Dalam Doa dan Pengharapan: Menyongsong Synode HKI Ke 65 (Sinode Periode)


Menjelang pelaksanaan Sinode Huria Kristen Indonesia Periode 2026–2031 pada tanggal 25–29 Maret 2026, gereja memasuki masa yang penuh makna. Sinode adalah momentum rohani, di mana gereja bersama-sama bergumul dalam doa untuk menentukan arah pelayanan ke depan.

Dalam proses tersebut, setiap hamba Tuhan yang hadir sebagai calon adalah pribadi yang telah melewati perjalanan panjang dalam pelayanan. Salah satu figur yang turut mengambil bagian adalah Pdt. Donald Silaban, S.Th.

Dalam perjalanan pelayanannya, beliau mengusung motto:
“Manghobasi di bagasan Holong dohot parhahamaranggion mardongan barita nauli dohot panuturion ni Tondi ni Debata.”

Motto ini mencerminkan semangat melayani di dalam kasih dan kerendahan hati, berjalan bersama dalam pemberitaan Injil serta tuntunan Roh Kudus. Nilai tersebut menjadi landasan dalam setiap tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya, baik dalam penggembalaan jemaat maupun dalam pelayanan organisasi gereja.

Secara sederhana dapat dipahami sebagai:
Melayani di dalam kasih dan persaudaraan, berjalan bersama dalam pemberitaan Injil serta tuntunan Roh Kudus.

Motto ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan gambaran arah dan cara pelayanan yang diyakini.

Manghobasi (melayani) menunjukkan bahwa inti panggilan adalah pengabdian. Kepemimpinan dalam gereja pertama-tama adalah pelayanan, bukan posisi. Seorang pemimpin dipanggil untuk hadir, mendengar, membimbing, dan menopang.

Holong (kasih) menegaskan bahwa dasar dari setiap tindakan adalah kasih Kristus. Pelayanan tanpa kasih akan menjadi kering, tetapi pelayanan yang lahir dari kasih akan membangun, menyatukan, dan menguatkan jemaat.

Parhahamaranggion (kerendahan hati) berbicara tentang sikap batin. Dalam kehidupan bergereja yang penuh dinamika, kerendahan hati menjadi kunci untuk tetap terbuka terhadap nasihat, kritik, dan perbedaan.

Barita Nauli (Injil/Kabar Baik) mengingatkan bahwa pusat pelayanan tetaplah pemberitaan firman Tuhan. Gereja hidup bukan oleh program semata, tetapi oleh Injil yang diberitakan dengan setia.

Panuturion ni Tondi ni Debata (tuntunan Roh Kudus) menegaskan ketergantungan penuh kepada pimpinan Tuhan. Setiap keputusan, langkah, dan arah pelayanan harus berada dalam terang dan hikmat Roh Kudus.

Melalui motto ini, terlihat bahwa visi pelayanan yang dibawa bukan hanya tentang pengelolaan organisasi, tetapi tentang membangun kehidupan rohani yang berakar pada kasih, kesatuan, dan kesetiaan pada firman.

Pada akhirnya, motto tersebut mencerminkan harapan agar pelayanan gereja tetap:

  • Berpusat pada Kristus

  • Dijalankan dengan hati yang rendah

  • Dipenuhi semangat kebersamaan

  • Dituntun oleh Roh Kudus

Kiranya nilai-nilai inilah yang terus menjadi napas dalam setiap proses pelayanan dan pergumulan gereja ke depan.



Perjalanan Pelayanan di Jemaat

Pelayanan beliau dimulai dan ditempa melalui penggembalaan di berbagai resort, yang menjadi ladang pembentukan karakter dan kepemimpinan rohani.

  • Melayani sebagai Pendeta HKI Resort Sumbul Berampu (Mei 2011 – Mei 2016)

  • Melanjutkan pelayanan di HKI Resort Sibolga (Mei 2016 – April 2021)

  • Hingga saat ini melayani di HKI Resort Hatonduhan (Mei 2021 – sekarang/2026)

Rentang pelayanan tersebut menunjukkan kesinambungan dan konsistensi dalam menggembalakan jemaat. Setiap tempat pelayanan memiliki tantangan dan dinamika tersendiri, yang tentunya menjadi bagian dari proses pendewasaan kepemimpinan.


Keterlibatan dalam Struktur Pelayanan Daerah

Selain pelayanan resort, beliau juga terlibat dalam berbagai tanggung jawab organisasi gereja, antara lain:

  • Sekretaris Daerah HKI Daerah IV DAKOTA

  • Kepala Bidang Marturia HKI Daerah V Sibolga–Tapteng–Tapsel

  • Kepala Bidang Diakonia HKI Daerah I Sumatera Timur I

  • Anggota Majelis Daerah (PAW) HKI Daerah I Sumatera Timur I

  • Ketua BKAG (Badan Kerjasama Antar Gereja) Kotamadya Sibolga

Keterlibatan ini menunjukkan pengalaman dalam aspek marturia (kesaksian), diakonia (pelayanan kasih), serta tata kelola organisasi gereja. Pelayanan tidak hanya terbatas pada jemaat lokal, tetapi juga dalam lingkup yang lebih luas, termasuk kerja sama antar gereja.


Dibentuk oleh Proses dan Keluarga Pelayanan

Sebagai anak dari keluarga yang berakar dalam iman, serta didampingi oleh keluarga dalam pelayanan, perjalanan hidup dan pelayanannya menjadi satu kesatuan yang utuh antara panggilan pribadi dan dukungan keluarga.

Dalam tradisi gereja, kita memahami bahwa kepemimpinan rohani tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui kesetiaan dalam tugas kecil, ketekunan dalam menghadapi tantangan, serta kerelaan untuk terus belajar dan melayani. Nilai kasih, kerendahan hati, dan kesetiaan pada pemberitaan Injil sebagaimana tercermin dalam motto pelayanannya menjadi bagian dari karakter yang terus dibangun.


Menyambut Sinode dengan Sikap Dewasa

Menjelang Sinode 25–29 Maret 2026, marilah seluruh keluarga besar Huria Kristen Indonesia menyikapinya dengan:

  • Doa yang sungguh-sungguh

  • Hati yang terbuka

  • Pikiran yang jernih

  • Komitmen menjaga kesatuan gereja

Setiap calon adalah bagian dari proses yang Tuhan izinkan terjadi. Pada akhirnya, gereja percaya bahwa Tuhan sendirilah yang menuntun dan menetapkan sesuai dengan kehendak-Nya.

Kiranya seluruh perjalanan pelayanan yang telah dijalani menjadi kesaksian tentang kesetiaan, dan seluruh proses Sinode menjadi momentum penguatan bagi gereja Tuhan.

“Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan, maka terlaksanalah segala rencanamu.” (Amsal 16:3)

Soli Deo Gloria 🙏

Posting Komentar

0 Komentar