Bahan Kohotbah Epistel/Partangiangan
Minggu Judika
Roma 8:6-11
I.
Pengantar
Ada sebuah pengalaman yang hampir semua orang pernah
rasakan: kita tahu apa yang benar untuk dilakukan, namun kita tidak
melakukannya. Kita tahu bahwa kita seharusnya mengampuni, tetapi hati kita
masih menyimpan kepahitan. Kita tahu bahwa kita seharusnya berdamai, tetapi ego
kita menolak untuk tunduk. Kita tahu bahwa Tuhan harus menjadi pusat hidup
kita, tetapi setiap hari kita justru sibuk mengejar hal-hal yang lain.
Pergumulan ini bukan sesuatu yang baru. Paulus sendiri mengakuinya dengan
sangat jujur di pasal 7, ketika ia menulis tentang pertentangan batin antara
keinginan untuk berbuat baik dan tarikan dosa yang begitu kuat. Namun Paulus
tidak berhenti di sana. Di pasal 8, ia membawa kita ke tempat yang berbeda. ia
berbicara tentang sebuah kemungkinan baru yang terbuka bagi orang percaya,
yaitu hidup di dalam Roh. Di sinilah letaknya pergulatan yang sebenarnya bukan
hanya soal moralitas atau aturan agama, melainkan soal sebuah pilihan mendasar
tentang apa yang menjadi pusat orientasi hidup kita: apakah kita hidup menurut
daging, atau menurut Roh? Teks Roma 8:6–11 adalah jawaban Paulus atas
pertanyaan eksistensial yang paling penting dalam perjalanan iman Kristen.
II.
Pembahasan Teks
Untuk memahami Roma 8:6–11, kita perlu
menempatkannya dalam arus besar argumentasi Paulus. Pasal 7 menutup dengan
gambaran manusia yang terjebak dalam kondisi keberdosaan, tidak mampu melakukan
yang baik meskipun menginginkannya. Lalu pasal 8 dibuka dengan deklarasi
kebebasan yang mengejutkan: "Tidak
ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus"
(ay. 1). Berangkat dari sini, Paulus membangun argumentasinya tentang hidup di
dalam Roh, dan ayat 6–11 adalah jantung dari argumentasi itu. Paulus membuka
dengan sebuah antitesis yang tajam dan tidak memberi ruang untuk kompromi.
Dalam terjemahan Indonesia, ayat 6 berbunyi: "Karena
keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai
sejahtera." Kata yang diterjemahkan "keinginan" atau
"pikiran" berasal dari kata Yunani φρόνημα (phronēma),
yang maknanya jauh lebih dalam dari sekadar "apa yang dipikirkan."
Kata ini merujuk pada orientasi batin yang menyeluruh, sikap dasar dari seluruh
diri seseorang, cara pandang dan motivasi yang membentuk pola hidup. Jadi
Paulus bukan sedang berbicara tentang pikiran-pikiran yang sesekali muncul di
kepala, melainkan tentang orientasi hidup yang fundamental, ke mana seluruh
keberadaan seseorang condong dan bergerak. φρόνημα τῆς σαρκός (phronēma tēs sarkos),
"pikiran/orientasi daging", berujung pada θάνατος (thanatos), kematian. Dalam teologi Paulus,
"daging" (sarx)
bukan sekadar tubuh jasmani, melainkan kondisi manusia yang hidup di luar Roh
Allah, yang mengandalkan kemampuan diri sendiri dan mengikuti dorongan-dorongan
yang bertentangan dengan kehendak Allah. Orientasi seperti ini, kata Paulus,
berujung pada maut — bukan hanya kematian fisik, tetapi keterputusan dari
sumber hidup itu sendiri, yaitu Allah. Sebaliknya, φρόνημα τοῦ πνεύματος (phronēma tou
pneumatos), "pikiran/orientasi Roh", berujung pada ζωὴ καὶ εἰρήνη (zōē kai
eirēnē), hidup dan damai sejahtera. Perhatikan bahwa Paulus
menggandingkan "hidup" dengan "damai sejahtera." Ini bukan
kebetulan. Damai sejahtera di sini bukan sekadar perasaan tenang secara
emosional, tetapi kata εἰρήνη (eirēnē)
yang merupakan padanan Yunani dari kata Ibrani shalom kondisi utuh, harmonis, benar di hadapan Allah dan
sesama. Ini adalah kehidupan yang penuh dan menyeluruh, bukan sekadar
eksistensi.
1.
hidup manusia
tidak pernah netral.
Paulus melanjutkan dengan menjelaskan mengapa
orientasi daging berujung pada kematian. Dalam ayat 7, ia menggunakan kata yang
kuat: "sebab pikiran daging adalah
perseteruan terhadap Allah." Kata Yunani untuk
"perseteruan" adalah ἔχθρα (echthra),
yang berarti permusuhan yang aktif dan mendalam. Ini bukan sekadar ketidakpedulian
atau kelalaian, ini adalah kondisi di mana seseorang secara aktif berdiri
berlawanan dengan Allah. Mengapa? Karena pikiran daging "tidak takluk kepada hukum Allah"
. kata yang dipakai adalah οὐχ ὑποτάσσεται (ouch
hypotassetai), artinya tidak mau tunduk, tidak mau menempatkan
dirinya di bawah. Ada sebuah pemahaman teologis yang penting di sini: dosa
bukan pertama-tama soal pelanggaran aturan, tetapi soal penolakan untuk hidup
dalam relasi ketundukan dan kepercayaan kepada Allah. Pikiran daging, dalam
hakikatnya, bersikap otonom — ia mau menjadi tuan atas dirinya sendiri. Dan
Paulus menambahkan sesuatu yang terasa pahit namun jujur: pikiran daging "memang tidak dapat melakukannya"
ini bukan hanya soal tidak mau, tetapi juga tidak mampu. Ada ketidakmampuan
yang bersifat struktural di dalam kondisi manusia yang berada di bawah dominasi
daging. Inilah mengapa Paulus tidak memberi solusi berupa "berusahalah
lebih keras" atau "perbaiki dirimu." Permasalahannya terlalu
dalam untuk diselesaikan dengan upaya moral biasa. Konsekuensinya ada di ayat
8: "mereka yang hidup dalam daging,
tidak mungkin berkenan kepada Allah." Kata "tidak mungkin" di sini adalah
οὐ δύνανται (ou dynantai)
sebuah ketidakmungkinan yang hakiki. Ini
adalah realita yang suram, tetapi Paulus mengatakannya bukan untuk menghukum,
melainkan untuk memperlihatkan betapa mutlaknya kebutuhan kita akan sesuatu
yang berasal dari luar diri kita sendiri.
2.
orang percaya
sudah berdiri di tempat yang berbeda.
Ayat 9 adalah titik balik yang dramatis dalam teks
ini. Paulus beralih dari deskripsi umum tentang kondisi manusia berdosa kepada
pernyataan personal yang langsung ditujukan kepada para pembacanya: "Tetapi kamu tidak hidup dalam daging,
melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu."
Perhatikan kata "jika"
di sini ini bukan keraguan, melainkan kondisi logis yang Paulus yakin sudah
terpenuhi pada jemaat di Roma yang percaya. Argumentasinya adalah: jika
seseorang telah menjadi orang percaya, maka Roh Allah telah tinggal di
dalamnya. Dan jika Roh itu diam di dalamnya, maka ia tidak lagi hidup "dalam daging" sebagai
identitas dasarnya. Lalu Paulus menambahkan: "Tetapi
jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus."
Di sinilah Paulus mengidentikkan "Roh Allah" dengan "Roh
Kristus." Ini adalah salah satu pernyataan paling awal dalam surat-surat
Paulus yang menggambarkan relasi yang sangat erat antara Roh Kudus dan Kristus
yang bangkit. Roh yang tinggal di dalam orang percaya adalah Roh yang sama
dengan Roh yang membangkitkan Yesus dan ini memiliki implikasi yang luar
biasa, sebagaimana yang akan Paulus jelaskan di ayat berikutnya.
3.
Roh yang
tinggal di dalam orang percaya bukan Roh sembarangan.
Dalam ayat 10, Paulus menyentuh sebuah realitas yang
kita semua harus akui: tubuh kita memang "mati" dalam arti bahwa ia
rentan, fana, dan sedang menuju kematian akibat dosa. Kata yang dipakai adalah νεκρόν (nekron), mati, dalam kondisi kematian. Ini adalah pengakuan
yang realistis tentang kondisi jasmani kita. Namun di saat yang sama, kata
Paulus, "Roh adalah kehidupan oleh
karena kebenaran." Kata ζωή
(zōē) di sini bukan sekadar
"hidup biologis" (yang adalah bios),
tetapi "hidup sejati" yang bersumber dari Allah sendiri. Kebenaran (dikaiosynē) yang datang melalui Kristus
telah membuka pintu bagi Roh untuk berkarya di dalam orang percaya sebagai
sumber kehidupan yang melampaui kematian. Dan di ayat 11, Paulus mengungkapkan
janji yang paling besar dan paling berani dalam seluruh perikop ini: "Dan jika Roh Dia yang telah membangkitkan
Yesus dari antara orang mati diam di dalam kamu, maka Ia yang telah
membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga
tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang diam di dalam kamu." Kata
kunci di sini adalah οἰκεῖ (oikei)
dari kata oikeō yang berarti
"tinggal", "berdiam", "menghuni." Ini bukan
kehadiran yang sesekali atau yang datang dan pergi. Roh Allah berumah di dalam orang percaya. Dan
karena Roh yang sama yang membangkitkan Yesus dari kematian itulah yang tinggal
di dalam kita, maka kuasa kebangkitan itu juga sudah aktif bekerja di dalam
kita tidak hanya sebagai jaminan masa depan, tetapi sebagai kenyataan yang
sudah dimulai sekarang.
III.
Refleksi Teologis
untuk memeriksa φρόνημα kita , orientasi batin yang paling dalam. Ke
mana kita mengarahkan seluruh keberadaan kita? Apa yang menjadi pusat gravitasi
dari pikiran, keinginan, dan keputusan kita? Ini adalah pertanyaan yang relevan
di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Kita hidup di zaman ketika
segala sesuatu bersaing untuk mendapatkan pusat perhatian kita, karir, status,
kenyamanan, opini orang lain. Tidak sedikit dari kita yang secara fungsional
hidup dengan orientasi "daging" meskipun secara formal kita mengaku
sebagai orang percaya. Kita melakukan kegiatan rohani, tetapi motivasi terdalam
kita masih dikuasai oleh kepentingan diri sendiri, rasa takut kehilangan
kendali, atau keinginan untuk diakui. Salah satu pesan terpenting dari teks ini
adalah tentang identitas. Paulus tidak berkata "berusahalah lebih
keras agar Roh tinggal di dalammu." Ia berkata, "kamu tidak lagi
hidup dalam daging, melainkan dalam Roh." Ini adalah pernyataan
tentang apa yang sudah terjadi kepada orang percaya sebuah perubahan
status dan identitas yang nyata. Implikasinya sangat praktis: ketika kita
bergumul dengan dosa atau kegagalan, kita tidak perlu kembali ke titik nol dan
bertanya-tanya apakah kita masih milik Allah. Kita boleh kembali kepada
identitas kita bahwa kita adalah orang-orang yang di dalamnya Roh Allah
berdiam. Ini bukan alasan untuk santai terhadap dosa, melainkan dasar yang
kokoh untuk bangkit kembali dan berjalan sesuai dengan siapa kita sesungguhnya.
Fakta bahwa Roh yang membangkitkan Kristus tinggal
di dalam kita seharusnya mengubah cara kita memandang setiap aspek kehidupan.
Ini berarti bahwa hidup orang percaya bukan hidup yang pasif kita dipanggil
untuk secara aktif hidup menurut Roh, membiarkan orientasi batin kita dibentuk
oleh kehadiran Roh itu. Ini nyata dalam cara kita merespons konflik (apakah
kita menuruti "pikiran daging" yang keras dan defensif, atau memberi
ruang bagi Roh untuk memimpin kita menuju rekonsiliasi?), dalam cara kita
menggunakan sumber daya kita, dalam cara kita memperlakukan orang-orang yang
lemah dan terpinggirkan. Jemaat yang sungguh-sungguh hidup oleh Roh akan menjadi
komunitas yang berbeda bukan karena mereka lebih sempurna secara moral, tetapi
karena ada sesuatu yang berbeda dalam orientasi dasar mereka: mereka tidak lagi
hidup untuk diri sendiri, tetapi untuk Dia yang telah memberikan Roh-Nya kepada
mereka. kita mungkin mengalami sakit, penderitaan, dan kematian, tetapi Roh
yang sama yang membangkitkan Yesus sudah diam di dalam kita. Kebangkitan bukan
hanya janji masa depan yang jauh ia adalah realita yang sudah mulai bekerja di
dalam diri setiap orang percaya. Ini memberikan kita keberanian untuk
menghadapi penderitaan tanpa kehilangan pengharapan, dan kekuatan untuk terus
berjalan bahkan di tengah kondisi yang paling berat sekalipun. Hidup oleh Roh
adalah bukan sekadar pilihan rohani ia adalah satu-satunya jalan menuju
kehidupan yang sesungguhnya.

Posting Komentar untuk "Bahan Khotbah Epistel / Partangiangan Minggu Judika: Roma 8:6–11"