Pernikahan dan Keluarga bertanggungjawab : ETIKA KRISTEN

   


  Pengertian pernikahan kristen adalah suatu pernikahan yang ditetapkan dan dikehendaki oleh Allah antara seorang laki-laki dan perempuan (heterosexual). Dengan menciptakan sex dan keberadaan yang berbeda Allah menciptakan mereka satu untuk yang lain dan melengkapi keberadaan satu sama lain di dalam satu tubuh (pernikahan). Untuk mewujudkan kesatuan atau persekutuan suami istri (manusia), Allah menetapkan dasar pernikahan dalam Kej 2:24; Mat 19:4-6 

a. Dasar Pernikahan

1. Meninggalkan (karena cinta) orang tuanya dan memutuskan hubungan yang lain.

2. Bersatu dengan istrinya, penetapan, mengesahan Allah dan pengumuman. Pernikahan sebagai suatu lembaga sosial, yang terjadi dan yang ada ditengah masyarakat maka membutuhkan pengakuan dan dukungan dari masyarakat sehingga dapat berfungsi sebagai suatu unit. Persekutuan (keluarga), pernikahan memerlukan peresmian dan pengesahan secara sosial. Pernikahan juga merupakan suatu persekutuan rohani (religious marriage). Maka peranan Allah menentukan dalam mempersatukan dan menetapkan pernikahan. Juga peranan Allah dalam memilih teman hidup/jodoh dan faktor satu iman sangat menentukan. Maka masalah akan terjadi dalam pernikahan inter Faith (band 2  Kor 6:14). Maka pernikahan kristen harus dimulai dengan Faith kepada Allah mempersatukan mereka dalam persekutuan nikah. Allah mempersatukan dan mengesahkan pernikahan melalui gerejaNya. Dalam kaitan ini perlu dipertanyakan, kapankah pernikahan ini sah dihadapan Allah?

3. Satu daging (one flash). Pernikahan sebagai suatu persekutuan dalam satu tubuh menyatakan hubungan pernikahan mempunyai sifat yang unik dan eksklusif dan yang membuat berbeda dengan semua hubungan manusia. Pernikahan sebagai one Flash mempunyai pengertian bahwa kesatuan suami istri harus dianggap sebagai a single organisme, karena persetubuhan tidak hanya kontak badan tetapi menyangkut keberadaan manusia secara total (tubuh, jiwa dan Roh), a total union of two lifes yang berbeda, untuk itu kata yang perlu dipromote adalah “ours” dan yang diminimise adalah kata “Your and mine”. Dari pengertian akan dasar pernikahan kristen kita melihat beberapa sifat dan hakekat dari pernikahan dan hal-hal yang tidapat ditoleransi.

 Pernikahan bersifat kudus karena Allah yang menciptakan dan mempersatukannya

 Pernikahan bersifat monogami dan kesetiaan 

 Pernikahan adalah ikatan seumur hidup atau kesatuan yang permanen sampai kematian memisahkan (band Mat 19:6).

Dengan demikian etika kristen menolak penikahan “kumpul kebo”, hanya “catatan  sipil” dan hanya di pasu-pasu raja atau acara adat, menolak perceraian karena perzinahan dan childness. Dalam kaitan perzinahan perlu ditekankan bahwa “esense of love” adalah pertobatan dan “forgiveness” termasuk dosa perzinahan dan tujuan pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan anak melainkan hanya salah satu berkat Allah atas pernikahan.

b. Tujuan Penikahan menurut Etika Kristen

 1. Protection “beranak cuculah”. Manusia sebagai partner Allah dalam menciptakan “new being”. Dalam kaitan ini suami istri mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi tugas panggilan keluarga yang bertanggung jawab (KB), termasuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak, “be fruitfull” adalah salah satu berkat Allah atas pernikahan, berkat tambahan dalam hubungan suami istri. Hal ini berarti pernikahan. Pernikahan tidak dikaruniakan anak adalah tetap pernikahan yang diberkati oleh Allah. Tujuan sex yang utama bukan untuk menghasilkan anak dan bukan tujuan utama dari pernikahan tetapi untuk kebahagiaan (band, Daasar pernikahan; meninggalakn bersatu dan sedaging)

2. Sex fullfillment or intimacy   Sex adalah ciptaan Allah dan sebagai pemberian untuk enjoy “initimat relationship” yang mencakup “the whole existence”,dan untuk itulah pernikahan diciptakan oleh Allah bagi penyaluran dorongan sex yang diciptakannya. Intimacy tidak hanya kepuasan sex (pleasure) tetapi juga confidence, harmoni, and self –respect>< miss useed partnernya. Hal yang perlu disadari sikap yang benar terhadap sex ><  sikap yang salah terhadap sex. Pernikahan sebagai tempat dan regulation of sex, yaitu tempat untuk menikmati seks.  Atau ekspresi sex yang bermakna. Masalah penyalah gunaan sex sebelum dan diluar pernikahan tidak mempunyai makna hanya pemuasan hawa nafsu sex.

 3. Companionship (persahabatan) 

    Kej 2:18, 23 manusia memerlukan teman yang sepadan, yang paling dekat dengan dirinya. Hal ini menyatakan bahwa tujuan sex dan pernikahan adalah juga komunikasi (relationship) dan friendship. Persahabatan adalah kebutuhan manusia yang dasari, dua orang yang ingin untu menikah tidak hanya oleh ketertarikan sex, tetapi karna sudah ada a deep friendship yang bertumbuh diantara mereka yang dapat memuaskan dan membahagiakan mereka, sehingga mereka ingin hidup bersama.  Ungkapa Adam :”this is bone of my bone and flesh of my flesh”. Ini tulang dari tulangku dan daging dari dagingku, menyatakan menandaskan manusia tidak dapat hidup dalam keterisolasian. Dan pernikahan diciptakan untuk mnegatasi essential loneliness dan kebutuhan manusia untuk love and to be loved. Pernikahan adalah panggilan untu mencintai .

4. Glory God (Memuliakan Tuhan)

Pernikahan sebagai persekutuan jasmani dan rohani dan juga dapat dikatakan bahwa christian marriage is bassically religious and have a religious oriented, dimana dalam Efesus 5:22-23, hubungan suami istri sebagai simbol atau analogi dari hubungan kristus  dengann gereja (sebagai tubuhnya) dan dalam PL menggambarkan hubungan Allah dengan umatnya. Hal ini menandaskan bahwa pernikahan mempunyai tujuan untuk memuliakan Allah dan untuk itu Allah memberikan peraturan, peran, dan tanggung jawab kepada suami (bapa), istri (ibu), orangtuanya dan anak-anak.kebahagiaan suatu keluarga ditentukan kesadaran dan pelaksanaan peran dan tanggung jawab dari anggota keluarga. 

c. Fungsi Keluarga

    Keluarga adalah suatu persekutuan atau ikatan yang diikat oleh hubungan darah  yang terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak (keluarga inti). Juga dapat dikatakan keluarga adalah lembaga yang diciptak oleh Allah dimana anak sebagai berkat Allah. Dan hubungan dalam keluarga menggambarkan hubungan dan kestuan Allah dengan umatnya. Kristus dengan gerejaNya keluarga sebagai lembaga ciptaan Allah mempunyai fungsi yaitu untuk memenuhi kebutuhan dasar dari anggota keluarga. Fungsi keluarga secara umum dari keluarga adalah unsur “propagation”; perkembangan, population, dimana anak dilahirkan dalam  ikatan pernikahan (pelindung dan kasih sayang orangtua). Masalah jika anak lahir diluar pernikahan. Kerjasama ekonomi yaitu dalam ikatan pernikahan memberi penopangan akan kebutuhan. Tanggung jawab terhadap anak yaitu memberi perlindungan dan pemeliharaan kepada anak.

    Tetapi fungsi keluarga tidak terbatas pada pada ketiga unsur ini, melainkan ada beberapa fungsi dari keluarga yang dapat digolongkan sebagai berikut; 

1. Tempat untuk menikmati kasih sayang (keluarga) yang harmonis

2. Tempat untuk dukungan sosial-interaksi dan komunikasi (home dan house) ><rumah model hotel

3. Tempat perlindungan dan rasa aman; perlindungan dan pemeliharaan-perasaan at home

4. Tempat untuk rekreasi bersenang-senang, perasaan betah dirumah

5. Tempat dukunga ekonomi kebutuhan jasmani

6. Tempat pendidikan yang terutama; orangtua sebagai dosen utama >< diarahkan kepada lembaga formal

7. Tempat ibadah> pendidikan agama kristen  Untuk mewujudkan fungsi ini, Allah memberikan tanggung jawab kepada semua anggota keluarga; ibu, ayah dan anak suami-istri. 

d. Kesimpulan 

 Pernikahan yang alkitabiah adalah ssuatu ikatan janji  yang eksklusif dan heteroseksual antara seorang laki-laki dan perempuan, dipersatukan, disahkan, ditahbiskan dan diberkati oleh Allah, yang didahului tindakan meninggalkan orangtua (cinta), dengan sepengetahuan kelompok masyarakat (bersatu) mencapai kepenuhannya dalam satu daging (sedaging) menjadi suatu persekutuan yang permanent yang saling melengkapi dan pemberian berkat anak.


 



Posting Komentar untuk "Pernikahan dan Keluarga bertanggungjawab : ETIKA KRISTEN "