Seksualitas Menurut Etika Kristen

 


Tidak dapat disangkali bahwa masalah “seksualitas” mempunyai peranan yang penting didalam kehidupan manusia, karena manusia diciptakan oleh Allah sebagai “makhluk sosial”. Masalah pergaulan dan berpacaran adalah merupakan masalah yang hangat penting dan relevan dibicarakan dikalangan kawula muda dan yang tidak dapat dipisahkan dengan masalah seksualitas. Kalau Allah menciptakan manusia sebagai “makhluk seksual”, maka sudah sepatutnya dan seharusnya kita memahami seksualitas dengan benar, khususnya dalam pergaulan dan masa berpacaran. Allah menciptakan seks (laki-laki dan perempuan), agar  manusia menikmati keindahan dan kebahagiaan dan untuk itu Allah menciptakan lembaga pernikahan dan menyediakan penolong yang sepadan. Oleh sebab itu setiap orang yang akan memasuki pernikahan harus mengetahui, meyakini bahwa yang akan menjadi pasangan hidupnya adalah yang disediakan dan mereka dipersatukan oleh Allah.  

a. Pandangan salah terhadap seksualitas

Sikap pandangan yang menganggap seks sesuatu yang  kotor, jahat, tidak pantas, dipikirkan dan tabu dibicarakan. Pandangan ini didasarkan selain oleh karena pengaruh kebudayaan, adanya pemahaman bahwa hal jasmani (tubuh) lebih rendah dari hal rohani (jiwa-Roh) sehingga hidup selibat dianggap lebih tinggi dan pada hidup yang menikah. Sikap pandangan yang membicaraan seks dalam konteks dosa bukan dalam konteks sebagai ciptaan Tuhan yang baik. Bahaya penyalah gunaan seks lebih ditonjolkan dan pada kebahagiaan akibat  penggunaan seks yang dilakukan sesuai  dengan rencana Allah. Memang tentang dosa dan penyalah gunaan seks perlu dibicirakan diperingatkan dan perlu diwaspadai tetapi yang terutama dibicarakan adalah bahwa seks merupakan karunia Allah untuk keindahan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Sikap dan pandangan yang menyamakan dorongan seks dan dorongan jasmani yang lainnya seperti rasa haus lapar dan lain-lain yang perlu dipuaskan. Pandangan ini tidak benar karena manusia diciptakan sebagai suatu pribadi (tubuh, jiwa dan roh) yang mempunyai kecerdasan, kesadaran, pertimbangan, dan kemampuan untuk menentukan “the right action in the right time and the right situation” dan perbuatan seks adalah menyangkut seluruh hidup manusia, hal inilah yang membedakan naluri seks binatang (tidak ikatan perasaan, pertimbangan terlibat dalam tindakan sesksualnya)  

b. Pandangan Alkitab mengenai seksualitas

    Berbicara mengenai hubungan laki-laki dan perempuan perlu dimulai dengan  “pengakuan” bahwa seks adalah ciptaan Allah (band kej 1: 27). Selain manusia diciptakan “sebagai makhluk sosial” artinya manusia tidak dapat hidup sendiri dan menyendiri melainkan dalam hubungan (pergaulan) dengan sesamanya (laki-laki perempuan). Manusia diciptakan sebagai makhluk seksual dimana Allah menciptakan jenis laki-laki dan perempuan dengan perbedaan yang sangat hakiki sehingga keduanya saling tertarik (I Love You), membutuhkan, merindukan kehadirannya (I Miss You) dan merasa tidak lengkap tanpa kehadirannya (I Need You).

    Hal ini semakin jelas dalam proses penciptaan manusia (laki-laki dan perempuan) Kej 2:21-24, dimana Allah menciptakan atau mengambil perempuan dari tulang rusuk laki-laki kemudian membawanya kepada laki-laki itu, sehingga dapat berkilau. “waktu inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku....” maka dari mulanya mereka adalah “satu daging” and “belong to each other”. Itulah sebabnya mereka mempunyai dorongan sesksual yang  kuat terhadap satu  dengan yang  lain dan mempunyai keinginan untuk bersatu kembali didalam “satu daging” (one flash) ya  ng diwujudkan dalam pernikahan. Hal ini yang menjadi dasar dan alasan mengapa orang muda berpacaran, yaitu adanya dorongan atau ketertarikan  satu dengan yang lain, oleh karena demikian Allah ciptakannya. Maka seksualitas adalah ciptaan Allah dan merupakan kebahagiaan dari rencana atau maksud Allah bagi kebahagiaan dan keindahan hidup manusia, berarti seks sebagai ciptaan Allah adalah baik, suci, mulia dan merupakan “karunia pemberian” Allah yang sangat berharga kepada manusia yang sepatutnya diterima dengan rasa hormat dan syukur bukan rasa kotor dan malu dan mempergunakannya dengan tidak sembarangan tetapi sesuai dengan rencana Allah yang menciptakannya.  

c. Tujuan Allah Menciptakan Seksualitas

    Tujuan seks diciptaakan Allah tidak dapat dipisahkan dengan tujuan pernikahan  menurut rencana Allah. Dalam pernikahan seks memperkuat, memperdalam dan menentukan keharmonisan dan kesatuan hubungan suami-istri hubungan yang dinyatakan dalam “one flash” merupakan ungkapan cinta timbal balik yang menyatakan hubungan yang paling erat daripada semua hubungan yang lain diantara manusia. Maka hubungan seks diluar pernikahan tidak mempunyai makna yang demikian dan hal itu merupakan penyalahgunaan seksualitas. Dalam pernikahan manusia sebagai pertner Allah untuk menciptakan manusia yang baru (a new being) tetapi perlu ditandaskan bahwa seks tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan anak. Allah mengkehendaki agar anak yang dilahirkan dapat disambut dengan sukacita sebagai berkat dan dapat diasuh dalam kasih sayang orangtuanya. Maka kehamilan dan kelaharian anak sebagai akibat pergaulan bebas akan membawa masalah besar bagi yang bersangkutan. Seks diciptakan oleh Allah untuk kenikmatan dan kebahagiaan dalam hubungan seks yang mewujudkan persatuan dan kesatuan (unity) antara satu laki-laki dan satu orang perempuan didalam wadah pernikahan maka hubungan seks yang diluar wadah yang resmi akan membawa kecemasan, ketakutan, dan dihantui oleh rasa bersalah. Seks diciptakan untuk memuliakan Allah, seks tidak dapat dipisahkan dengan seluruh hidup dalam PL tanda materi perjanjian Allah dengan umatnya adalah pada organ seks (sunat sebagai token atau tanda bahwa seluruh hidup sudah dipersembahkan kepada Allah dan dipergunakan untuk memuliakan Allah) tanda itu juga yang mengingatkan mereka terus menerus bahwa seks adalah pemberian Allah dan harus dipertanggungjawaban kepada Allah. 

d. Pergaulan dan berpacaran  dalam terang firman Allah

    Manusia sebagi makhluk sosial dan seksual menyatakan bahwa didalam  pergaulan orang muda tidak dapat dilepaskan dari kehidupan seksual dan yang mengarah kepada pernikahan. Maka setiap orang muda perlu memahami dan mengetahui sejauh mana batas-batas dalam pergaulan atau berpacaran menurut Firman Tuhan (Etika Kristen) dan bagaimanakah mencari, menemukan, dan menentukan jodoh yang sepadan atau yang  sesuai dengan kehendak Allah. 



Posting Komentar untuk "Seksualitas Menurut Etika Kristen"