TINJAUAN ETIKA KRISTEN TERHADAP MAKNA SINAMOT MENURUT ADAT BATAK-KEBUDAYAAN BATAK


  

TINJAUAN ETIKA KRISTEN TERHADAP MAKNA SINAMOT MENURUT

ADAT BATAK-KEBUDAYAAN BATAK

        Untuk memahami makna sinamot menurut adat kebudayaan suku Batak kita perlu memahami pengertian pernikahan menurut adat Batak. Pernikahan menurut adat Batak tidak terdiri hanya 2 pribadi kedua belah pihak keluarga dari yang karena menikah tetapi mencakup fungsi dalihan natolu dan suatu pernikahan dikatakan sah menurut adat Batak jika didasarkan pada dalihan na tolu Prinsip adat Batak tentang pernikahan magodang anak pangolihonon, Magodang Boru pamulion, maka jika anak laki-laki menikah atau mangoli dia memerlukan modal dan untuk itu dongan sabutuha akan bermufakat dan memberikan tumpak sebagai modal atau sinamot dan untuk kebutuhan pesta pernikahan demikian juga seorang perempuan akan menikah atau mangoli, dia memerlukan biaya untuk membeli perlengkapan rumah tangga yang akan dibawa pada saat pesta pernikahan. itulah yang diterima pria laki-laki yang disebut sinamot atau beli maka sinamot dihubungkan dengan pangolihon dan pamulihon.

         Maka pengertian sinamot adalah pemberian sejumlah uang atau barang dari pihak keluarga pengantin laki-laki kepada pihak keluarga pengantin perempuan sebagai modal untuk muli (pergi ke kampungnya) dan keperluan pesta adat pernikahan dari keluarga perempuan. Banyaknya barang yang dibawa pihak perempuan pada saat pesta pernikahan di tentukan besarnya sinamot yang diterima dan jumlah ulos yang akan diberikan pihak parboru juga ditentukan besarnya sinamot yang diterima. Pada saat pesta pernikahan diadakan pihak hula-hula (parboru dan hula-hula, pihak lakilaki) akan membawa beras di tandok, dan memberikan ulos, pihak anak boru dari pihak laki-laki memberikan tumpak berupa uang. Kemudian pihak pengantin laki-laki memberikan uang kepada pihak hula-hulanya. Adat Batak tidak mentoleransi perceraian, karena dianggap suatu aib bagi keluarga terkecuali jika tidak mendapat keturunan atau anak karena tujuan pernikahan menurut adat Batak adalah mendapatkan keturunan (rongkap kabe). Hal ini berhubungan dengan falsafah hidup suku Batak yaitu hagabeon, hasangapon dan hamoraon. Adat Batak juga memberikan ganjaran atau hukuman bagi yang bercerai jika suami menceraikan istrinya maka hilanglah nampaknya dan jika perempuan yang meninggalkan suaminya ia harus membayar sinamotnya dua kali lipat. Jika terjadi masalah dalam keluarga yang menikah maka tidak hanya pihak dongan sabutuha yang akan  menangani (bertanggung jawab) tetapi juga pihak hula-hula dan anak boru. Karena mereka juga sudah terlibat dalam pemberian dan penerimaan sinamot. Maka makna sinamot adalah suatu ikatan yang memperteguh ikatan kekeluargaan, pernikahan dan mencegah dan mempersulit terjadinya perceraian. 

    Maka makna sinamot menurut adat Batak tidak bertentangan dengan etika Kristen, karena makna sinamot bersifat gotong royong, memperteguh ikatan pernikahan dan mencegah terjadinya perceraian. Maka pengertian makna senam perlu dikembalikan, karena pada masa sekarang ini makna senam sudah bergeser kepada istilah "tuhor" berarti jual beli dan "prestise ", bahkan sudah menentukan terjadinya suatu pernikahan.



        



Posting Komentar

0 Komentar