a. Iman, apakah itu?
b. Asal usulnya pada manusia, bukti dan akibatnya
c. Mengapa keselamatan oleh Iman? (Hubungannya
dengan Kasih Karunia dan Pembenaran)
Apakah
dengan matinya Yesus, lalu bangkit, maka setiap orang diselamatkan? Tidak.
Jadi, apa yang menentukan manusia itu diselamatkan atau tidak? Jawabannya
adalah Iman. Jadi, Imanlah yang menentukan manusia diselamatkan, atau imanlah
yang menyelamatkan manusia. Iman adalah kekuatan atau kuasa yang diberikan
Allah untuk mendorong dan menuntun manusia kepada keselamatan. Jadi, Iman
adalah berasal dari Allah atau pemberian Allah pada manusia. Manusia bisa
diselamatkan hanya oleh Iman, artinya manusia harus beriman dulu baru
diselamatkan. Jadi, iman itulah yang bekerja dalam diri manusia untuk mendorong
dan menuntun manusia kepada keselamatan. Dalam Yohanes 20:31 dikatakan “Tetapi
semua yang tercantum disini telah di catat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah
Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh Imanmu memperoleh hidup dalam
nama-Nya.”
Sama
halnya seperti Iman, dosa juga merupakan pelaku, dosa memiliki kekuatan dan
kuasa (Roma 7:17, 20) Jadi Iman adalah kebalikan dari dosa. Kalau melihat
tingkah laku manusia karena keberdosaaannya, tidak seorang pun yang layak
diselamatkan, tetapi karena iman yang diam pada manusia, Iman itulah yang
bekerja dalam diri manusia untuk menuntun manusia kepada keselamatan. Untuk
itulah Allah menetapkan keselamatan oleh Iman. Penyelamat itu arus masuk ke
dalam diri manusia, yakni Iman.
Dari lahir sampai matinya nanti, manusia adalah orang berdosa (untuk itulah dalam liturgi Gereja selalu ada pengakuan dosa). Tetpi jika iman itu ada dalam diri kita, maka Allah tidak melihat dosa itu lagi. Iman itulah yang dilihat oleh Allah karena Kasih Karunia-Nya. Jadi, oleh dosa, dosa itu membuat kita mati. Dan oleh iman, kita memperoleh hidup di dalam nama Yesus (Yoh 20:31). Jadi, manusia adalah orang berdosa sekaligus, orang beriman. Karena kejatuhan manusia kedalam dosa maka dosa itu membuat manusia itu mati, maka Allah memberikan Iman pada diri manusia, supaya oleh iman itu manusia beroleh hidup.
1.
Kontraversi
Ajaran Keselamatan
(Manusia
– Dosa – Allah – Keselamatan)
a. Kontraversi Yesus Dengan Pemimpin Agama
Yahudi
b. Kontraversi Paulus Dengan Yudaisme Kristen
1.1.Pengertian
Keselamatan
Keselamatan berarti manusia yang
pada mulanya telah meninggalkan Allah dengan jatuh ke dalam dosa kembali kepada
Allah atau manusia hidup di dalam Allah atau manusia menjadi milik Allah.
Dimana karena dosa manusia tidak menjadi milik Allah lagi. Oleh sebab itu, jika
manusia ingin selamat, manusia harus kembali pada Allah, menjadi milik Allah
dan hidup di dalam Allah. Keselamatan dalam bahasa Yunani
disebut makarios yang berarti
bahagia. Bahagia berarti senang, perasaan yang menggembirakan. Namun terjemahan
yang lebih tepat untuk kata Yunani itu adalah keselamatan, sebab arti
keselamatan itu lebih dalam. Dalam Perjanjian Baru, keselamatan adalah
kebebasan mendasar, yaitu dari dosa, jadi juga kebebasan dari hukuman dan
segala akibat dari dosa. Sejarah keselamatan bermaksudkan sejarah pelaksanaan
rencana Allah untuk melepaskan manusia dari cengkeraman dosa dan
akibat-akibatnya karena karya Yesus Kristus.[1]
Untuk itulah dalam Perjanjian Baru Yesus (nama dari akar bahasa Ibrani yang
berarti ‘menyelamatkan’) mendatangkan keselamatan atau “Kerajaan Allah” (Mat.
1:21; 21:31-32; Luk. 19:10; Yoh. 4:42; Flp. 3:20).[2]
Keselamatan
berarti diselamatkan dari suatu malapetaka. Dalam Alkitab juga menggunakan
istilah keselamatan untuk pengertian yang khusus, yaitu menunjuk pada penebusan
kita dari akibat dosa. Keselamatan yaitu menunjuk pada pekerjaan penebusan
Allah pada masa lampau, sekarang, dan yang akan dating.[3]Keselamatan
merupakan tema dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Keselamatan itu
bersifat perorangan, nasional, dan dunia semesta. Keselamatan itu berpusatkan
pada Pribadi Tuhan kita Yesus Kristus.Dari sudut pandangan Allah, keselamatan
meliputi segenap karya Allah dalam membawa manusia keluar dari hukuman menuju
pembenaran, dari kematian menuju kehidupan kekal. Dari sudut pandangan manusia
keselamatan mencakup segala berkat yang berada di dalam Kristus, yang bias
diperoleh dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan yang akan datang.[4]
1.2.Kontraversi
Yesus Dengan Pemimpin Agama Yahudi
1.2.1.
Latar
Belakang Yesus
Yesus dilahirkan sebagai seorang Yahudi Palestina
pada abad ke-4 SM. Yesus merupakan nama lazim yang digunakan untuk pribadi
Yahudi. Yesus merupakan bentuk Latin terjemahan Yunani atas kata Yosua atau Yehosua dalam bahasa Ibrani, yang berarti “keselamatan itu adalah
Yahweh”.[5]
Nama-Nya sudah menunjukkan bahwa Ia adalah penyelamat. Ia adalah utusan Allah,
yang membebaskan manusia dari kuasa dosa dan menghantar mereka dalam hubungan
kasih dengan Allah.[6]
Sejarah munculnya nama ini adalah saat malaikat menjumpai seorang perempuan
yang bernama Maria, mengatakan “engkau akan mengandungseorang anak laki-laki
dan engkau akan menamai-Nya Yesus”. Jadi Yesus adalah nama seorang anak
laki-laki atau anak manusia. Lalu kemudian muncul nama “Kristus”, namun tidak
ada diceritakan bagaimana munculnya nama ini. Maka timbul pertanyaan, apakah
“Kristus” itu adalah nama? Kristus bukanlah nama, tapi Kristus adalah gelar,
sebutan atau jabatan. Sama seperti ada gelar nabi, imam, rasul, pendeta,
sintua, dll, ini semua adalah gelar atau jabatan dan itu bukan nama. Dan
jabatan ini digolongkan jabatan ke-Ilahian, maksudnya pemberian kuasa dari
Tuhan.Dari semua gelar atau jabatan tersebut, jabatan atau kuasa yang tertinggi
yang dikaruniakan Tuhan adalah Kristus.Karena itu Kristus disebut Tuhan.Itu
berarti Kristus adalah ke-Allahan atau ke-Ilahian dan Yesus adalah kemanusiaan
atau keinsanian.[7]
Lukas
menyajikan kisah yang menjadi latar belakang kelahiran Yesus, yaitu tampilnya
Malaikat Gabriel dihadapan Maria untuk memberitakan kelahiran Anak Allah dan
mempersiapkan Maria agar menjadi ibu Yesus (Luk. 1:26-38). Matius juga
memberitakan kelahiran Yesus, tetapi ia hanya mengisahkan kejadian di dalam
lingkungan keluarga saja. Di kalangan keluarga itu diketahui bahwa Maria hamil
oleh Roh Kudus. Lalu seorang malaikat meyakinkan Yusuf agar ia bersedia
menerima wanita tunangannya itu dan bayinya, yang adalah Imanuel yang
dijanjikan dari keturunan Daud, yang diberi nama Yesus. Dengan perantaraan
seorang gadis yang hamil, seluruh keturunan Daud akan menerima Juruselamat yang
telah dijanjikan (Mat. 1:18-25). Kemudian, Lukas mengatakan bahwa Yusuf pergi
ke Betlehem bersama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung.[8]
Injil
Matius dan Lukas mencatat kelahiran Yesus, dan keduanya mencatat bahwa hal itu terjadi
ketika Herodes Agung berkuasa.Lukas juga menyebutkan bahwa kaisar Agustus (27
SM-14 M) adalah kaisar Romawi yang sedang memerintah, dan bahwa suatu sensus
dilaksanakan ketika Kirenaeus menjadi wali negeri Siria.[9]
Oleh karena itu ia mengeluarkan pengumuman resmi seperti yang dikatakan dalam
Luk. 2:1 “menyuruh mendaftarkan semua orang diseluruh dunia”. Salah satu Negara
yang terkena akibat surat keputusan ini adalah Palestina.[10]
Rajanya, Herodes Agung, takluk kepada kaisar Agustus. Di antara mereka yang
harus mengadakan perjalanan sebagai akibat surat keputusan Agustus adalah
sepasang suami istri dari rakyat biasa di Nazaret, sebuah desa di Galilea.
Mereka adalah Yusuf, tukang kayu di desa itu, dan Maria.Mereka harus menempuh
perjalanan sejauh 161 km agar dapat didaftarkan sebagaimana mestinya. Mereka
kaum tani, namun berdarah bangsawan dan
keturunan yang berasal dari Betlehem, sebuah kota kuno, kota Raja Daud, jauh di
bagian selatan negeri itu.[11]Surat
keputusan itu telah memaksa mereka menempuh perjalanan yang meletihkan.Yusuf
merasa ketakutan dan cemas dan Maria hampir mati kelelahan.Mereka tiba
dipenginapan, tetapi semua penginapan telah penuh.Tidak ada orang yang bersedia
menerima mereka, sehingga mereka harus menginap di suatu tempat yang juga ditempati
hewan ternak. Di sana, pada malam itu juga, Maria melahirkan Putranya. Karena
tidak ada wanita yang menolongnya dan juga tidak ada tempat tidur, maka ia
membungkus-Nya dengan lampin dan membaringkan-Nya dalam sebuah palungan.[12]
Kita
mengetahui lingkungan dimana Yesus dibesarkan.Rumah tangga-Nya termasuk yang
terpuji di negeri-Nya, tempat tinggal golongan pekerja yang saleh dan
pandai.Yusuf sebagai kepala rumah tangga adalah orang yang saleh dan
bijaksana.Karena Yusuf tidak disebut-sebut di dalam sejarah masa kehidupan
Yesus selanjutnya, pada umumnya orang berpendapat bahwa Yusuf sudah meninggal
pada waktu Yesus masih muda.Setelah itu mungkin pemeliharaan rumah tangga
dipikul oleh Yesus.Ada kemungkinan juga bahwa ibu-Nya telah memberi pengaruh
yang paling menentukan atas perkembangan hidup-Nya, selain pengaruh Allah
Bapa-Nya. Ada beberapa anggota lain dalam keluarga ini. Yesus mempunyai
beberapa saudara lelaki dan perempuan.Dua diantara mereka adalah Yakobus dan
Yudas.Yesus menerima pendidikan-Nya di rumah, atau dari seorang guru yang
bertugas dalam rumah ibadat. Mudah dimengerti betapa Ia dengan sangat
bersemangat mendalami Perjanjian Lama. Perkataan-Nya yang penuh dengan
kutipan-kutipan dari Perjanjian Lama memberikan cukup banyak bukti bahwa
Perjanjian Lama terus menerus menjadi makanan bagi pikiran-Nya dan penghibur
bagi jiwa-Nya. Penelaahan Perjanjian Lama waktu Ia muda adalah rahasia
kecakapan-Nya yang menakjubkan yang dipakai-Nya kemudian untuk memperkaya
khotbah-Nya dan memperkuat ajaran-Nya, untuk menangkis serangan penentang-Nya
dan untuk mengatasi pencobaan iblis. Kutipan-kutipan-Nya juga menunjukkan bahwa
Ia membaca Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani asli, dan bukan terjemahan
bahasa Yunani, yang pada zaman itu lazim dipakai. Bahasa yang dipergunakan-Nya
untuk berpikir dan berbicara sehari-hari adalah bahasa Aram, yaitu bahasa yang
berkembang dari rumpun bahasa yang sama dengan bahasa Ibrani. Ia juga mendapat
kesempatan untuk mempelajari bahasa Yunani karena pada waktu itu Galilea penuh
dengan penduduk yang berbahasa Yunani. Ada satu tempat yang paling mengagungkan
bagi Dia, yaitu Bait Allah, dan khususnya sekolah di sana dimana ahli-ahli
hikmat kebijaksanaan mengajar. Ia masih muda, namun Ia telah melampaui
kebanyakan manusia yang terbawa arus kehidupan tanpa sekalipun bertanya apa
makna serta tujuan kehidupan itu. Ia menyadari bahwa ada pekerjaan yang
ditugaskan oleh Allah, yang harus dilakukan-Nya dalam hidup-Nya.[13]
1.2.2.
Ajaran
Yesus Mengenai Keselamatan
Alkitab mengajarkan bahwa Allah telah menyediakan
keselamatan melalui pribadi dan karya Putra-Nya. Sang Putra telah diutus untuk
menjadi manusia, mati ganti kita, bangkit kembali dari antara orang mati, naik
kepada Allah Bapa, menerima kedudukan yang berkuasa di sebelah kanan Allah, dan
menghadap Allah atas nama orang percaya. Ia akan datang kembali menyempurnakan
penebusan. karya Putra Allah ini bertujuan menyelamatkan kita dari kesalahan,
hukuman, kuasa dosa. Rencana ini juga meliputi penebusan alam, yang ikut takluk
kepada kesia-siaan akibat dosa manusia.Keselamatan disiapkan bagi dunia dalam
arti yang umum, namun secara khusus bagi mereka yang mau percaya kepada Kristus
serta taat kepada-Nya. Pertobatan mutlak diperlukan untuk keselamatan. Iman
adalah satu-satunya syarat untuk memperoleh keselamatan, dan iman itu juga
merupakan karunia Allah.Roh Kudus adalah perantara dalam penerapan keselamatan
pada jiwa seseorang.Roh Kudus memakai Firman Allah untuk menginsafkan, menunjuk
jalan kepada Kristus, dan untuk memperbaharui jiwa.Dengan mengorbankan diri-Nya
sendiri Kristus telah menghapus dosa (Ibr. 9:26).
Yesus mengatakan, “Anak manusia juga datang bukan
untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang” (Mrk. 10:45). Ditunjukkan dengan jelas bahwa Yesus
Kristus harus menjadi menusia agar Ia dapat mati karena dosaumat manusia. Dalam
surat Ibrani dikatakan, “Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat
sedikit lebih rendahdaripada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang
oleh karena penderitan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya
oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia (Ibr. 2:9).
Yohanes mengungkapkan “Dan kamu tahu bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya
Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa” (1 Yoh. 3:5). Jika
Kristus datang untuk menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang,
maka kita tahu bahwa Ia datang untuk menebus orang-orang dari dosa mereka oleh
kematian-Nya. Dengan demikian kita juga mengetahui bahwa kematian-Nya bersifat
mengganti atau mewakili, dan selanjutnya bahwa tidak semua orang, tetapi
banyakorang yang akan diselamatkan. Kristus adalah “Anak Domba Allah yang
menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29).[14]
Yesus mengajarkan bahwa melalui kematian-Nya
tersedia berkat abadi bagi banyak orang dan tercipta hubungan baru antara Allah
dan manusia melalui pengampunan dosa, hasil karya pengorbanan-Nya menyerahkan
nyawa-Nya menjadi korban tebusan dosa.Ia mengajarkan bahwa kendati Dia harus
memberikan nyawa-Nya dan mati menjadi tebusan bagi banyak orang, namun Dia akan
bangkit dari antara orang mati (Mrk. 9:9).[15]Atas
upayanya sendiri, manusia sama sekali tidak mungkin meraih keselamatan dirinya.
Karena dorongan belas kasih-Nya kepada manusia, Allah memutuskan untuk
menyelamatkan manusia melalui kematian Putra-Nya (Yoh. 3:16; Rom. 5:8).Dengan
demikian, anugerah Allah adalah penggerak, dan penebusan oleh Kristus adalah
penyebab yang berjasa untuk keselamatan manusia.[16]Ucapan
Yesus mengenai roti sorgawi juga memperlihatkan ciri kurban dari misi-Nya (Yoh.
6:51-53).“Roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk
hidup dunia… Sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan
minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”.Kiasan ini
menunjukkan kurban, karena daging dan darah dilihat sebagai sesuatu yang mutlak
perlu bagi kehidupan dunia.Yang lebih penting lagi ialah bahwa penyerahan
nyawa-Nya oleh Yesus merupakan dasar bagi kehidupan dunia.Dalam Injil Yohanes
terdapat beberapa nats yang memperlihatkan bahwa Yesus melaksanakannya dengan
sukarela penuh, sejalan dengan kehendak Bapa-Nya.“Tidak seorangpun mengambilnya
(yaitu nyawa Yesus) dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut
kehendak-Ku sendiri” (Yoh. 10:18).Sifat sukarela ini juga dikumandangkan dalam
Yoh. 15:13, “tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang
memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya”. Tindakan-Nya yang sukarela ini
bukan di dorong oleh perasaan gagah berani, melainkan oleh kasih. Dalam Yoh.
3:16 ditegaskan dengan gambling bahwa pengutusan Anak ke dunia ini di dorong
oleh kasih Allah kepada mereka yang berada di dunia ini, yang kalau tidak
demikian akan binasa.[17]
Yesus
Kristus adalah Juru Selamat dunia. Tentang Dia, Yohanes berkata: “Lihatlah anak
domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29). Hanya Dialah perantara
antara Allah dan manusia. Tatkala orang-orang dari Samaria mengenal Dia,
berkatalah mereka: “Kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa
Dialah benar-benar Juru Selamat dunia” (Yoh. 4:42).[18]
Salah satu pengajaran Yesus yang menarik adalah bahwa Ia banyak berbicara
mengenai diri-Nya sendiri. Ia memanggil manusia agar percaya kepada Dia, dan
mempercayakan diri mereka kepada Dia. Dia memberikan mereka kuasa dan
perlindungan, Dia mengampuni dosa, dan mengajak orang-orang yang terbeban,
“Datanglah kepadaKu…., Aku akan menyegarkan kamu” (Mat.11:28).[19]Injil
Yohanes secara khas menekankan aspek penyataan dari pekerjaan Yesus. Dalam
pendahuluan, gagasan ini muncul dalam penampilan Yesus sebagai Firman dan
Terang (Yoh. 1:1,4). Lagi pula terang juga merupakan pribadi, sebab Yesus
sendiri menamakan diri-Nya sebagai Terang Dunia (Yoh. 8:12). Aspek lain dari
gagasan ini ialah penitikberatan Yohanes atas “kebenaran”. Firman yang menjelma
itu dikatakan “penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14).Kebenaran datang
melalui Yesus Kristus (Yoh. 1:17).Yesus sendiri menyatakan diri sebagai
“kebenaran” (Yoh. 14:6).[20]
1.2.3.
Latar
Belakang Yahudi
Kaum Yahudi adalah bebas, artinya mereka berhak
menyembah Allahnya menurut hokum-hukum tauratnya.Agamanya dipimpin oleh majelis
“sanhedrin”, anggotanya terdiri dari
imam-imam dan ahli-ahli taurat. Pusat agama Yahudi adalah Bait Allah di
Yerusalem, tetapi kebanyakan orang Yahudi tak sempat berbakti ke sana, sehingga
dalam tiap-tiap jemaat Yahudi dibangunkan Rumah Ibadah (Sinagoge), tempat
mereka berhimpun pada hari Sabat di bawah pimpinan ahli-ahli taurat. Lambat
laun golongan ahli-ahli taurat itu lebih berkuasa daripada golongan imam.[21]
Rumah-rumah ibadat bertambah banyak di tempat
orang-orang Yahudi berdiam. Setiap Sabat, rumah-rumah ibadat itu penuh dengan
jemaat yang berdoa. Khotbah-khotbah disampaikan oleh rabi-rabi. Para rabi
adalah kelompok baru yang diciptakan oleh karena masyarakat membutuhkan orang
yang dapat menerangkan dan menerjemahkan Firman Allah dari bahasa Ibrani, yang
telah menjadi bahasa yang tidak dipakai lagi. Dalam Sinagoge hampir seluruh
kitab Perjanjian Lama dibacakan sekali setahun dihadapan jemaat. Namun dibalik
semua ketaatan kepada agama ini, kerohanian orang Yahudi telah menurun secara
menyedihkan.Bagian-bagian di luarnya telah bertambah namun roh di dalamnya
telah lenyap.Yang mencerminkan orang-orang beragama pada waktu itu adalah
orang-orang Farisi.Nama mereka, Farisi, dari bahasa Ibrani berarti “mereka yang
dipisahkan”. Golongan ini mula-mula muncul sebagai pejuang-pejuang yang
mendorong orang-orang Yahudi untuk memisahkan dirinya dari bangsa-bangsa lain.
Orang Farisi adalah patriot-patriot yang menyala-nyala semangatnya, selalu siap
menyerahkan nyawanya bagi kemerdekaan negaranya. Mereka merendahkan dan
membenci ras-ras lain, dan dengan kepercayaan yang tidak goyah mereka tetap
berpegang pada harapan akan masa depan yang mulia bagi bangsa mereka. Namun
mereka telah menganggap diri sebagai umat kesayangan Allah hanya karena mereka
keturunan Abraham.Mereka tidak lagi mengindahkan pentingnya kerohanian
pribadi.Mereka melipatgandakan keistimewaan mereka sebagai orang
Yahudi.Kebanyakan ahli taurat berasal dari kalangan orang Farisi.Mereka
dinamakan demikian karena mereka adalah ahli tafsir dan penyalin kitab suci
serta juga ahli hokum bagi rakyat.[22]
Di
samping golongan Farisi yang berkuasa itu ada juga partai imam, yang disebut
orang Saduki. Mereka menolak segala harapan akan kedatangan Mesias, yang bercorak
apokaliptis, dan segala tambahan kepada taurat, yang dibuat dan dipesankan oleh
kaum Farisi.[23]Orang-orang
Saduki memprotes wewenang-wewenang yang diberikan kepada tradisi-tradisi nenek
moyang.Mereka menuntut untuk kembali ke Kitab Suci, dan hanya Kitab Suci.Mereka
meminta agar moralitas menggantikan upacara agama.Akan tetapi, protes mereka
hanya berdasarkan roh penyangkalan bukan karena kerohanian mereka.Golongan
saduki adalah orang-orang yang skeptic, bersikap dingin, dan duniawi.Walaupun
mereka memuji-muji moralitas, namun moralitas ini dingin dan tidak diterangi
oleh hubungan dengan Allah, sumber segala moralitas tertinggi.Mereka menolak
untuk membebani hati nurani mereka dengan peraturan-peraturan yang sangat
cermat dari orang Farisi, tetapi penolakan ini adalah karena mereka ingin hidup
bersenang-senang serta memanjakan diri.Orang Saduki terutama berasal dari
kalangan atas yang kaya.
Orang-orang
Farisi dan ahli-ahli Taurat membentuk apa yang dapat kita namakan kalangan
menengah, walaupun ada banyak anggotanya yang berasal dari kalangan yang lebih
tinggi. Kalangan yang lebih rendah dan orang-orang dusun terpisah dari
sesamanya yang kaya oleh jurang yang lebar, tetapi terikat pada golongan
Farisi, karena perasaan kagum.Di bawah semua golongan ini ada satu golongan
besar yang terdiri atas orang-orang yang tidak lagi mempunyai hubungan dengan
agama dan kehidupan masyarakat teratur.Mereka adalah pemungut cukai, pelacur
dan orang berdosa.Tidak seorangpun yang memperdulikan kehidupan mereka.[24]
1.2.4.
Ajaran Pemimpin
Yahudi Mengenai Keselamatan
Orang Yahudi melakukan hukum taurat supaya beroleh
bagian dalam Kerajaan Allah.Terlebih-lebih golongan ahli-ahli taurat yang
berusaha mempelajari dan mengajarkan segala hukum dan larangan Taurat Musa.
Mereka berusaha melakukan Taurat secermat-cermatnya, umpamanya hal berpuasa,
berdoa, memberi sedekah, menguduskan hari sabat, dan sebagainya.Pada hemat
mereka, segala amal itu membawa manusia kepada pintu sorga, bahkan kebajikannya
wajib dibalas dan diganjar oleh Tuhan.[25]
Taurat merupakan istruksi, bimbingan, arahan supaya
umat menjalani hidup dengan baik di dunia.Pelaksanaan taurat merupakan pusat
kehidupan umat Israel sampai sekarang seperti tercermin dari tradisi agama
Yahudi yang lebih menitikberatkan benar tidaknya tindakan manusia (ortopraksis)
ketimbang benar tidaknya ajaran agama (ortodoksi).Pelaksanaan hukum taurat
merupakan ekspresi iman mereka kepada Allah, sekaligus ciri umat pilihan.Israel
dan taurat, taurat dan Israel, tidak dapat saling dipisahkan. Selama hidup diatur
berbagai kewajiban kepada sesame juga kepada Tuhan, kehidupan akanterjamin bila
taurat dilakukan dengan setia, hidup akan sejahtera dan bahagia. Maka orang
Yahudi memahami taurat yang petunjuk-petunjuknya menyentuh kehidupan
sehari-hari (Mzm119:18-19).[26]
Penilaian orang Yahudi akan hukum taurat cenderung
menonjolkan doktrin pahala dengan melakukan hukum taurat, yang akan memampukan
manusia beroleh hidup yang kekal. Perintah taurat yang amat beragam merupakan
sarana untuk mendapatkan banyak pahala. Setiap penggenapan taurat, yaitu setiap
tindakan yang sesuai dengan rumusan taurat yang konkret, akan menambah timbunan
pahala. Sebaliknya, setiap pelanggaran akan menguranginya. Yudaisme tidak
mengenal jalan keselamatan selain oleh Taurat, dan bahwa bagi Yudaisme, belas
kasihan dan kasih Allah yang mengampuni terletak pada fakta bahwa hal ini akan
memampukan orang berdosa untuk sekali lagi membangun masa depan kekal di atas
dasar taurat. Disinilah terletak keistimewaan Israel atas bangsa-bangsa lain,
dimana dalam taurat mereka memiliki sarana untuk beroleh hidup. Israel memeluk
taurat sebagai “sumber keselamatan dan perlindungan dari kekuatan yeser untuk berbuat jahat.Taurat
dianggap sanggup memberikan hidup kepada manusia, dan melakukan Taurat dapat
mengurangi hukuman dosa.[27]
1.2.5.
Perbandingan
Ajaran Yesus Dengan Ajaran Pemimpin Agama Yahudi Mengenai Keselamatan
Orang Yahudi mengakui diri mereka
sebagai umat pilihan atau bangsa pilihan Allah.Saat mereka baru keluar dari
Mesir, sampai di bukit Sinai, maka Allah mengingatkan mereka bahwa mereka
adalah umat pilihan Allah.Lalu Allah menyampaikan kepada mereka syarat sebagai
bangsa Allah atau pilihan Allah (Keluaran 19:5-6).“Jadi sekarang, jika kamu
sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka
kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab
Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagian-Ku kerajaan imam dan
bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kau katakan kepada orang
Israel.”Jadi ada syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi umat Tuhan atau
bangsa kesayangan Tuhan.Syarat itu adalah berpegang kepada Perjanjian
Tuhan.Pertanyaannya adalah, apakah perjanjian yang harus dipegang? Keluaran
34:27-28 mengatakan bahwa isi perjanjian itu adalah “Hukum Taurat”. Berarti
tanda bahwa mereka adalah sebagai umat Tuhan adalah “Hukum Taurat”. Jadi mereka
memahami bahwa dengan berpegang pada perjanjian Allah, yakni dengan melakukan
hukum taurat, mereka akan selamat. Ketaatan terhadap Hukum Taurat adalah
ketaatan kepada perjanjian Allah, dan ketaatan kepada perjanjian adalah tanda
keselamatan.Jadi mereka memahami bahwa Hukum Taurat itu menyelamatkan.
Lalu Yesus datang. Yesus tidak
pernah meniadakan Hukum Taurat, bahkan Yesus selalu menekankan Hukum Taurat
dalam pengajarannya. Matius 5:18 “Karena Aku berkata kepadamu: sesungguhnya
selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak
akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” Jadi Yesus tidak
meniadakan hukum Taurat, bahkan Yesus menekankannya. Hanya, Yesus ingin
mengajarkan kepada mereka bahwa semua yang tertulis dalam Perjanjian Lama, itu
merupakan janji Allah tentang Mesias yang akan datang. Jadi Perjanjian Lama
adalah nubuatan atau perjanjian (janji Allah) yang harus digenapi dalam
Perjanjian Baru. Siapa yang menggenapi
perjanjian itu?YESUS KRISTUS. Maka Yesus mengatakan: “Aku penggenapan dari
hukum Taurat itu”. Jadi Yesus tidak meniadakan hukum Taurat.Perbedaannya adalah
orang Yahudi memahami hukum Taurat sebagai hukum Taurat yang tertulis.Jadi
mereka memahami hukum Taurat yang tertulis itulah jalan keselamatan.Tapi Yesus
mengatakan hukum Taurat yang menjadi jalan keselamatan itu adalah hukum Taurat
yang hidup, dan hukum Taurat yang hidup itu adalah Yesus.Oleh sebab itu Yesus
mengatakan dalam Yohanes 14:6 “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.Tidak ada
seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”Yohanes 3:15
“Supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku beroleh hidup yang kekal.”
Jadi tidak ada pertentangan
antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Persoalannya hanya dimana Yahudi
berhenti pada Perjanjian Lama saja. Padahal Yesus katakan dalam Lukas 12:44b
“…Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih
bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis
tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.” Maka
Yesus mengatakan: “Akulah penggenapan itu.” Jadi Yesus adalah hukum.Yesus
adalah hukum Tuhan, yakni hukum Taurat yang hidup.Jadi, Yesus adalah dasar
dalam melakukan dan menaati hukum.
Pertikaian
antara Yesus dengan para ahli hukum taurat mengenai penafsiran hukum berakar
dalam penolakan-Nya untuk tunduk pada wibawa lain kecuali Perjanjian Lama itu
sendiri. Matius mencatat enam ucapan Yesus yang mengutip ajaran “nenek moyang
kita”, dan melanjutkannya dengan ucapan-Nya sendiri, “Tetapi sekarang Aku
berkata kepadamu…” (Mat.5:21-48). Walaupun dalam banyak hal Yesus mengutip nats
Perjanjian Lama atau yang serupa dengannya, Dia tidak bertujuan menyampaikan
hukum-hukum Perjanjian Lama itu, melainkan menunjukkan bagaimana para ahli
taurat secara salah, tanpa menghiraukan asas-asas etika Perjanjian Lama yang
lebih umum. Dalam dua kasus pertama Yesus menegaskan bahwa larangan Perjanjian
Lama tentang pembunuhan dan perzinahan janganlah semata-mata diartikan secara
harafiah dan sampai disitu, melainkan jiwa yang mendasarinya harus
diperhatikan. Pada dasarnya kebencian tidak berbeda dari pembunuhan dan nafsu
birahi tidak berbeda dari perzinahan. Empat kasus lainnya memperlihatkan
bagaimana pendekatan yang terlalu harfiah terhadap hukum Perjanjian Lama dapat
dijadikan alas an untuk menghindari tuntutan-tuntutan sebenarnya dari Allah,
yang memberikan hukuman itu. Dengan demikian ketentuan Musa bahwa perceraian,
bila sudah dilakukan menurut peraturan, harus bersifat permanen.Hal ini
digunakan oleh beberapa ahli taurat sebagai dasar untuk membenarkan
perceraian.Pernyataan Musa bahwa pembalasan harus secara imbang (“Mata ganti
mata, dan gigi ganti gigi”), dimaksudkan sebagai pedoman bagi hakim-hakim untuk
menentukan hukuman yang wajar.Mungkin ada yang mengartikannya sebagai
pembenaran bagi pembalasan dendam pribadi, tetapi itu dilarang Yesus.
Dengan
cara yang berlainan, masing-masing dari dari keenam ucapan Yesus itu membawa
kita di balik huruf-huruf hukum kepada soal yang lebih penting, yakni apa
sebenarnya kehendak Allah bagi umat-Nya. Pengajaran Yesus sangat berbeda dengan
pendekatan para ahli taurat yang berpusat pada huruf-huruf hukum.Pendekatan
radikal terhadap PL itulah yang menjadi biang keladi pertikaian Yesus dengan
para ahli taurat, yang berpegang teguh pada ajaran tradisional mereka.Yesus
tidak radikal dalam arti destruktif, melainkan dalam arti kata itu yang
sebenarnya, menuju ke akar persoalan, mencari jiwa dan maksud kitab suci yang
sebenarnya, dan tidak mau puas dengan suatu legalisme yang harfiah saja.
Pertanyaan pokok menurut Yesus bukan berapa banyak (atau berapa sedikit) yang harus saya
lakukan, melainkan bagaimana saya dapat menyenangkan Allah sepenuhnya. Yesus
bukan seorang penurut kepada hukum yang kaku atau sebaliknya yang tidak mau
tunduk kepada hukum. Mengenai perceraian Ia merasa para ahli taurat terlalu
longgar, sedangkan mengenai sabat dan penyucian keagamaan mereka terlalu kaku.
Satu-satunya perhatian Yesus adalah menafsirkan Perjanjian Lama dengan
sebenar-benarnya sebagai pedoman untuk mengenal kehendak Allah, bukan untuk
menguatkan suatu sistem peraturan buatan manusia. Kekhasan pendekatan Yesus
terletak pada jawaban-Nya terhadap suatu pertanyaan: “Perintah manakah yang
paling penting dari semua perintah?” pokok itu sering timbul dalam perdebatan
ahli-ahli taurat. Yesus menjawab dengan mengutip dua nats, perintah agar
mengasihi Allah dengan segenap hati, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri
(Mrk. 12:28-34).Bagi Yesus kasih adalah yang pertama, dan kalau hal itu berarti
membengkokkan atau menyampingkan peraturan-peraturan yang disusun turun-temurun
oleh para ahli taurat, maka itulah yang harus dilakukan.Dan yang terpenting
menurut Yesus adalah manusialah yang diperdulikan Allah, jadi manusia
diutamakan di atas peraturan-peraturan.PL telah ditulis untuk manusia, dan
penafsirannyapun harus memperhatikan manusia.“Hari Sabat dibuat untuk manusia;
bukan manusia untuk hari Sabat”.[28]
Yesus
memunculkan antitesis ketika di hadapan para ahli taurat, Ia berkata bahwa Anak
Manusia berkuasa mengampuni dosa saat Ia berada di bumi, yaitu disini dan saat
ini (Mat. 9:6). Bagi Yudaisme, esensi pembenaran ilahi baru akan terjadi di
masa depan, dalam penghakiman sorgawi; dan seluruh kehidupan merupakan
persiapan bagi masa depan ini. Menurut mereka, pembenaran merupakan perkara
yang tersembunyi bersama Allah, dan kepastian baru bias diperoleh saat
penghakiman Allah nanti. Jadi, tidak adanya jaminan keselamatan bisa dianggap
sebagai ciri yang menonjol dari agama Yahudi.[29]
1.3.Kontraversi
Paulus Dengan Yudaisme Kristen
1.3.1. Latar Belakang Paulus
Pemikiran terbesar dalam
Perjanjian Baru yang menafsirkan makna Pribadi dan pekerjaan Yesus adalah
seorang Farisi yang telah bertobat, yaitu Paulus. Bila seorang sejarawan ingin
memahami pikiran Paulus, maka ia perlu menganalisis pengaruh-pengaruh yang
membentuk pemikiran Paulus dalam konteks historisnya. Paulus adalah manusia
dari 3 dunia, yakni Yahudi, Yunani, dan Kristen. Walaupun ia di lahirkan di
Tarsus, sebuah kota Yunani di daerah Kilikia, namun ia dibesarkan di dalam
keluarga Yahudi yang sangat taat kepada adat istiadat Yahudi yang keras (Flp.
3:5), dan ia juga sangat membanggakan warisan Yahudinya (Rom. 9:3; 11:1).
Iamengakui pernah hidup sebagai orang Farisi yang sangat patuh pada tradisi
lisan kaum Farisi melebihi rekan-rekannya yang lain (Gal. 1:14). Perkataan
Paulus sendiri mendukung apa yang dilaporkannya dalam Kisah Para Rasul, ketika
ia berbicara kepada orang-orang Yahudi di Yerusalem. Ia menyatakan bahwa ia
“dibesarkan dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum
nenek moyang kita (Kis. 22:3). Ia memang dilahirkan di Tarsus, namun kemudian
keluarganya pindah ke Yerusalem ketika ia masih kanak-kanak, dan seluruh
pendidikannya diperoleh di Yerusalem.[30]Orang
tua Paulus merupakan orang-orang Yahudi dan sekaligus menjadi warga Negara
Roma. Sewaktu masih sangat muda, orang tua Paulus memutuskan ia harus menjadi
seorang rabi (guru hukum taurat). Sebagai seorang anak kecil di Tarsus, ia
belajar tentang tradisi-tradisi umat Yahudi melalui pendidikan yang teratur di
Sinagoge setempat. [31]
Paulus
juga mengenal dunia Yunani, dan pernah terjun dalam melaksanakan misi
pengembangan gereja di kawasan Yunani-Romawi. Dalam menafsirkan Injil pula, ia
mengikuti pola yang mirip dengan kultur Yunani. Karena ia menghabiskan masa
kanak-kananknya di Tarsus, maka ia pasti pernah menyaksikan para ahli filsafat
Stoa.Paulus menguasai bahasa Yunani, dan metafora-metafora sastra yang
digunakannya lebih mencerminkan kehidupan kota daripada latarbelakang pedesaan.
Memang ada unsur-unsur dalam pemikiran Paulus yang pasti berasal dari
lingkungan Yunani. Gayanya sering mirip dengan cara berkata-kata kaum Stoa; dan
ia menggunakan istilah-istilah seperti kata hati (syneidesis, Rom. 2:15), alam (physis,
Rom. 2:14), apa yang tidak pantas (me
kathekonta, Rom. 1:28), mencukupkan diri (autarkes, Flp. 4:11), dimana kata-kata itu benar-benar bersumber
dari pemikiran dunia Yunani. Namun, penggunaan istilah-istilah Yunani ini tidak
berarti peminjaman ide-ide keagamaan Yunani.[32]
Paulus
adalah penganut monoteisme yang tidak berkompromi (Gal. 3:20; Rom. 3:30) yang
dengan tegas menolak agama bukan Yahudi
(Kol. 2:8), penyembah berhala (1 Kor. 10:14,21), dan immoralitas (Rom. 1:26),
Firman Allah yang diilhamkan (2 Tim. 3:16). Sebagai rabi Yahudi, Paulus tak
dapat diragukan menganut kepercayaan Yahudi mengenai sentralitas hukum taurat.
Bagi seorang Farisi, hukum taurat itu berarti hukum Musa yang tertulis dan
“tradisi-tradisi lisan nenek moyang” (Gal. 1:14).Ajaran Yahudi tentang wahyu
memusatkan seluruh pengetahuan Allah dan kehendak-Nya di dalam hukum taurat.Di
dalam Taurat, wahyu itu telah final dan lengkap. Sebagai rabi Yahudi yang gigih
mempertahankan hukum taurat, Paulus juga sangat bersemangat untuk membasmi
gerakan keagamaan baru yang mengangkat ingatan terhadap Yesus dari Nazaret.
Kitab Kisah Rasul menempatkan Paulus di Yerusalem dalam keikutsertaannya dalam
peristiwa kematian Stefanus (Kis. 8:1).Semangat penganiayaan ini tidak dapat
dipisahkan dari semangatnya terhadap hukum taurat.Bagi kaum Farisi, hukum
taurat adalah segala-galanya.[33]
Paulus
adalah seseorang yang cerdik dan seorang Farisi yang berpengaruh. Sewaktu ia
melihat orang Kristen keluar dari Yerusalem ke kota-kota lain, Paulus menyadari
bahwa tindakan penganiayaan terhadap Stefanus dan orang lain, tidak
menyelesaikan masalah, sebaliknya justru menyebarkan agama Kristen ke
wilayah-wilayah lain kekaisaran Romawi. Salah satu tempat dimana pengikut Yesus
berkumpul adalah Damsyik, suatu kota merdeka di dalam kerajaan Nabatea. Jadi
Paulus pergi mengejar orang-orang Kristen sampai ke Damsyik dan bermaksud
membawanya kembali ke Yerusalem untuk diadili dan dihukum.Pada waktu melakukan hal
itu, Paulus mengalami peristiwa luar biasa yang mengubah seluruh jalan
kehidupannya (Kis. 9:1-2).Ketika Paulus sedang dalam perjalanan menuju ke
Damsyik dengan tekad membasmi orang-orang Kristen di kota itu, ketika “cahaya
yang lebih terang daripada cahaya matahari” menyinarinya (Kis. 26:13), dan ia
disapa oleh suara Kristus yang bangkit, “Mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis.
9:4; 22:7; 26:14). Kehidupan Paulus segera berubah secara radikal.Ia menyadari
bahwa harapan-harapan yang telah dicita-citakannya sebelumnya sebagai seorang
Yahudi adalah palsu belaka. Orang Farisi yang mulanya begitu membenci agama
Kristen, akan menjadi pembelanya yang terbesar. Walaupun Paulus sebelumnya
membanggakan diri tentang hal-hal besar yang telah dicapainya dalam agama Yahudi,
mulai sekarang seluruh hidupnya dikuasai oleh Kristus yang bangkit yang
menampakkan diri kepadanya di jalan menuju Damsyik, serta yang mengubah sama
sekali cara hidup dan cara berpikirnya. Ketika ia tiba di Damsyik setelah
melalui pengalamannya yang luar biasa itu, Paulus masih sangat goncang hatinya,
dan dia tidak dapat makan dan minum selama tiga hari (Kis. 9:9). Tetapi Allah
mempunyai rencana besar bagi hidup Paulus.Oleh karena itu, Ananias, seorang
Kristen yang tinggal di Damsyik datang mengunjungi Paulus, dan memulihkan
penglihatan Paulus.Kemudian Paulus dibaptis dan tinggal beberapa waktu lamanya
dengan orang-orang Kristen di Damsyik (Kis. 9:10-19; 22:12-16).Semangat
keyakinan yang berapi-api inilah yang kemudian mengilhami Paulus untuk membawa
berita Kristen bukan hanya ke kota-kota Palestina, seperti Damsyik, Antiokhia,
dan bahkan Yerusalem, tetapi juga ke pelosok-pelosok yang paling jauh dari
dunia yang kita kenal saat itu.[34]
Mulai
dari Yerusalem berulang kali Paulus menjelajah daerah Asia Kecil, Makedonia,
dan Yunani, sambil mendirikan jemaat baru di Galatia (di pusat Negara Turki
sekarang), di Makedonia (Filipi dan Tesalonika), dan Korintus, dan pada waktu
itu juga sudah mulai timbul pikiran mau pergi ke Roma dan bahkan sampai ke
Spanyol (Rom. 15, 22-29). Tetapi rencana untuk membawakan Injil sampai ke ujung
bumi itu digagalkan karena penangkapannya pada perjalanan yang ketiga ke
Yerusalem, ketika ia membawa hasil kolekte yang dimaksudkan untuk menegaskan
kesatuan dan saling pengakuan di antara gereja-gereja yang baru didirikan
dengan gereja di Yudea. Kemudian ia dibawa ke Roma sebagai tawanan, kurang
lebih tahun 56-58 M.[35]Menurut
tradisi, Paulus dihukum mati pada masa pemerintahan kaisar Nero dengan cara
dibakar hidup-hidup pada tiang api.
1.3.2.
Ajaran
Paulus Mengenai Keselamatan
Mengenai pertobatannya, Paulus tidaklah bertobat
dari ketidak-percayaan kepada iman, dari keadaan berdosa kepada kebenaran, dari
tak beragama kepada beragama, ataupun dari satu agama kepada agama yang lain,
karena ia menganggap kekristenan itu sebagai Yudaisme yang benar. Ia bertobat
dari pengertian kebenaran yang satu kepada yang lain, dari kebenaran perbuatan
dirinya kepada kebenaran Allah melalui iman (Rom. 9:30). Penampakan Yesus
membuktikan kepada Paulus bahwapemberitaan Kristen itulah yang benar, bahwa
Yesus telah bangkit dari kematian. Bahwa Ia itulah Mesias, dan bukan hanya
Mesias, melainkan juga Anak Allah (Kis. 9:20). Jika umat yang tidak menaati
hukum taurat sesuai dengan kaidah kaum Farisi, adalah umat Mesias, maka berarti
keselamatan itu diperoleh melalui ketaatan kepada taurat, melainkan merupakan
pemberian dari Mesias.Dan juga jika keselamatan Mesanik itu telah dikaruniakan
kepada orang Yahudi di luar jalur Taurat, maka berarti jangkauan keselamatan
ini bersifat universal dan merupakan pemberian Allah bagi seluruh manusia.
Kesadaran bahwa Yesus adalah Mesias merupakan hal yang telah mengubah penilaian
Paulus tentang makna keseluruhan taurat itu secara revolusioner, karena
semangatnya terhadap taurat itulah yang membuat ia membenci orang-orang Kristen
dan kepada pribadi yang disebut Mesias. Yesus tidak dihukum oleh manusia biadab
dan amoral, melainkan oleh orang Yahudi yang taat dan sadar, serta merasa yakin
bahwa mereka sedang membela Hukum Allah dengan perbuatan mereka.Dapat dikatakan
bahwa Yudaisme itulah yang menyalibkan Yesus.Jika upaya Paulus untuk menegakkan
kebenaran melalui taurat itu sendiri telah membutakannya sehingga tak dapat
melihat kebenaran Allah di dalam Mesias (Rom. 10:3), maka taurat itu tidak dapat
menjadi jalan kebenaran.Kepastian inilah yang membawa Paulus kepada keyakinan
bahwa Kristus adalah penggenapan taurat sebagai jalan kebenaran (Rom. 10:4).[36]
Bagi Paulus, hukum taurat adalah Kristus. Semua diangkat kepada Kristus, tiada
yang tercecer sedikitpun.[37]
Dalam
hal pertama, Paulus khususnya menentang kemegahan dan keyakinan orang Yahudi
akan taurat dan kepemilikan taurat. Teguran ini khususnya tercatat di Roma
2:1-3:20. Memiliki hukum atau sunat tidak ada gunanya. Bukan mereka yang
mendengar yang akan dibenarkan, tetapi mereka yang melakukan; dan bukan sunat
lahiriah di dalam tubuh yang membuat seseorang menjadi Yahudi sejati, tetapi
sunat tersembunyi yang terjadi di dalam hati, secara rohaniah dan bukan harfiah
(Rom. 2:12-29). Dan karena orang Yahudi gagal dalam hal ini, mereka tidak
memiliki alas an untuk memegahkan taurat dan meninggikan diri di atas bangsa
lain. Semuanya ini jelas membuktikan bahwa konsep Paulus akan dosa dan hukum
berbeda dari konsep Yahudi. Sebaliknya, Paulus meradikalisasi hukum, baik
secara kuantitas maupun isi. Paulus di Rom. 2:21 menuduh orang Yahudi dengan
berbagai jenis perbuatan dosa dan baginya (berbeda dengan Yahudi), hal itu
membuktikan bahwa mereka mustahil dapat dibenarkan oleh Taurat. Seperti ia
tunjukkan dalam surat lain, Taurat harus dipenuhi sepenuhnya (Gal. 5:3) dan
Kitab Suci menyatakan penghukuman atas semua orang yang tidak terus melakukan
semua yang tertulis dalam kitab taurat (Gal. 3:10). Selain itu, setiap dosa
membuat manusia melanggar seluruh taurat.Sebaliknya, Paulus meletakkan
pemenuhan hukum dan pembenaran sejati di dalam pertobatan kepada Allah dan di
dalam penyunatan hati menurut roh, sebagai lawan dari kesesuaian dengan
huruf-huruf hukum (Rom. 2:4, 29).[38]
Roma
10:4 “Kristus adalah akhir taurat”. Dalam terjemahan Indonesia dikatakan:
Kristus adalah kegenapan hukum taurat. Dalam Gal. 3:23-25 “sebelum iman itu
datang, kita berada di bawah pengawalan hukum taurat, sampai iman itu telah
dinyatakan. Jadi hukum taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang,
supaya kita dibenarkan karena iman. Sekarang iman itu telah datang, sekarang
kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun”. rupanya dengan cukup
jelas di sini dikatakan bahwa “zaman iman” datang sesudah “zaman Taurat”, dan
kiranya gagasan yang sama mendasari Rom. 3:21-22 “Tetapi sekarang, tanpa hukum
Taurat, kebenaran hukum Allah telah dinyatakan seperti yang disaksikan dalam
kitab Taurat dan kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam
Kristus Yesus bagi semua orang yang percaya”. Di sini kelihatan bahwa “zaman
iman” dan “zaman Kristus” sama. Maka kedatangan Kristus dilihat oleh Paulus
sebagai fase baru dalam sejarah keselamatan.Sehingga dalam arti ini Kristus
adalah “pengakhiran taurat”.Bukan dalam arti “pembatalan”, melainkan dalam arti
“fase baru”. Maka dengan jelas sekali dapat dikatakan dalam Rom. 10:9 “jika
kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam
hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu
akan diselamatkan”. Keselamatan terlaksana dalam diri Kristus, dan diperoleh
dengan iman akan Kristus. “Kristus telah mati untuk semua orang” (2 Kor. 5:15;
Rom. 8:32).Tetapi “Sekiranya ada kebenaran oleh hukum taurat, maka sia-sialah
kematian Kristus” (Gal. 2:21).[39]
1.3.3.
Latar
Belakang Yudaisme Kristen
Yudaisme Kristen atau sering juga disebut dengan
golongan Ebionit.Golongan ini merupakan sisa sekte Kristen Yahudi yang fanatic
menekankan pemeliharaan Hukum Taurat.Mereka mengajarkan bahwa Yesus, putra
Maria dan Yusuf, telah menggenapi hukum tauratsecara demikian sehingga Allah
memilih Dia untuk menjadi Mesias.Kesadaran bahwa Allah telah memilih Dia untuk
menjadi Mesias itu datang ketika Dia dibaptis, yaitu ketika menerima Roh Kudus.[40]Golongan
Ebionit dalam bahasa Ibrani disebut ebion
yang artinya miskin.Golongan ebionit kurang berhubungan dengan gereja
besar, bahkan mereka dianggap penyesat-penyesat.Di samping mereka memakai
Perjanjian Lama, mereka memakai “Injil orang Ibrani”, yaitu suatu kitab
apokrif.Namun lama-kelamaan orang ebionit dilupakan orang, dan sejak Palestina
ditaklukkan dan diduduki oleh orang Arab pada abad ke VII, tidak ada kedengaran
lagi tentang golongan Kristen bekas Yahudi yang kecil dan terpencil ini.[41]
Pada
umumnya, golongan Yudaisme Kristen ini adalah orang Yahudi yang merantau
(diaspora). Dimana sesudah pembuangan di Babel, kaum Yahudi hidup
berserak-serak atau “dalam diaspora” (=dalam perserakan). Yang tinggal di
Palestina sejuta saja, sedang di luarnya kira-kira enam juta orang. Sebagai
saudagar mereka berdagang di segala kota besar di sekitar bagian timur Laut
tengah dan di kota Roma. Pada masa Tuhan Yesus di Roma terdapat 10.000 orang
Yahudi di antara 60.000 penduduk kota itu. Di Mesir jumlah orang Yahudi sampai
satu juta orang banyaknya.Di Alexandria sepertiga dari penduduk adalah orang
Yahudi.Kaum Yahudi dalam diaspora berbahasa Yunani (koine), sebab sudah lupa
bahasa Ibrani. Sebab itu Perjanjian Lama perlu diterjemahkan ke dalam bahasa
Yunani. Terjemahan ini dikerjakan di Mesir, disebut Septuaginta (artinya tujuh puluh, biasa ditulis LXX), karena ada 70
ahli bahsa yang mengarangnya.[42]
Orang-orang
diaspora membuka jalan bagi pengkabaran Injil Kristen.Ketika Paulus memasuki
kota orang Yunani, dia selalu memulai pemberitaannya di dalam Sinagoge, jikalauada
tempat disana. Kemungkinan kebanyakan orang-orang yang bertobat itu terdiri
dari orang-orang yang takut akan Allah.[43]Jadi,
kelompok Yudaisme Kristen adalah orang-orang yang telah di Kristenkan dengan
pelayanan dan pemberitaan Injil oleh para rasul.
1.3.4.
Ajaran
Yudaisme Kristen Mengenai Keselamatan
Yudaisme berpendapat bahwa hukum adalah alat untuk
mencapai keselamatan.Bagi mereka, hukum adalah air kehidupan, roti kehidupan
dan damai.Orang-orang Yahudi percaya bahwa mereka dapat mencapai penyelamatan
melalui pengalaman hukum taurat.Yesus tidak mereka akui sebagai penyelamat,
namun Dia hanya diterima sebagai pewarta hukum.[44]
Bagi Yudaisme, Taurat adalah penangkal penting bagi
ancaman dan kuasa dosa. Taurat adalah sarana penting untuk mendapatkan pujian,
pahala, dan kebenaran di hadapan Allah, untuk menundukkan dorongan berbuat
jahat, dan untuk memimpin kebaikan beroleh kemenangan dan bahkan substansi
hidup yang sejati.Taurat yang amat beragam merupakan sarana untuk mendapatkan
banyak pahala. Setiap penggenapan taurat, yaitu setiap tindakan yang sesuai
dengan rumusan hukum Taurat, akan menambah timbunan pahala. Dan sebaliknya,
setiap pelanggaran akan menguranginya. Taurat dianggap sanggup memberikan hidup
kepada manusia, dan melakukan hukum Taurat dapat mengurangi dosa. Bahkan aliran
Yudaisme yang paling terbuka bagi pertolongan Allah, dan yang menyebut Roh
Allah sebagai Dia yang harus menyucikan dan menolong manusia menyempurnakan
jalannya, tidak melihat jalan keselamatan selain dari kebenaran dan
kesempurnaan yang harus dikejar melalui jalan taurat.[45]
1.3.5.
Perbandingan
Ajaran Paulus Dengan Ajaran Yudaisme Kristen Mengenai Keselamatan
Setelah Yesus mati dan naik ke
Sorga, Paulus dipanggil untuk mengkampanyekan ajaran keselamatan.Paulus
mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat.Tapi timbul pertanyaan,
apakah semua orang diselamatkan oleh Yesus Kristus? Maka Paulus menjawab:
TIDAK. Yang diselamatkan adalah oleh “iman” kepada Yesus Kristus.Yang
diselamatkan oleh Yesus Kristus adalah orang yang beriman.Jadi Paulus
menekankan “oleh iman”.Jadi oleh imanlah kita diselamatkan oleh Yesus. Ternyata
orang Yahudi yang telah masuk Kristen (Yahudi diaspora=perantau) mendengarkan
berita bahwa dalam perjalanan pelayanan Paulus memberitakan Injil, Paulus sama
sekali tidak pernah menyinggung tentang “hukum Taurat”. Paulus hanya menekankan
“oleh iman”, dimana bagi orang Yahudi Kristen ini merupakan suatu ajaran
baru.Jadi menurut orang Yahudi Kristen, Paulus itu mengkhianati Yudaisme
Kristen, karena Paulus tidak pernah menekankan sejaran keselamatan itu bermula
dari pemanggilan orang-orang Yahudi (pemanggilan Israel).Sejarah keselamatan
itu berkaitan dengan perjanjian Allah dengan Israel atau keselamatan
bangsa-bangsa tidak terlepas dari perjanjian Allah dengan bangsa Israel.Jadi
karena mereka adalah bagian dari orang Yahudi (bangsa Israel), mereka tetap
berpegang pada perjanjian Allah dengan bangsa Israel, yakni hukum Taurat.Jadi
mereka menganggap Paulus telah merusak dan mengkhianati ke-Yahudian.Maka oleh
karena itu orang-orang Yudaisme berkumpul di Yudea, lalu mengangkat tim-tim dan
memutuskan bahwa mereka harus mengunjungi semua gereja-gereja yang pernah
dikunjungi Rasul Paulus dan harus meluruskan ajaran Paulus kepada ajaran yang
benar.
Ajaran keselamatan mereka adalah
Kisah 15:1 “Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan
kepada saudara-saudara di situ: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat
istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Apa
adat istiadat Musa? HUKUM TAURAT. Jadi orang Yudaisme Kristen menggabungkan
ajaran Paulus dengan ajaran Yudaisme, yakni iman dan hukum Taurat.Jadi oleh
iman kita menjadi Kristen, tapi menjadi Kristen belum tentu
diselamatkan.Seseorang diselamatkan tergantung kepada hukum Taurat, inilah
pengajaran Yudaisme Kristen. Atau dengan istilah lain, soal selamat atau tidak
hal itu ditentukan oleh perbuatan dengan melakukan hukum Taurat. Paulus
mati-matian melawan ajaran Yudaisme Kristen dengan tulisan-tulisan atau surat-suratnya
kepada setiap jemaat.Paulus selalu menekankan “oleh iman”.Sedangkan Yudaisme
Kristen menekankan dua langkah, pertama oleh iman kepada Yesus Kristus, maka
kita menjadi Kristen.Kedua, soal selamat atau tidak, hal itu tergantung pada
perbuatan dengan melakukan hukum taurat.
Pada
Galatia 4, Paulus menegur jemaat karena mau sekali lagi hidup “di bawah hukum Taurat”,
ia bertanya mengapakah mereka tidak mendengarkan “hukum Taurat” (Gal. 4:21),
dan ketika berkata bahwa aturan iman dinyatakan tanpa hukum Taurat, ia merujuk
kepada Taurat itu sendiri (bnd. Rom. 3:31). Jadi bagi Paulus, jantung dan isi
Kitab Suci bukanlah pembenaran oleh Taurat, tetapi pembenaran oleh iman.Dalam
mengejar kebenaran taurat, mereka tidak mulai dari iman, tetapi dari perbuatan
yang diangankan (Rom. 9:32). Taurat yang Paulus lihat dalam kehidupan orang
Yahudi, dan yang ia sendiri pernah hidupi inilah yang kerap kali disoroti oleh
Paulus (Flp. 3:6), yaitu Taurat sebelum dan di luar Kristus. Tetapi di dalam
terang anugerah dan iman, Paulus dapat melihat fungsi Taurat dari sudut lain,
yaitu sebagai aturan bagi hidup baru. Hal ini tampak dari cara ia mengaitkan
hidup yang dari Roh dengan Taurat (Rom. 8:4).[46]Pada
jemaat Kristen mula-mula, terjadi perselisihan antara jemaat muda di antara orang
kafir dengan jemaat induk di Yerusalem.Paulus mengatakan bahwa hanya iman
kepada Yesus Kristus saja yang membawa orang kepada keselamatan, sehingga orang
kafir yang telah bertobat tak usah lagi memenuhi segala tuntutan taurat,
misalnya sunat. Banyak orang Kristen di antara kaum Yahudi Kristen tak setuju
dengan pendirian ini.Pada persidangan rasul-rasul di Yerusalem (Kis. 15) hal
ini diperbincangkan, sampai kedua pihak sepakat untuk membebaskan orang kafir
yang masuk Kristen dari syarat-syarat taurat, kecuali empat[47]
hal yang wajib diperlihatkan (Kis. 15:29).[48]
Paulus
berangkat dari sudut pandang Yahudi, dan dari sana, ia menunjukkan apa yang
akan terjadi pada taurat dan manusia, dan apa yang akan terjadi pada sisi
Allah, jika kebenaran dan hidup di cari di dalam Taurat dan bukan di dalam
janji, di dalam usaha manusia dan bukan di dalam kuasa Roh. Jika demikian, maka
yang akan terjadi adalah taurat, yang seharusnya memimpin kepada hidup, justru
memimpin pada kematian. Karena itu, untuk dapat memberikan tempat yang benar
kepada taurat di dalam kehidupan umat-Nya, Kristus harus lebih dahulu menjadi
akhir dari taurat bagi setiap orang yang percaya (Rom. 10:4; Ef. 2:15). Dalam
antithesis dengan Yudaisme, Paulus menyoroti Taurat dan ia melihat seluruh
dispensasi hukum PL dari sudut pandang ini, seperti saat berkata “dasar hukum
taurat bukanlah iman, tetapi siapa yang melakukan” (Gal. 3:12); bahwa bukan
karena hukum taurat diberikan janji, tetapi berdasarkan iman (Rom. 4:13); bahwa
jika mereka yang hidup dari taurat sanggup menjadi ahli waris, maka iman
menjadi sia-sia dan janji menjadi batal (Rom. 4:14).[49]
Berlawanan
dengan konsep Yahudi, Paulus berkata bahwa keputusan Allah membebaskan semua
orang telah dinyatakan; kebenaran bukan perkara yang masih harus ditunggu dan
belum pasti.Kebenaran telah digenapkan, berada dalam kepatian iman (Rom. 5:1;
8:31-34, 38). Saat Paulus berkata: “Tetapi sekarang, tanpa hukum taurat
kebenaran Allah telah dinyatakan” (Rom. 3:21,28), ini jelas memperlihatkan
perbedaan dengan konsep Yahudi yang menganggap kebenaran besaral (Rom. 10:5;
Gal. 3:21; Flp. 3:9), melalui taurat (Flp. 3:6), atau dengan sarana taurat
(Gal. 2:21).[50]
Kesimpulan
v Pengertian Keselamatan
Keselamatan berarti manusia yang
pada mulanya telah meningalkan Allah dengan jatuh ke dalam dosa kembali kepada
Allah atau manusia hidup di dalam Allah atau manusia menjadi milik Allah.
Dimana karena dosa manusia tidak menjadi milik Allah lagi. Oleh sebab itu, jika
manusia ingin selamat, manusia harus kembali pada Allah, menjadi milik Allah
dan hidup di dalam Allah.
[1] R. Soedarmo, Kamus Istilah Teologia, (Jakarta:
BPK-GM, 2015), 45-46.
[2] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, (Jakarta: BPK-GM, 2015),
199.
[3] R.C. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen, (Orlando:
SAAT, 1992), 211-212.
[4] Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1, 15.
[5] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, 491.
[6] Darmawijaya, Gelar-Gelar Yesus, (Yogyakarta: Kanisius,
2000), 13-14.
[7]Catatan
Akademis Mata Kuliah Dogmatika I Oleh Pdt. Pardomuan Munthe, (Medan: STT-AS, 2017)”.
[8] Jacob van Bruggen, Kristus Di Bumi, (Jakarta: BPK-GM,
2001), 145-147.
[9] W.R.F. Browning, Kamus Alkitab, 492.
[10]Palestina, negeri tempat Yesus
hidup dan bekerja, hanyalah sebuah negeri yang kecil.Pada tahun 63 SM, Jenderal
Romawi Pompeius merebut Yerusalem dan menyatukannya dengan provinsi Siria dalam
kemaharajaannya itu. Dengan demikian, Palestina menjadi bagian kecil dari apa
yang dikenal sebagai kemaharajaan Yunani-Romawi; Romawi karena ada di bawah kekuasaan militer Romawi; Yunani karena daerah itu diresapi oleh
kebudayaan Yunani. Lht. John Wijngaards, Yesus
Sang Pembaharu, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), 15.
[11] James Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, (Malang:
Gandum Mas, 1991), 6.
[12] James Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, 6.
[13] James Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, 13-15, 17
[14]Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, 307-308, 324-325.
[15] ……, Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid II, (Jakarta: Yayasan
Komunikasi Bina Kasih, 2007), 587.
[16] Edward W.A. Koehler, Intisari Ajaran Kristen, (Pematang
Siantar: Kolportase GKPI, 2010), 85.
[17] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, (Jakarta:
BPK-GM, 1996), 71-73.
[18] J. Verkuyl, Aku Percaya, (Jakarta: BPK-GM, 1995), 118-119.
[19] R.T. France, Yesus Sang Radikal, (Jakarta: BPK-GM,
1996), 168.
[20] Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru 2, 76.
[21] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK-GM, 2013),
5.
[22] James Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, 23-24.
[23] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 5.
[24] James Stalker, Masa Hidup Yesus Kristus, 25-26.
[25] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 5.
[26]Yonky Karman, Bunga Rampai Teologi Perjanjian Lama, (Jakarta:
BPK-GM, 2004), 147-148.
[27]Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, (Surabaya:
Momentum, 2015), 131-132.
[28] R.T. France, Yesus Sang Radikal, 93-95.
[29] Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, 166-167.
[30] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid II, (Bandung:
Yayasan Kalam Hidup, 2002), 80.
[31] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, (Jakarta: BPK-GM, 2011), 289-290.
[32] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid II, 80-81.
[33] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid II, 84-85,
87.
[34] John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 306, 308-309.
[35] Tom Jacobs, PAULUS: Hidup, Karya, dan Teologianya, (Jakarta: BPK-GM,-), 21.
[36] George Eldon Ladd, Teologi Perjanjian Baru Jilid II, 91-92.
[37] A. Brunot SCJ, Paulus dan Pesannya, (Yogyakarta:
Kanisius, 1992), 38.
[38] Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, 134-135.
[39] Tom Jacobs, PAULUS: Hidup, Karya, dan Teologianya, 54-55.
[40] Henry C. Thiessen, Teologi Sistematika, 313-314.
[41] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 9.
[42] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 6.
[43] W. Sihite, Ringkasan Informasi Sejarah Untuk Study Perjanjian Baru, 61.
[44] A. Brunot SCJ, Paulus dan Pesannya, 100.
[45] Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, 131-132.
[46] Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, 155.
[47] Isinya ialah bahwa orang Kristen
bekas Yunani (kafir) harus menjauhkan diri dari: Lht. Tom Jacobs, PAULUS: Hidup, Karya, dan Teologianya, 45.
a.
makanan
yang telah dicemarkan berhala-berhala
b.
percabulan
c.
daging
binatang yang mati lemas
d.
darah.
[48] H. Berkhof & I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, 9.
[49] Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, 156
[50] Herman Ridderbos, PAULUS: Pemikiran Utama Theologianya, 167,
173

Posting Komentar untuk "Keselamatan Oleh Iman"