Masalah Kerja dan Pengangguran menurut Etika Kristen

 


Mengapa manusia harus bekerja?  Umumnya jawabannya adalah agar bisa makan  (hidup). Mengapa terjadi penngangguran? Umumnya jawabannya, tidak ada lowongan pekerjaan. Mengapa terjadi kemiskinan? Karena tidak bekerja dan tidak berhasil apa yang dikerjakan.

a. Dasar Teologis mengapa manusia harus bekerja

 Manusia sebagai gambar dan rupa Allah berarti Allah menciptakan manusia sebagai “homo laborans” manusia bekerja karena Allah adalah Allah yang bekerja (Yoh 5:17). Implikasi etis, manusia mempunyai hakekat bekerja (kej 1:28), maka manusia yang tidak bekerja adalah orang yang menginkari hakekatnya sebagai manusia.

 Pengertian bekerja dan dipekerjakan harus dibedakan, bekerja berarti melakukkan suatu pekerjaan sementara dipekerjakan dia bekerja karena disediakan orang pekerjaan baginya. Implikasi etis, meskipun seorang belum atau tidak mendapatkan kesempatan untuk dipekerjakan sesuai dengan persiapan yang dilakukan, tidak menjadi alasan untuk tidak bekerja alias menganggur karena hakekatnya adalah untuk bekerja.

 Bekerja bukan akibat dosa, sebelum jatuh kedalam dosa, bekerja adalah merupakan kesenangan, kebahagiaan bagi manusia, kejatuhan manusia kedalam dosa mengakibatkan bekerja menjadi beban susah payah dan kesusahan (kej 3:1719). Makna bekerja dipulihkan di dalam penebusan Yesus Kristus. Implikasi etis, bekerja adalah berkat Tuhan, karena Allah berjanji memelihara hidup kita, dan janji Allah digenapi melalui apa yang kita kerjakan. Maka aku suka bekerja karena aku suka diberkati dan menerima berkat Tuhan.
 Bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Allah menciptakan bumi dan segala isinya dan memberikan kepada manusia untuk menjadi sumber kehidupannya (kej 1:29). Allah memerintahkan manusia untuk bekerja, mengusahakan, mengelola, dan memelihara yang menjadi sumber kehidupannya. Implikasi etis, orang yang tidak mau bekerja tidak patut makan (2 Tes 3:10). Segala bentuk kemalasan ditentang oleh etika kristen.
 Bekerja adalah wujud ketaatan kepada perintah Allah, berarti bekerja adalah ibadah kepada Allah. Bekerja sebagai ibadah kepada Tuhan berarti bekerja dengan segenap hati. Implikasi etis, karena bekerja adalah ibadahku kepada Tuhan maka aku akan melakukan yang terbaik dan aku akan bekerja dengan cara yang baik dan benar. 
 Semua pekerjaan yang dikehendaki oleh Allah mempunyai makna dan nilai yang sama. Meskipun dampak suatu jenis pekerjaan berbeda dengan jenis pekerjaan yang lain, tapi dihadapan Tuhan semua pekerjaan yang dikehendakinya adalah mulia dan mempunyai nilai yang sama. Luther berkata “pekerjaan domestic helper adalah sama dengan pekerjaan seorang raja yang memerintah” dan calvin mengatakan “pekerjaan dan tempat bekerja adalah tempat dan jabatan dimana kita belajar hidup bertanggung jawab kepada Allah. 
 Kemiskinan bukan hanya diakibatkan kemalasan tetapi juga karena “etos kerja” yang tidak baik. Karena etos kerja yang tidak baik, tidak akan menghasilkan apa yang diharapkan, band Ams 10:4; Ams 21:1; Ams 6:1-11. Implikasi etis aku akan terus meningkatkan etos kerjaku dengan pengetahuan, kemampuan yang memadai. 
    Kenyataannya oleh karena berbagai faktor penyebab, angka pengangguran semakin meningkat, dan yang mengakibatkan jumlah orang yang kemiskinan makin meningkat juga. Karena salah satu penyebab "kemiskinan adalah pengangguran. Ada berbagai penyebab terjadinya pengangguran, dan pada umumnya alasan terjadi pengangguran adalah ketiadaan "lowongan pekerjaan yang tersedia". Berarti terjadinya pengangguran oleh karena faktor dari luar dirinya. Akibatnya, hanya menyalahkan pihak yang lain dan terus menunggu sampai tersedia lapangan kerja baginya. Sebenarnya, masalah pengangguran terjadi, apakah karena faktor dari luar dirinya? Menurut Etika Kristen, faktor pertama terjadinya masalah pengangguran adalah dari diri manusia itu sendiri" yang kurang atau tidak memahami menghayati, menghidupi "hakekatnya" sebagai manusia yang diciptakan Allah sebagai manusia pekerja”. Dalam Etika kristen II kita sudah memahami dasar Etis-Teologis mengapa manusia harus bekerja, karena manusia diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah, berarti Allah menciptakan manusia sebagai "homo laborans", dan memberikan mandat atau perintah untuk bekerja. (Kej 1:28). Manusia harus bekerja, sama seperti Allah adalah Allah yang bekerja (Yoh. 5: 17). Maka "bekerja" adalah hakekat manusia sebagai manusia, maka manusia yang tidak bekerja adalah orang yang mengingkari hakekatnya/keberadaanya sebagai manusia.
    Maka sangat penting membedakan pengertian "bekerja dipekerjakan". "Bekerja" berarti mengerjakan atau melakukan sesuatu pekerjaan, sementara "dipekerjakan", dia bekerja karena disediakan orang pekerjaab baginya. Penanggulangan pengangguran menurut Etika Kristen; Memberikan pemahaman tentang "hakekatnya sebagai manusia ciptaan Tuhan yang harus bekerja"; Menciptakan lapangan kerja baginya (bagi orang lain), tidak hanya menunggu orang untuk menyediskan pekerjaan baginya, Meningkatkan "skill" untuk bekerja dan "etos kerja" yang baik (band. Amsal 19:2). Melakukan pekerjaan apa saja yang sesuai dengan kehendak Allah, dan bekerja
adalah merupakan ketaatan kepada Allah. 
b. Kesimpulan 
    Manusia diciptakan oleh Allah sebagai manusia pekerja, maka hakekat  manusia adalah bekerja, kalau manusia menyadari hakekatnya sebagai bekerja, maka manusia tidak akan menganggur, melainkan bekerja melakukan sesuatu. Bekerja adalah berkat Tuhan, karena dengan bekerja aku akan diberkati oleh Allah, maka aku tidak akan berkekurangan. 

Posting Komentar untuk "Masalah Kerja dan Pengangguran menurut Etika Kristen"