Dosa : apakah itu?


 

a.     Dosa, apakah itu?

Dosa bukanlah istilah hukum, politik, etika, moral, hukum pidana, hukum perdata, sosiologi, dll. Tetapi dosa adalah istilah teologi. Maka, jika dosa adalah istilah teologi, dosa adalah istilah yang menerangkan hubungan manusia dengan Allah. Kata dosa tidak terdapat dalam UUD, Pancasila. Kata dosa hanya terdapat di dalam Kitab Suci. Dosa itu menerangkan hubungan manusia dengan Allah, bukan menerangkan hubungan antara manusia dengan manusia. Jadi janganlah kita mengira kalau kita tidak pernah tersangkut dengan orang lain atau tersangkut dengan hukum pidana maka kita tidak berdosa. Namun dosa adalah hubungan intim antara manusia dengan Allah. Jika hubungan kita dengan Allah tidak benar, maka kita berada dalam kuasa dosa.

Apakah yang mengakibatkan ketidakwajaran itu timbul pada manusia? Lihatlah Kejadian pasal 3-4. Apakah karena membunuh maka manusia jatuh ke dalam dosa, atau karena manusia telah jatuh ke dalam dosa maka manusia itu membunuh? Jawab: karena manusia telah jatuh ke dalam dosalah maka manusia itu menjadi membunuh. Kemudian pasal 3, apakah karena mementingkan diri sendiri atau menyalahkan orang lain maka manusia itu jatuh ke dalam dosa, atau apakah karena manusia itu telah jatuh ke dalam dosa maka manusia itu mementingkan diri sendiri dengan menyalahkan orang lain? Jawab: karena manusia telah jatuh ke dalam dosalah maka manusia itu mementingkan diri sendiri dengan menyalahkan orang lain. Maka dengan demikian, dosalah yang mengakibatkan terjadinya ketidakwajaran dalam hidup manusia. Karena dosa maka manusia menjadi tidak beres, bukan karena manusia tidak beres maka manusia menjadi berdosa.

Roma 7:15-20 “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa Hukum Taurat itu baik.  Kalau demikian bukan aku lagi yang membuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat yang baik. Sebab bukan hal yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku.” Maka, dosa itulah yang mengakibatkan ketidakwajaran dalam hidup manusia.    

b.       Asal usulnya pada manusia.

Kejadian pasal 3 dengan perikop “kejatuhan manusia ke dalam dosa”. Tetapi narasi atau ayat pembukanya adalah “adapun ular….”. Ada sesuatu tentang ular. Ayt. 1 “adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah…”. Arti dari “dijadikan” berarti kembali kepada kisah penciptaan. Perikopnya adalah kejatuhan manusia ke dalam dosa, namun kembali membahas kisah penciptaan. Itu berarti bahwa kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak terlepas dari kisah penciptaan. Bahkan kisah ini masih dalam bagian kisah penciptaan. Apa yang terjadi pada kisah penciptaan, sehingga hal ini menjadi kalimat pembuka dalam kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa? Kembali ke kisah penciptaan manusia, pasal 2:7. (jika kita mau mengetahui secara detail urutan penciptaan versi 1 lihatlah versi ke-2). Pasal 2:7 menceritakan laki-laki diciptakan. Selanjutnya ayat 8 Allah membuat Taman Eden dan menempatkan manusia itu di dalamnya. Jadi sekarang yang ada adalah manusia dan Taman Eden. Pada ayat 9 Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon di bumi. Sekarang sudah ada mahkluk hidup lain, yaitu tumbuh-tumbuhan. Pada ayat 15 Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di Taman Eden, untuk mengusahakan dan memelihara, yang sudah terdiri dari beragam pohon-pohonan. Lalu ayat 16-17 Allah memberikan perintah kepada laki-laki itu, “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”.Disini Allah menyampaikan peraturan taman Eden.

Ketika peraturan itu diberikan Allah kepada laki-laki itu, tidak ada hewan-hewan lain yang mendengarkan perintah itu, saksinya hanyalah pohon-pohonan. Dan Allah tidak berbicara dua kali tentang satu hal yang sama. Oleh karena itu hanya kepada Adam-lah diberitahukan peraturan itu, lalu Adam-lah yang memberitahukan peraturan itu kepada mahkluk lain karena kepada Adam sudah diberikan kuasa untuk menguasai dan memelihara ciptaan lainnya. Adam-lah yang menertibkan undang-undang di taman itu kepada makhluk lainnya. Itu artinya Tuhan tidak berbicara dua kali untuk satu hal yang sama. Pada ayat 18 adalah kegelisahan Tuhan: “Tuhan Allah berfirman, tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja, Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia”. Yang merasakan dan memikirkan itu adalah Allah sendiri, bukan Adam. “Lalu Allah bertekad untuk menjadikan penolong yang sepadan dengan manusia itu”. Lalu pada ayat 19 dikatakan: Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Maka pada awalnya inilah penolong yang sepadan pada manusia itu.

Kemudian Kejadian 3:1 dikatakan “Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan  oleh TUHAN Allah.Artinya dari antara binatanng itu, ularlah yang paling cerdik. Jadi ada beberapa waktu lamanya ular itu menjadi penolong yang sepadan dengan laki-laki itu (Adam). Pada Pasal 2:19b Allah membawa semua binatang-binatang pada manusia untuk melihat bagaimana manusia menamainya: “dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat dan menamainya. Arti menamai adalah menunjukkan kuasa. Itu artinya laki-laki itu harus memperlihatkan kuasanya itu. Apa kuasanya? Pasal 2:15 “bahwa laki-laki itu membawa semua binatang itu ke Taman Eden dan menceritakan segala aturan di taman itu. Semua buah dalam taman itu boleh dimakan oleh semua binatang, namun tentang pohon pengetahuan yang ada di tengah-tengah taman tidak untuk dimakan, sebab pada hari engkau memakannya, engkau akan mati”. Jadi Ular lebih dahulu mengetahui informasi tentang pohon larangan di tengah-tengah taman itu dari pada Hawa.

Lalu pada ayat 20, laki-laki itu gelisah (ada keluhan) karena ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Inilah kegelisahan dan keluhan si laki-laki itu. Tuhan tadi maksudnya menciptakan semua binatang-binatang untuk menjadi penolong yang sepadan dengan laki-laki itu, tapi ternyata laki-laki itu tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu Tuhan mengetahui kegelisahan laki-laki itu, lalu Tuhan membuat laki-laki itu tertidur (ayt. 21). Lalu Tuhan mengambil salah satu tulang rusuk laki-laki itu dan menutupinya dengan daging. Lalu dibangunnyalah seorang perempuan dari tulang itu, dan dibawanya kepada laki-laki itu untuk dinamai (ayt. 22b). Dalam konteks menamai itu berarti juga laki-laki itu membawa perempuan itu ke dalam Taman Eden dan memberitahukan semua aturan Allah di taman itu, termasuk atas pohon larangan yang ada di tengah-tengah taman itu. Ayat 23 “inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku…”, memperlihatkan perbedaan respon Adam kepada perempuan itu dan respon Adam kepada binatang-binatang (ayt. 19). Akhirnya Adam menemukan penolong yang cocok dan sepadan dengan dia. Namun kecocokan mereka itu menjadi gangguan bagi si ular.

Timbul pertanyaan pada ular: bagi ular ukuran sepadan ditinjau dari  “kecerdikan”. Namun bagi Adam ukuran kesepadanan bukanlah hal itu. Bagi Adam ukuran kesepadanan adalah satu jiwa, satu tubuh, dan keduanya menjadi satu (psl. 2:24). Untuk itu ular ingin tahu kecerdikan dari perempuan itu. Maka terjadilah diskusi tentang hukum dan undang-undang yang ada di dalam Taman Eden itu, yaitu mengenai pohon larangan yang ada di tengah-tengah taman itu (Kej. 3:1b-5). Untuk menguji apakah perempuan itu lebih cerdik, maka ular bertanya: “Tentulah Tuhan Allah berfirman: semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya bukan?Ternyata ada perbedaan yang terucap dari perempuan itu. Pada ayat 2-3 yaitu perkataan perempuan itu kepada ular tentang buah pohon larangan yang ada ditengah-tengah taman itu. Namun perkataan perempuan itu tidak persis sama dengan perintah yang telah dikatakan oleh Allah kepada laki-laki itu dalam Kej. 2:16-17. Artinya perempuan itu telah menambah-nambahi kata-kata dalam perintah Allah itu, yang membuatnya goyah oleh rayuan si ular. Kemudian jika kita perbandingkan kata “mati” yang dikatakan oleh Allah pada Kej. 2:17 dan kata “mati” yang dikatakan ular pada Kej. 3:4; kata “mati” yang dikatakan oleh Allah adalah mengarah kepada teologis, yaitu kematian iman, artinya jika manusia itu memakan buah larangan itu, maka imannya akan mati dan akan memberontak kepada Allah. Namun, kata “mati” yang dikatakan oleh ular kepada perempuan itu adalag bersifat biologis, artinya kematian fisik.

Pada ayat 5 dikatakan: “Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat”. Perkataan ular bukanlah perkataan bohong atau tipu muslihat, namun perkataan ular itu adalah benar. Setelah manusia itu memakan buah larangan itu (ayat 7) “maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat”.

Namun setelah ular itu merayu perempuan itu, maka terbuktilah bahwa perempuan itu pintar dan cerdik. Perempuan itu berpikir, kalau kami punya pengetahuan, kami bisa hidup mandiri tanpa harus bergantung pada Allah atau ciptaan lain. Perempuan itu tahu bahwa ilmu pengetahuan adalah sumber kehidupan mereka, mereka bisa mandiri dan membangun kehidupan mereka sendiri. Jadi apa yang ditekankan oleh ular adalah pengetahuan, yaitu ilmu pengetahuan yang melepaskan manusia dari kebodohan. Lalu perempuan itu melihat buah pohon larangan itu, Ayt. 6 “perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya…” Buah pohon itu baik karena manfaatnya besar dan kasiatnya banyak. “Lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.” Jadi kalau sudah menarik hati maka hal itu dikaitkan dengan dosa. Jadi, dosa bermula pada manusia bukan ketika tangannya memetik buah itu, atau giginya mengunyah, dan kerongkongannya menelan. Tapi dosa bermula pada manusia ketika hatinya berkata “ya” pada perkataan ular, dan berkata “tidak” kepada perintah Allah. Sejak itulah dosa berkuasa atas diri manusia. Bukti kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah setelah manusia itu jatuh ke dalam dosa, ayat. 6b “lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya”.

 

c.      Bukti  dan akibat dosa

Bukti kejatuhan manusia ke dalam dosa adalah ayat 7: “maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat untuk menutupi aurat mereka”. Setelah terbukti bahwa manusia itu telah jatuh ke dalam dosa, sekarang Tuhan turun ke bumi dan disitulah Tuhan menyampaikan akibat-akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa:

-      Pada pasal 3 yang berkenaan dengan kodrati (manusia dan binatang)

-      Pada pasal 4, pembunuhan dilingkungan keluarga (Kain dan Habel)

-      Pada pasal 5, pembunuhan dilingkungan masyarakat

-      Pada pasal 6, budaya seksisme (perempuan dianggap sebagai ladang kepuasan laki-laki). Hal ini terus terjadi sampai lahirnya paham feminisme atau gender.

-      Pada pasal 11, menara Babel.

Hubungan manusia dengan Allah menjadi rusak. Kain membunuh adiknya Habel karena hatinya sangat panas sebab persembahannya tidk di indahkan oleh Tuhan, padahal persembahan Habel di terima-Nya. Anak-anak Allah melihat bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu. Terjadi air bah dan Allah juga mengacaubalaukan bahasa manusia karena manusia berusaha cari nama dengan mendirikan menara Babel. Ini semua adalah akibat dosa.


Posting Komentar untuk "Dosa : apakah itu? "