Dasar Etis-Teologis Tentang sikap orang Kristen terhadap Harta Milik

    


 Salah satu dampak negatif dari zaman moderen, muncul sikap materialisme dan gaya hidup hedonis disatu sisi kebutuhan hidup semakin menngkat. Berbicara tentang sikap dan gaya hidup berarti kita berbicara “the power of money”. Batak proverb Pat Ni manuk paturengreng marara mata mamereng hepeng” me mpunyai dua makna yaitu sisi positif, semua orang suka dan membutuhkan uang. We  can not live without money. Untuk itu firman Tuhan menasihatkan kita untuk berusaha mendapatkannya (band PKH 10:19) Sisi negatif, dengan uang bisa mengubah melakukan segala sesuatu, tetapi uang tidak dapat memberikan segala sesuatu. Contoh uang bisa membeli tempat tidur yang mahal, tetapi uang tidak dapat membeli tidur (band Pkh 5:11). Uang juga tidak dapat memberikan “rasa cukup=puas” karena keinginan manusia tidak ada batasnya dan tidak terpuaskan (band Amsal 30:15-16; 27:20 dan Pkh 5:9; 6:7) keinginan manusia akan harta milik (uang) adalah bagaikan “minum air asin” semakin banyak minum semakin rasa haus. Uang akan menjadi berkat (hasonangan) atau akan menjadi kutuk ditentukan “sikap kita terhadap uang” dan sikap ditentukan pemahaman tentang uang. Ungkapan kebenaran “pemahaman yang benar tentang harta milik, akan mengakibatkan sikap yang benar....sikap yang benar.... akan mengakibatkan cara yang benar dalam mencari dan mengumpulkannya akan mengakibatkan cara yang benar dalam menggunakannya. 

    a. Dasar Teologis tentang Uang (harta milik)

Apa dasar Teologis (Firman Tuhan) tentang uang (harta milik) 

    Harta milik adalah bersumber dari Allah. Karena Allah adalah pencipta dan selaku pencipta Dia adalah pemilik segala sesuatu (Mat 89:12; Hagai 2:9; 1 Kor 10:26; Amsal 8:18 dll). Allah hanya memberikan hak untuk mengusahakannya (HGU/ hak guna usaha), dan Allah memberikan mandat dan kemampuan untuk mengelola dan menikmatinya (kej 1:28) maka orang yang tidak bekerja tidak patut makan (2 Tes 3:10) segala bentuk kemalasan ditentang oleh Allah (band Amsal 6:6-8)  Implikasi etis/praktis dari Allah sebagai sumber berkat bagi orang yang suka mendapatkan berkat dari Allah berarti harus berusaha, mencari dan mengumpulkan berkat (harta milik) sesuai dengan cara kehendak Allah, tentu Allah tidak memberkatinya. Jika sesuai dengan kehendak Allah, tentu Allah tidak memberkatinya. Jika sesuai dengan kehendak Allah, inilah yang disebut “berkat Tuhan dan akan menjadi berkat”. 

 Harta milik adalah “pemberian Allah” (band 1 Kor 4:7). Sebagai pemberian berarti dipercayakan dipercayakan oleh Allah dan Allah mengkehendaki agar kita menjadi “penatalayanan” yang dapat dipercaya oleh Tuhan.

    Implikasi etis harta milik sebagai pemberian, kita mempunyai tanggung jawab kepada Allah dalam hal mendapatkan dan mengelola harta milik yang dipercayakan oleh Allah. Berarti mencari dan menggunakannya sesuai dengan kehendak Allah >< masalah miss use uang. Harta milik sebagai pemberian Allah juga mempunyai implikasi etis, bagaimana seharusnya sikap kita terhadap uang (harta milik) yaitu pemberian untuk disyukuri bukan untuk disombongkan, bersyukur untuk yang sudah ada bukan untuk yang belom ada (band 1 Tim 6:8) 

 Harta milik adalah bersifat sementara (band Pkh 5:14; 1 Tim 6:7). Hal ini mempunyai implikasi etis, harta milik tidak dapat memperpanjang hidup, dan hidup tidak ditentukan dan tidak bergantung pada kekayaan (band luk 12:15) 

 Tujuan Allah memberikan “harta milik”, untuk memenuhi kebutuhan hidup, untuk dinikmati (1 Tim 6:17) untuk memuliakan dan melayani Allah (Amsal 3:9), melayani sesama dan untuk investasi dalam kerajaan Allah (Mat 6:19-21).  

b. Implikasi 

    Menggunakan hidup dengan segala yang ada pada kita sesuai dengan tujuan  kehendak Allah, sehingga mendatangkan berkat dan kepuasan hidup. Dalam etika PL, ekonomi bangsa Israel sebagai  termometer rohani mereka. Kalo ekonomi mereka baik berarti diberkati oleh Allah. Allah memberkati mereka karena mereka taat dan sebaliknya.  Dalam konteks PB, prinsip tetap sama orang yang taat dan mengandalkan Tuhan akan diberkati oleh Tuhan dan itu adalah merupakan janji Allah memelihara hidup kita (band Mat 6:25-34; 3:11) hanya berkat Tuhan tidak dapat diukur dengan jumlah berapa banyak yang kita miliki, tetapi bagaimana hati kita dalam memiliki banyak atau sedikit berkat Tuhan (band Yoh 10:10).  

c. Kesimpulan
1. Allah adalah sumber harta milik dan jika didapatkan sesuai dengan kehendak Allah, maka uang akan menjadi hamba uang yang baik yang akan melayani kebutuhan hidup, dan jika tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, maka uang akan menjadi tuan yang
kejam yang menyusahkan manusia.
2. Uang menjadi berkat atau menjadi kutuk ditentukan oleh sikap kita terhadap “harta milik” (uang).
3. Kita merindukan agar apapun yang baik kita dapatkan, miliki banyak atau sedikit, menjadi berkat (hasonangan dan kepuasan) dalam hidup kita dan itu ditentukan sikap kita terhadap harta millik (uang). 

Posting Komentar untuk "Dasar Etis-Teologis Tentang sikap orang Kristen terhadap Harta Milik "