Masalah Gender dalam Perspektif Etika Kristen



     Apakah laki-laki dan perempuan adalah sama? Kalau sama apanya sama? Dan kalau mereka berbeda, apanya yang berbeda? Apakah sifat laki-laki dan perempuan berbeda? Dan kalau berebeda, apakah sebenarnya perbedaan itu menjadi masalah? Untuk memahami  pengertian, konsep dan masalah gender harus  dibedakan pengertian “Gender dan jenis kelamin”.

a. Pengertian Gender

    Seks adalah merupakan jenis kelamin yang ditentukan secara  biologis yang melekat kepada jenis kelamin tertentu yang bersifat permanen dan merupakan ketentuan biologis atau yang disebut “kodrat”. Gender adalah suatu sifat yang melekat pada jenis kelamin laki-laki maupun perempuan yang dikonruksikan secara sosial, cultural dan bahkan ajaran agama, misalnya laki-laki kuat, wanita lemah; rasionalemosional dan lains ebagainya yang akhirnya perbedaan sifat ini dianggap sebagai kodrat yang tidak dapat diubah lagi sementara sifat tersebut, merupakan sifat yang bisa diubah. Pemahaman ini kemudian dihubungkan dengan pekerjaan tertentu yang dianggap sebagai kodratnya sebagai laki-laki dan sebagai perempuan misalnya perempuan diidentikkan dengan pekerjaan rumah, mendidik anak, mencuci dan lain sebagainya yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh laki-laki dan pekerjaan yang bisa dipertukarkan bukan kodrat yang  bisa dipertukarkan bagi satu jenis kelami tertentu. Pemahaman yang demikian mengakibatkan masalah “ketidak adilan”. Dan inilah yang menjadi “masalah gender” perbedaan jenis kelamin seharusnyya tidak membuat masalah. Perbedaan gender tidak menjadi masalah sepanjang tidak menimbulkan ketidak adilan. Kenyataannya mengakibatkan ketidak adilan bagi perempuan maupun bagi laki-laki yang memanifestasi dalam berbagai bentuk misalnya marginalisasi, subordinasi, pelabelan yang negatif, pelecehan tindak kekerasan beban kerja yang tidak adil dan diskriminasi.

b. Tinjaun Etika Kristen terhadap masalah Gender

 Berbicara tentang masalah gender, harus dimulai dengan pengertian manusia, Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah di ciptakannya mereka laki-laki dan perempuan (kej 1:27). Hal itu  menyatakan bahwa keduanya adalah manusia yang mempunyai harkat, martabat dan derajat yang sama, meskipun keduanya mempunyai keberadaan , karakter dan sikap yang berbeda tujuannya adalah untuk  saling melengkapi bukan untuk saling mengeksploitasi.

 Allah menciptakan perempuan sebagai penolong bagi laki-laki, penolong (mitra) yang sejajar. Hal itu berhubungan dengan peran dan tanggung jawab masing-masing khususnya dalam keluarga. Perbedaan peran tidak menyatakan hirarki tinggi rendahnya posisi masing-masing dalam hubungan hak, harkat dan martabat. 

 Kedudukan suami sebagai kepala adalah dalam hubungan perannya sebagai pemimpin keluarga, pemimpin yang megasihi  keluarganya dan bertindak adil, meneladani Kristus. 

 Laki-laki dan perempuan sebagai gambar dan rupa Allah mempunyai  perbedaan yang sangat hakiki, tidak hanya biologisnya, perbedaan itu menyatakan peran yang berbeda itu tidak untuk merendahkan dan martabat dan hak satu dengan yang lain. 

 Perbedaan sifat hakiki dan perempuan sebagai gambar Allah, tidak dapat dijadikan sebagai dasar perlakuan yang tidak adil diskriminatif dan saling mengeksploitasi satu dengan yang lain. Karena segala bentuk perlakuan yang tidak adil, diskriminasi, penindasan, dan eksploitasi tidak dibenarkan menurut etika Kristen. (band Ams 14:2).  

 Perbedaan sifat hakiki dan perempuan sebagai gambar Allah, tidak dapat dijadikan sebagai dasar perlakuan yang tidak adil diskriminatif dan saling mengeksploitasi satu dengan yang lain. Karena segala bentuk perlakuan yang tidak adil, diskriminasi, penindasan, dan eksploitasi tidak dibenarkan menurut etika Kristen. (band Ams 14:2). 

 Makna dan pengertian manusia laki-laki dan perempuan sebagai gambar Allah diangkat diperbaharui dan dikembalikan kembali di dalam dan melalui karya penebusan Yesus Kristus (Gal 3:28). 

 Inilah yang menjadi dasar kita dalam bersikap dan bertindak (etika) terhadap satu dengan yang lain sebagaimana Kristus menerima kita (Roma 15:7). 

 


Posting Komentar untuk "Masalah Gender dalam Perspektif Etika Kristen"