KAMIS PUTIH 2 APRIL 2026
“Kehendak
Allah Bapa yang jadi”
I. Pendahuluan
Kamis Putih adalah
hari dalam tradisi Kristen yang diperingati pada hari Kamis putih sebelum Paska hari kamis putih mengingatkan peristiwa
penting menjelang penderitaan Yesus Kristus/ perjamuan terakhir bersam
murid-murid-Nya, didalam nats ini diberitakan satu penderitaan yang dihadapi
Yesus didalam kehidupan-Nya Setiap orang pernah mengalami situasi seperti ini.
Dalam Markus ini kita bisa melihat bahwa Yesus Kristus juga mengalami
pergumulan yang sangat berat sebelum penderitaan-Nya. Peristiwa ini terjadi di
taman Getsmani yang berada di kaki Bukit Zaitun di dekat Yerusalem pada malam
itu kota Yerusalem sedang penuh dengan orang yang datang merayakan Pasakah
sehingga suasana politik dan agama sangat tegang Yesus mempersiapkan diri
secara rohani untuk menghadapi penderitaan yang akan datang. Dan pada saat itu
Yesus sudah mengetahui bahwa Ia akan ditangkap oleh para pemimpin agama, mereka
sedang merencanakan penangkapan Yesus Kristus oleh sebab itu salah satu murid
Yesus yang bernama Yudas Iskariot yang menjual Yesus.
II. Pembahasan
Malam itu udara di Taman Getsemani terasa berat. Yesus membawa murid-murid-Nya ke sebuah tempat yang sunyi, sebuah taman yang biasa mereka kunjungi, tempat yang familiar, namun malam itu terasa begitu asing dan mencekam. Markus mencatat dengan jujur bahwa Yesus "sangat takut dan gentar" (ay.33). Ini bukan sekadar kegelisahan kecil. Ini adalah pergumulan jiwa yang sesungguhnya. Yesus, Sang Anak Allah yang kekal, merasakan beban yang begitu besar hingga Ia berkata kepada para murid-Nya: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya." Kata-kata itu bukan kiasan. Itu adalah jeritan hati seorang yang sedang berdiri di ambang penderitaan terbesar dalam sejarah manusia.
Kita perlu berhenti sejenak di sini dan merenungkan kemanusiaan Yesus yang sejati. Ia bukan manusia sandiwara yang berpura-pura menderita. Ia sungguh-sungguh manusia,merasakan takut, merasakan ngeri, merasakan berat. Ketika Ia tersungkur ke tanah dan berdoa, itu adalah gambaran yang paling manusiawi yang pernah ada: seorang anak yang datang kepada Bapa-Nya dalam keadaan hancur. Doa-Nya pun terasa sangat personal: "Abba, ya Bapa", kata Abba adalah bahasa Aram yang paling intim, seperti seorang anak kecil yang memanggil "Papa" kepada ayahnya. Dalam kedalaman penderitaan-Nya, Yesus tidak lari dari Allah Ia justru berlari kepada Allah. Ia memohon: "Ambillah cawan ini dari pada-Ku." Cawan dalam tradisi Perjanjian Lama adalah simbol murka Allah atas dosa manusia. Yesus tahu persis apa yang akan Ia tanggung — bukan hanya salib yang menyakitkan secara fisik, tetapi penanggung dosa seluruh umat manusia, terpisah dari kemuliaan Bapa. Itulah yang membuat hati-Nya hancur melampaui batas. Namun justru di sini letak keagungan doa Yesus: setelah Ia menyatakan permohonan-Nya dengan jujur, Ia menutup doa-Nya dengan kalimat yang mengubah segalanya — "Tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
Kalimat itu — "bukan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu" — adalah kalimat terpenting yang pernah diucapkan dalam sejarah umat manusia. Di sinilah letak perbedaan antara Adam yang pertama dengan Adam yang kedua. Adam yang pertama memilih kehendaknya sendiri di taman Eden, dan hasilnya adalah kejatuhan umat manusia. Yesus, di taman Getsemani, memilih kehendak Bapa — dan hasilnya adalah keselamatan umat manusia. Dua taman, dua pilihan, dua konsekuensi yang berlawanan arah. Namun kita harus memahami bahwa penyerahan diri Yesus kepada kehendak Bapa bukanlah sesuatu yang mudah atau tanpa perjuangan. Ia berdoa bukan hanya sekali — Markus mencatat bahwa Ia pergi berdoa, lalu kembali, menemukan murid-murid tertidur, lalu pergi berdoa lagi, dan seterusnya. Tiga kali. Ini bukan tanda kelemahan iman — ini adalah tanda bahwa ketaatan yang sejati lahir dari pergumulan yang sungguh-sungguh. Iman yang tidak pernah bergumul adalah iman yang belum pernah diuji. Dan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa bahkan dalam pergumulan terdalam sekalipun, kehendak Bapa adalah tempat yang paling aman untuk bersandar.
Ada ironi yang menyentuh hati dalam perikop ini. Di saat Yesus bergumul dengan doa yang paling berat dalam hidup-Nya, murid-murid-Nya — termasuk Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang paling dekat dengan-Nya — tertidur. Markus menjelaskan bahwa mereka tertidur karena "mata mereka sangat berat" (ay. 40). Yesus bahkan berkata kepada Petrus dengan nada yang menyayat: "Simon, engkau tertidur? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam saja?"Bukankah gambaran itu sangat familiar bagi kita? Betapa sering kita, orang-orang yang mengaku mengasihi Yesus, tertidur di saat Ia memanggil kita untuk berjaga dan berdoa. Kita tertidur dalam kenyamanan rutinitas gereja tanpa pernah sungguh-sungguh bergumul dalam doa. Kita tertidur dalam kesibukan hidup sehari-hari, lupa bahwa ada panggilan untuk berjaga-jaga bersama Tuhan. Kamis Putih ini adalah undangan untuk bangun dari tidur itu — untuk hadir secara sungguh-sungguh bersama Kristus dalam doa, dalam penyerahan diri, dalam pergumulan iman yang nyata.
Pada akhirnya, Yesus bangkit dari tempat doa-Nya dan berkata: "Cukuplah, saatnya sudah tiba." Ada ketenangan yang luar biasa dalam kata-kata itu. Setelah pergumulan doa yang menguras seluruh jiwa-Nya, Yesus berdiri dengan mantap. Ia tidak lari. Ia tidak mundur. Ia melangkah maju menyongsong penangkapan, pengadilan, penyiksaan, dan salib bukan karena Ia tidak merasakannya, tetapi karena Ia telah memilih: kehendak Bapa yang jadi. Inilah inti dari iman Kristen. Bukan bahwa kita tidak pernah merasakan takut, bukan bahwa kita tidak pernah memohon agar cawan pahit dijauhkan dari kita — melainkan bahwa di ujung setiap doa kita, kita belajar berkata bersama Yesus: "Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu ya Bapa." Kehendak Allah Bapa bukan penghalang kebahagiaan kita — kehendak-Nya adalah jalan keselamatan kita, seperti yang telah terbukti di Getsemani dan di Golgota.
III. Refkleksi Khotbah
Kamis Putih mengajak kita masuk ke dalam keheningan taman itu bersama Yesus. Mengajak kita untuk tidak buru-buru melewati penderitaan-Nya menuju sukacita kebangkitan, tetapi untuk duduk sejenak di sana — merasakan beratnya cawan yang Ia tanggung untuk kita, dan bersyukur karena Ia memilih taat. Setiap kali kita menghadapi pergumulan dalam hidup kita sakit yang tidak sembuh, hubungan yang retak, masa depan yang tidak pasti, doa yang belum terjawab taman Getsemani mengingatkan kita bahwa Tuhan kita mengerti. Ia pernah ada di sana. Dan justru karena Ia memilih kehendak Bapa di taman itu, kita hari ini bisa berdiri dengan pengharapan. Kehendak Allah Bapa yang jadi itulah sumber keselamatan kita. Itulah dasar pengharapan kita. Dan itulah undangan hidup kita setiap hari.

Posting Komentar untuk "Bahan Jamita : Kamis Putih, Markus 14:32-42"Kehendak Allah Bapa Yang Jadi""