN KHOTBAH JUMAT AGUNG
"SUNGGUH YESUS ADALAH ANAK ALLAH"
Matius 27:45-46
I. Pendahuluan
Jumat Agung adalah hari yang paradoksal. Di satu sisi, ini adalah hari paling gelap dalam sejarah umat manusia — Sang Pencipta langit dan bumi digantung di kayu salib oleh ciptaan-Nya sendiri. Di sisi lain, inilah hari paling agung karena di sinilah kasih Allah yang terbesar dinyatakan kepada dunia. Di antara semua peristiwa yang terjadi di Golgota, ada dua ayat yang singkat namun amat dalam Matius 27:45–46. Kegelapan siang bolong dan seruan Yesus kepada Bapa-Nya menjadi jantung teologi penebusan. Dari dua ayat inilah kita akan belajar: Sungguh, Yesus adalah Anak Allah.
II. Pembahasan
Penyaliban Yesus dimulai pada jam sembilan pagi (Markus 15:25). Selama tiga jam pertama, para prajurit membagi pakaian-Nya, para pemimpin agama mengejek-Nya, dan kedua penjahat yang disalibkan bersama-Nya pun menghina-Nya (Mat. 27:35–44). Namun pada jam dua belas tengah hari saat matahari seharusnya berada di puncak langit tiba-tiba kegelapan meliput seluruh negeri selama tiga jam penuh. Ini bukan gerhana matahari biasa (gerhana tidak bisa bertahan tiga jam). Ini adalah tanda ilahi yang luar biasa. Di tengah kegelapan itulah Yesus berseru dalam bahasa Aram, mengutip pembukaan Mazmur 22 seruan yang sekaligus adalah doa, pengakuan iman, dan puncak dari penderitaan-Nya yang terdalam.
Dalam Alkitab, kegelapan sering kali dikaitkan dengan penghakiman Allah. Ketika Allah mendatangkan tulah gelap di Mesir (Kel. 10:21–23), itu adalah tanda penghakiman. Nabi Amos pun menubuatkan: "Aku akan membuat matahari terbenam di siang hari dan membuat bumi menjadi gelap pada hari yang terang" sebagai tanda hari penghukuman Tuhan (Am. 8:9). Kegelapan selama tiga jam di Kalvari bukan sekadar fenomena alam. Kegelapan itu menyatakan bahwa di atas kayu salib itu, Allah sedang menghakimi dosa seluruh dunia. Yesus bukan sekadar mati sebagai martir Ia sedang menanggung hukuman ilahi yang seharusnya menimpa kita. Di sinilah kita melihat identitas Yesus: hanya Anak Allah yang tak berdosa yang bisa menanggung penghakiman ini. Tidak ada manusia biasa yang sanggup. Darah domba di Perjanjian Lama hanyalah bayangan Yesus adalah Anak Domba Allah yang sesungguhnya (Yoh. 1:29).
Seruan "Eli, Eli, lama sabakhtani?" adalah kutipan langsung dari Mazmur 22:1, sebuah mazmur ratapan Daud yang penuh penderitaan namun diakhiri dengan keyakinan akan pertolongan Allah. Dengan mengutip mazmur ini, Yesus tidak sedang putus asa; Ia sedang menunjukkan bahwa penderitaan-Nya menggenapi nubuatan Kitab Suci.
Matius 27:54 mencatat bahwa sesaat setelah Yesus disalibkan, seorang kepala pasukan Romawi yang berdiri dan menyaksikan semua yang terjadi berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."Ini adalah ironi yang luar biasa. Seorang prajurit kafir — yang biasa mengeksekusi penjahat — menjadi pengkhotbah pertama tentang keilahian Yesus di atas kayu salib. Ia tidak membuat pengakuan ini berdasarkan kebangkitan atau mukjizat penyembuhan. Ia membuat pengakuan ini karena menyaksikan cara Yesus mati. Cara Yesus mati berbeda dari semua orang yang pernah ia eksekusi. Kegelapan, gempa bumi, tirai Bait Allah yang robek dari atas ke bawah, dan ketenangan Yesus di tengah semua itu — semuanya bersaksi bahwa ini bukan kematian orang biasa. Pengakuan sang kepala prajurit menjadi undangan bagi kita semua: Sudahkah kita membuat pengakuan yang sama? "Sungguh, Yesus adalah Anak Allah!".
Pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah bukan hanya doktrin teologis, ini adalah kebenaran yang mengubah hidup. Berikut adalah respons yang Allah inginkan dari kita:
- Tiga Respons yang Allah Inginkan
- ✝Percaya sepenuhnya. Karena Yesus adalah sungguh-sungguh Anak Allah, penebusan-Nya adalah sempurna dan cukup. Tidak perlu ditambah usaha manusia. Keselamatan kita aman di dalam Dia. Apakah Anda sudah mempercayakan keselamatan Anda kepada-Nya sepenuhnya?
- ✝Bersyukur dengan sungguh. Kegelapan yang ditanggung Yesus adalah kegelapan yang seharusnya kita tanggung. Keterpisahan dari Allah yang Ia alami adalah keterpisahan yang menjadi bagian kita karena dosa. Sudahkah kita sungguh-sungguh bersyukur atas hal ini?
- ✝Bersaksi dengan berani. Kepala prajurit itu bersaksi tanpa takut di tengah kerumunan yang baru saja menyalibkan Yesus. Dalam dunia yang seringkali meremehkan iman kita, maukah kita bersaksi dengan berani: "Sungguh, Yesus adalah Anak Allah dan Tuhan hidupku"?
III. Refleksi Khotbah
Dua ribu tahun yang lalu, di sebuah bukit di luar Yerusalem, Anak Allah berteriak dalam kegelapan. Ia menanggung penghakiman yang bukan milik-Nya. Ia mati bukan karena terpaksa, tetapi karena mengasihi kita dengan kasih yang tidak terbatas. Kegelapan tiga jam itu sudah berlalu. Tetapi terangnya menerangi setiap jiwa yang percaya kepada-Nya hingga hari ini. Jangan lewatkan Jumat Agung ini tanpa membuat pengakuan yang sama seperti sang kepala prajurit:
.png)
Posting Komentar untuk "Bahan Khotbah: Jumat Agung-Matius 27:45-46-Sungguh Yesus Adalah Anak Allah"