BAHAN KHOTBAH EPISTEL - JOHANNES 9: 1 – 11



BAHAN KHOTBAH EPISTEL

MINGGU XVII SETELAH TRINITATIS

MINGGU, 27 SEPTEMBER 2026

JOHANNES 9: 1 – 11

 

MATAKU TETAP TERARAH KEPADA TUHAN

Pengantar

Kitab Injil Yohanes ditulis sekitar akhir abad pertama (±90–100 M) oleh murid yang dikasihi Yesus, yaitu Rasul Yohanes. Pada masa itu, komunitas Kristen awal sedang menghadapi tekanan dari dua sisi yakni: Dari luar, yaitu penindasan politik oleh Kekaisaran Romawi. Dari dalam, yaitu konflik dengan komunitas Yahudi, terutama setelah orang Kristen dikeluarkan dari sinagoge (Yoh. 9:22). Karena itu, Injil Yohanes sering menampilkan kisah konfrontasi antara Yesus dengan orang Farisi atau pemimpin Yahudi. Narasi penyembuhan orang buta sejak lahir dalam Yohanes 9 bukan hanya kisah mujizat, tetapi juga mencerminkan konflik historis antara komunitas Kristen dengan komunitas Yahudi pada akhir abad pertama. Berbeda dengan Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas), Injil Yohanes memiliki gaya penulisan teologis yang lebih dalam dari pada injil sinoptik. Yohanes tidak sekadar menceritakan peristiwa, tetapi juga menekankan makna rohani dari setiap perbuatan Yesus. Secara khusus Yohanes pasal 9 ayat 1–11, menceritakan mujizat Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Peristiwa ini sangat penting, sebab pada zaman itu orang Yahudi percaya bahwa penyakit atau cacat lahir adalah akibat dosa, entah dosa orang itu sendiri atau dosa orang tuanya. Peristiwa inilah yang dimaksudkan konfrontasi antara Yesus dengan orang Farisi atau pemimpin Yahudi.

Sejarah sosial di balik teks ini menunjukkan bahwa orang buta pada zaman itu mengalami diskriminasi sosial dan religius. Mereka dianggap tidak layak, hidup dalam stigma, bahkan bergantung pada belas kasihan orang lain. Pandangan ini berakar dari tafsiran terhadap hukum Taurat (Kel. 20:5) tentang dosa orang tua yang berlanjut kepada anak-anak. Karena itu, orang buta mengalami stigma sosial dan sering hidup sebagai pengemis di pinggir jalan (bdk. Mrk. 10:46). Dalam pasal 9 selanjutnya (ay. 13–34), orang Farisi mempertanyakan penyembuhan itu dan bahkan mengusir orang buta yang disembuhkan. Secara historis, bagian ini mencerminkan pengalaman komunitas Yohanes sendiri yang mengalami pengusiran dari sinagoge karena iman kepada Kristus. Artinya, Yohanes 9 bukan hanya kisah individu, tetapi juga cermin pergumulan historis komunitas Kristen yang berusaha menegaskan imannya di tengah penolakan.

Dengan menyembuhkan orang buta sejak lahir, Yesus bukan hanya memulihkan fisiknya, tetapi juga mengangkat martabat kemanusiaannya dan menyingkapkan identitas Yesus “Sebagai Terang Dunia”. Ketika murid-murid bertanya mengenai asal usul penderitaan orang buta itu, Yesus menjawab bahwa kebutaannya bukan karena dosa, tetapi supaya pekerjaan Allah dinyatakan dalam hidupnya. Ia ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang datang membawa terang bagi dunia. Di mata dunia, orang buta hanyalah “Beban Sosial”. Namun di mata Yesus, dia adalah pribadi yang sangat berharga, tempat karya Allah dinyatakan. Injil Yohanes ditulis memiliki tujuan agar setiap orang yang membacanya percaya bahwa Yesus adalah sang Mesias Anak Allah dan dengan iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yoh. 20:31). Dalam Perdebatan Yesus dengan orang Yahudi mengenai siapa diri-Nya (Yoh. 8) Yohanes mengutarakan mujizat yang dilakukan oleh Yesus ketika itu seperti: menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir. Yohanes ingin menunjukkan bahwa tanpa Yesus, manusia ada dalam kegelapan rohani sama seperti orang buta yang tidak dapat melihat. Mujizat ini bukanlah sekadar pemulihan fisik, tetapi tanda rohani iman bahwa Yesus datang memberi penglihatan iman kepada mereka yang mau percaya. Dengan kata lain, kisah orang buta sejak lahir adalah sebuah gambaran kondisi manusia tanpa Kristus; hidup dalam kegelapan, tidak mampu melihat kebenaran, tetapi dapat ditolong ketika matanya terarah kepada Yesus sang terang itu sendiri.

       

Isi

Ada beberapa poin yang harus kita pahami dalam memaknai kitab Yohanes pasal yang 9 ini, yakni:

1.      Kebutaan bukan sebagai dasar kondisi manusia berdosa atau sebagai kutukan, melainkan ruang karya Allah.

Dalam PL sering sekali memandang penderitaan sebagai akibat dosa (Ayub 4-5). Kebutaan fisik adalah suatu hal yang sangat menyakitkan bagi mereka yang mengalaminya. Yohanes 9:1-2 menampilkan seorang yang buta sejak lahir. Manusia yang tidak mengenal Allah adalah sama dengan orang yang buta dan perlu baginya untuk diselamatkan. Orang Yahudi memahaminya bahwa kebutaan yang dialami orang itu adalah akibat dari dosa (Im. 26; Ul. 28). Yesus menentang pemahaman orang Yahudi dan Ia membalikkan perspektif: “penderitaan bukan sekadar hukuman, tetapi sarana bagi Allah menyatakan karya-Nya” karena “jalan Allah berbeda dari jalan manusia (Yes. 55:8-9). Dunia boleh melihat penderitaan sebagai kutuk, tetapi iman melihatnya sebagai berkat.

 

2.      Penderitaan bukan semata hukuman dosa (ay. 3-5)

Secara historis, Yesus menentang pandangan Deterministik zaman itu. Yesus menegaskan bahwa kebutaan itu dapat terjadi agar karya pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Artinya, penderitaan dapat menjadi sarana kemuliaan Allah. Yeses menegaskan pula misi-Nya melakukan pekerjaan Bapa selagi siang, karena Dialah “Terang Dunia” tanpa Yesus manusia akan tetap berada dalam kegelapan. Terang menghadirkan keadilan, solidaritas, dan hidup bermartabat yang memanusiakan manusia. Dunia bisa menyalahkan, menuduh, atau merendahkan, tetapi matai man harus tetap terarah kepada Tuhan karena dari Dia dating pemulihan. 

 

 

3.      Penyembuhan dilakukan menggunakan cara yang begitu luar biasa dengan meludah dan membuat lumpur lalu mengoleskannya (ay. 6-7)

Perbuatan Yesus ini bukan semata-mata kebetulan saja (Yes. 42:6-7), akan tetapi Yesus ingin mengingatkan bahwa manusia berasal dari debu tanah (Kej. 2:7). Yesus memerintahkan orang buta itu untuk membasuh diri di kolam Siloam (artinya: “yang diutus”) merujuk pada Yesus sendiri sebagai yang diutus Bapa. Penyembuhan adalah karya penciptaan baru dan kesembuhan itu terjadi setelah si buta taat kepada perintah Yesus. Dalam Kristus kita adalah ciptaan baru (2 Kor. 5:17) saat kita percaya Tuhan akan membentuk kembali hidup kita.  

 

4.      Yesus tidak memandang rupa (ay. 8-9)

Mengasihi orang lain adalah hukum kedua dan terutama (Mat. 22:39) dan inilah yang dilakukan oleh Yesus ketika itu. Kita sering kali menutup mata terhadap lingkungan di sekitar kita. Kita sering kali mengabaikan orang lemah seperti: Janda dan Yatim Piatu, Tunawisma, dll. Yesus berpihak kepada orang yang menderita. Orang yang buta sejak lahir justru didatangi Yesus dan ini menandakan bahwa Yesus berada di pihak mereka yang lemah.

 

5.      Kisah ini menekankan perjalanan iman seseorang karena orang buta semula hanya mengenal Yesus begitu saja (ay. 10-11) dan kemudian mengenalnya sebagai Tuhan (ay. 38).

Kesaksian orang yang dicelikkan matanya itu sangatlah sederhana kepada mereka yang bertanya bagaimana cara Yesus menyembuhkannya (ay. 11). Akan tetapi, yang perlu kita ketahui adalah apakah perbuatan/tindakan itu didasarkan pada iman? Karena iman itulah yang menyembuhkannya. Yesus tidak hanya memulihkan mata orang buta itu, tetapi juga mengembalikan dia ke tengah masyarakat. Injil bukan hanya menyelamatkan jiwa, tetapi juga memulihkan keadaan kita. Kesaksian iman tidak perlu rumit, sekecil apapun patut kita saksikan kepada semua orang. Karena percuma saja seorang mengatakan bahwa dia adalah seorang pencipta lagu jika dia tidak dapat menunjukkan satu dari antara lagu yang diciptakannnya ke ruang publik untuk di lihat orang banyak.  

 

Refleksi

Hidup bukan ditentukan oleh dosa masa lalu, tetapi oleh karya Allah di dalam Kristus jangan terus terikat oleh rasa bersalah, tetapi pandanglah pada kasih Kristus yang setia. Oleh karena itu, untuk merenungkan firman Tuhan, berikut ini beberapa refleksi dan implikasi yang dapat kita gumuli dan lakukan dalam kehidupan kita sepanjang hari.

1.      Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam penderitaan. Jangan kita bertanya mengapa aku begini, akan tetapi pahamilah dan percayalah, Yesus mengajarkan kita bahwa penderitaan dapat menjadi sarana kemuliaan Allah. Kita dipanggil untuk tetap menatap kepada Tuhan bukan merasa bersalah dalam keadaan karena Tuhan tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan kita (Fil. 4:13).

2.      Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam ketaatan. Mereka yang taat seperti orang buta itu akan sembuh dalam pengharapan. Meskipun dia masih buta, akan tetapi dia taat kepada Yesus dan berjalan menapaki kolam Siloam untuk mendapatkan  kesembuhannya.

3.      Mataku tetap terarah kepada Tuhan dalam kesaksian hidup. Setelah sembuh orang buta itu tidak berkata banyak, tetapi hanya memberikan kesaksian sederhana “Aku buta, sekarang aku melihat” karena kesaksian kita adalah karya Allah yang kita sampaikan dalam kemuliaan-Nya.

4.      Mataku tetap terarah kepada Tuhan, Sang Terang Ilahi (Yoh. 1:4-5). Dunia ini penuh dengan kegelapan, kebingungan, dosa, dan penderitaan. Tetapi, mata iman kita harus senantiasa memandang Yesus. Ketika mata kita terarah kepada-Nya, kita akan melihat terang sekalipun dunia gelap. Mari saksikan dan kabarkan kepada dunia karya dan perbuatan Allah tidak akan berkesudahan bagi orang yang percaya dan taat dalam iman kepada-Nya.

5.      Gereja dipanggil untuk hadir Bersama orang sakit, miskin, lemah, tertindas, bukan menghakimi melainkan menolong. Gereja saat ini lupa akan tugas panggilannya. Dan ini menjadi tugas kita bersama untuk mewujudkan panggilan itu. 

 


Posting Komentar untuk "BAHAN KHOTBAH EPISTEL - JOHANNES 9: 1 – 11"